
"Siapa yang bilang kalau kepala bagian marketing itu menyukai seadood? Dia bahkan hampir membuatku nggak bisa makan selama sebulan!"
Wakil direktur perusahaan APC membentak semua orang di ruangan tersebut. Seluruh anggota tim dari perusahaan SW tertunduk malu. Mereka semua pasrah, kontrak kerja sama ini akan di batalkan. Sementara Restu sibuk membersihkan jejak yang ia buat.
"Bagaimana bisa peruaahaan makanan kaleng memiliki pegawai sejorok dia? Sudah pasti makanan mereka tidak higienis!" Pak Wakil Direktur masih terus mengomel sambil mengepalkan tangannya.
Kalisa memperhatikan semua gerak-gerik pria setengah abad tersebut. Keringat dingin mulai bercucuran dari sekujur tubuhnya. Badannya menggigil.
Kalisa tahu, serangan OCD pimpinan tertinggi keduda di perusahaan APC tersebut kambuh.
"Maaf Pak Wakil Direktur, mari saya antar ke ruangan lain," ucap Kalisa.
"Kamu dari perusahaan SW, kan? Mau ngapain lagi kamu? Bikin saya muntah seperti pria itu?" ucapnya.
"Benar, saya dari perusahaan SW. Maaf atas kelancangan saya. Tetapi saya berusaha meredakan masalah ini. Mari ikut saya."
Pria penderita OCD tersebut melihat ke sekeliling. Memperhatikan anak buahnya. Sayangnya tak seorang pun yang mempedulikan dia. Semua sibuk mengomentari sikap Restu.
"Baiklah, kamu mau mengajak saya ke mana?" Napas pria itu semakin tersengal karena dadanya sesak.
Pintu keluar hanya ada satu. Dan akses masih tertutup oleh ceceran cairan hasil fermentasi di pencernaan Restu.
"Lewat sini, Pak," ucap Kalisa.
Wanita muda bersama seorang pelayan berjalan menuju ke sudut ruangan yang tertutup oleh lemari kayu antik. Sang pelayan menggeser lemari tersebut
__ADS_1
Tak disangka, ternyata di balik lemari terdapat sebuah pintu. Ketika akses masuk tersebut dibuka, pandangan mereka langsung dihadapkan pada sebuah ruangan kosong yang putih bersih, dengan aroma ekaliptus yang menyegarkan.
Setelah perusahaan APC mengabari lokasi pertemuan, dengan cepat Kalisa menelepon restoran. Gadis itu meminta disediakan sebuah ruangan kosong, di dekat ruang makan mereka.
Pak Wakil Direktur menenangkan diri di ruangan tersebut seorang diri. OCDnya yang cukup parah, berangsur reda.
"Nak, kemarilah," ucap Pak Wakil Direktur ketika Kalisa hendak meninggalkan ruangan tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Kalisa demgan sopan.
"Duduklah. Siapa namamu?"
"Nama saya Kalisa."
"Umurmu?" tanya Pak Wakil Direktur lagi.
"Sembilan belas tahun? Kamu masih sangat muda rupanya. Sebaya dengan anak kedua saya," gumam Pak Wakil Direktur.
Kalisa mengangguk sambil tersenyum.
"Maaf tadi saya memarahimu. Tapi jujur saja, saya takjub denganmu yang mampu mengatasi OCDku dengan sangat cepat," kata pria paruh baya tersebut.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Kalisa. "Maaf karena sudah mengacaukan meeting penting ini," lanjutnya.
"Kenapa kamu yang meminta maaf? Padahal pria itu yang sudah menghancurkannya," ucap Pak Wakil Direktur masih sedikit emosi.
__ADS_1
"Karena aku lah yang merencanakan semua ini untuk mempermalukannya," ucap Kalisa dalam hati.
"Biasanya Kepala Bagian Marketing kami nggak seperti itu. Tetapi sepertinya hari ini ia sedang kurang sehat. Sedari pagi beliau sudah pucat dan beberapa kali ingin menunda rapat ini," sahut Kalisa.
"Begitu, ya?"
"Sepertinya kami harus terima lapang dada, karena perjanjian kerja sama ini dibatalkan. Padahal semua anggota tim sudah lembur selama satu bulan terakhir untuk mempersiapkannya," ucap Kalisa lagi.
"Kami sepertinya juga harus memikirkan ide baru untuk produksi berikutnya, sebelum gaji dipotong," lanjut wanita muda tersebut.
"Siapa bilang kontrak kerja sama ini dibatalkan?" ucap Pak Direktur.
"Eh? Tapi tadi..."
Kalisa pura-pura terkejut. Padahal memanipulasi pikiran pimpinan perusahaan APC itu, adalah bagian dari rencananya juga.
"Saya bukan membatalkannya. Tetapi cuma belum mengambil keputusan," ucap Pak Wakil Direktur.
"Anda serius, Pak?"
"Tentu saja. Mendengar ucapanmu tadi, aku jadi sedikit merasa bersalah. Tapi lain kali jika kita meeting, jangan bawa pria tadi. Nanti aku akan membuat jadwal ulang dengan direktur kalian."
"Siap! Baik, Pak," ucap Kalisa. "Maaf kalau saya kembali lancang. Tapi saya ada usul," lanjut wanita itu.
"Silakan, beritahu usulmu itu."
__ADS_1
"Bagaimana kalau meeting berikutnya di perusahaan kami saja. Agar Bapak bisa melihat langsung proses produksi makanan frozen dan kalengan dari perusahaan kami," usul Kalisa.
(Bersambung)