
Respon yang sangat heboh ketika aku memberitahukan keluargaku kalau aku hamil. Dan mereka langsung bertanya panjang lebar bagaimana keadaan kandunganku sudah berapa bulan dan lain-lain. Karena aku belum sempat ke dokter kandungan aku hanya tersenyum-senyum mendengat pertanyaan mereka yang banyak banget.
“dek, pokoknya di periksa lho. Di USG dicek ke dokter. Sudah berapa minggu, sehat atau tidak, ada yang kurang atau tidak.” Mama
“iya Ma, nanti sore Aldo pulang kerja langsung anter Chele ke dokter kok.” Rachel
“mudah-mudahan cucu Papa ini laki-laki ya. Tata kasih papa cucu perempuan semua. Hahaha.” Papa
“jangan gitu dong Pa, yang penting kan kita punya cucu. Ga boleh nuntut gitu ah.” Mama
“hahaha” Rachel
“iya iya Ma, maafin deh.” Papa
Sore hari setelah Aldo pulang dari kerja, kita langsung bergegas pergi ke Dokter kandungan tempat biasa kakakku memeriksakan kandungannya juga. Gugup, seneng, deg-degan semua bercampur jadi satu. Tidak pernah membayangkan di perutku ada seorang bayi. Dan nanti aku akan melihatnya melalui USG. Setelah gagal sekali, aku berharap yang ini akan lahir dengan selamat dan menjadi anak pertamaku dengan Aldo.
“nah kelihatan ga? Itu ada sel kecil seperti titik.” Dokter Raissa
“iya dok kelihatan. Itu janinnya dok?” Aldo
“iya betul, usianya sudah 5 minggu. Janin yang sehat, ibunya juga sehat.” Dokter Raissa
“waaa….” Aldo
“nanti 3 minggu lagi datang ke sini ya, untuk pemeriksaan lagi. Berat janinnya, ada masalah atau tidak, jadi biar bisa di tangani dari awal.” Dokter Raissa
“iya Dok, siap. Terimakasih Dok.” Aldo
“iya, selamat ya.” Dokter Raissa
Selama perjalanan pulang ke rumah, aku tersenyum-senyum bahagia melihat foto hasil usg. Janin sebesar kacang ada di dalam perutku. Aku tidak sabar melihatnya tumbuh besar dan merasakan pergerakannya.
__ADS_1
“sayang, kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan ya?” Aldo
“emmm.. kamu pengennya cewek apa cowok yank?” Rachel
“sedikasinya Tuhan sih, kalau dikasi cewek ga apa, nanti biar cantik kayak kamu, kalau cowok biar ganteng kayak papanya. Hehehe. Gimana-gimana?” Aldo
“yee, asik deh kalau gitu, sedikasinya aja ya. Kalau gitu kita jangan tahu jenis kelamin dia sampai dia lahir, gimana? Biar surprise yank.” Rachel
“gitu ya? Terus kita siapin barang-barang bayinya gimana kalau belum tahu dia laki atau perempuan? “ Aldo
“nanti aku cari pakaian yang universal yank, warnanya yang bisa di pakai cewek atau cowok. Tempat tidurnya juga, serba putih, ga perlu beli baju terlalu banyak menurutku sih yank, kan nanti dia bertumbuh, sayang kalau ga kepakai nanti bajunya.” Rachel
“ide bagus yank. Oke deh, aku ikut kamu aja. Tugas aku cari uang yang banyak, dan jagain kamu dan anak kita nanti, biar kalian hidup berkecukupan ga kesusahan.” Aldo
“makasih ya sayang. Kamu emang suami idaman deh.” Rachel
“kamu juga istri idaman sayang. Aku beruntung bisa menikah sama kamu.” Aldo
Setelah kehadiran buah hati di pernikahan kami, hubungan kami semakin erat. Walaupun kami sudah jarang melakukan hubungan suami istri karena dokter menyarankan di trimester awal untuk lebih menjaga dan mengurangi karena masih rawan keguguran. Aku bersyukur Aldo dengan sabar mau menunggu dan mengerti ketika aku mulai agak malas kalau dia meminta jatah. Mungkin bawaan bayi ya.
3 bulan berlalu, usia kandunganku sudah memasuki 4 bulan kehamilan. Perutku sudah mulai menojol, baju-baju juga sudah mulai sesak. Aku mulai membeli beberapa baju hamil tapi yang masih terlihat matching ketika di pakai, tidak seperti yang terlalu ibu-ibu gitu. Maklum, aku masih memikirkan penampilan walaupun sekarang untuk berdandan aku lebih malas, rambut juga mulai rontok akhirnya aku memotong rambutku yang panjang. Dengan izin suami sih, karena sebenarnya Aldo tidak suka kalau rambutnya aku potong sedikit lebih pendek. Karena kata dia perempuan yang berambut panjang itu lebih terlihat aura kecantikannya, daripada yang berambut pendek karena cenderung tomboy.
Selama hamil aku tetap masuk kuliah, selama perutku tidak begitu mengganggu dan aku tidak mual parah. Karena bulan kedua aku mual parah, bahkan sampai bedrest, susah makan, karena sekali makan keluar semua. Sampai harus di beri infus dan vitamin untuk menambah nafsu makanku. Dan menjaga bayinya agar tetap sehat, tapi syukurlah selama aku memeriksakan kandunganku, dokter selalu memberitahukan progress yang bagus. Semuanya normal, berat badan, detak jantung, dan pergerakannya semuanya bagus.
“Chel, perut loe, udah mulai kelihatan ya?” Lala
“oya? Iya sih, udah ga bisa gue sembunyiin lagi. Hahaha.” Rachel
“udah masuh berapa bulan Chel?” Adel
“4 bulan lebih 2 hari.” Rachel
__ADS_1
“wuihh sampai ada 2 harinya segala, lu itungin banget ya. Hahaha.” Adel
“bukan gue yang itung, Aldo yang itung semua, sampai perkiraan kapan lahirnya aja dia tahu kok. Hahaha.” Rachel
“hahaha. Gue seneng banget lihat hubungan kalian Chel, romantic banget. Gue jadi baper kalau lihat kalian. Perasaan jaman dulu Lu yang paling gamau nikah muda kan kayak Renata. Eh malah lu nikah juga. Hahaha.” Lala
“iya ya, gue jilat air liur gue sendiri dong kalau gitu. Hahaha. Btw, Asher mana sih? Kok jarang kelihatan akhir-akhir ini.” Rachel
“biasa lah Chel, pacaran sama pacarnya. Cowoknya dia tu ga mau jauh-jauh dari Asher. Nempel terus kayak perangko, plus cemburuan, bahkan sama cewek juga cemburu tuh cowok.” Adel
“oya?” Rachel, Lala
“iya, Asher pernah cerita gue sambil nangis-nangis, sebenernya dia udah ga betah tapi mau gimana lagi, si cowok yang ambil perawannya Asher, jadi Asher ga mau mutusin dia.” Adel
“huff… Asher2, Cuma karena cowok ya dia kasih semuanya. Padahal belum jadi suami, kalau malah di tinggal gimana coba?” Lala
“iya bener. Dulu ya gue sama Aldo nyaris. Tapi untung gue bisa tegas, gue marah ke dia, gue bilang kalau sampai berani, gue putusin. Terus dia langsung takut, akhirnya ga berani nyasar sampai situ.” Rachel
“oya? Aldo juga gitu Chel?” Lala
“iya, Cuma gue ga cerita ke kalian aja. Malu gue. Hahaha. Itu kita udah sampai dalam lho. Terus gue sadar, langsung gue dorong dia sampai jatuh dari kasur. Untung dia ga maksa, kalau maksa mungkin udah gue laporin ke polisi. Hahaha.” Rachel
“kok bisa dikasur Chel?” Adel
“iya, waktu itu dia lagi sakit. Terus gue tengokin. Eh ternyata sakitnya bohongan. Dia Cuma ga enak badan biasa, ga yang sakit parah. Gue tahu sih dia sengaja, karena setelah nikah dia ngaku, dia taruhan sama temennya, kalau bisa merawanin gue sebelum nikah. Karena gengsi sama temennya akhirnya dia iseng aja coba, siapa tahu kejadian, tapi dia bersyukur untung waktu itu ga sampai terjadi karena kalau sampai terjadi, pernikahan kita akan jadi biasa. karena ya emang sudah pernah melakukan.” Rachel
“serem juga ya cowok tu. Kalau ga kita sebagai cewek tegas dan berani nolak, bisa habis kita.” Lala
“iya bener banget.” Adel
“mudah-mudahan Asher jangan sampai hamil ya.” Rachel
__ADS_1
“iya. Amin Tuhan.” Lala
Memang jadi cewek itu sedikit susah, kita harus pintar-pintar dan tegas sama para pria. Jangan mau di permainkan sembarangan, apalagi sampai memberikan kehormatan kita sebelum pernikahan.