Mengulang Bersamamu

Mengulang Bersamamu
Demam


__ADS_3

Author POV 🌺


seorang wanita berjalan sambil membawa secangkir teh dan sepiring cake cokelat. dia menghampiri seorang pria yang sudah duduk di bangku yang sudah disediakan di toko roti miliknya.


"makasih ya Do, udah mau dateng ke sini." Amanda meletakkan secangkir teh dan cake cokelat tepat di depan Aldo. Aldo tersenyum.


"kamu hari ini ga ke kampus?" tanya Amanda sembari menyunggingkan senyum manisnya.


"ga Man, aku udah lulus, tinggal nunggu wisuda aja." jawab Aldo. dia mengambil cangkir teh, menghirup pelan aroma teh kemudian meminumnya.


"gimana enak?" tanya Amanda dengan wajah penasaran.


aldo mengangguk. "ini teh terenak yang pernah aku minum."


amanda begitu bahagia mendengarkan jawaban Aldo. dia tersenyum cerah. "makasih ya Do. itu aku buat dengan cinta lho."


Aldo memandang Amanda yang begitu berbeda. wanita itu terlihat lebih dewasa. polesan make up tipis di wajahnya, membuat Amanda terlihat sangat cantik.


"kamu jauh-jauh sekolah di Sydney, hanya untuk buat toko roti ini?" tanya Aldo. matanya memandang ke sekitar ruangan itu. dimana di penuhi dengan etalase penuh dengan berbagai macam roti.


"ga Do, aku kan kuliah disana hanya untuk mengikuti keinginan Papa. cari gelar aja."


"Papa kamu ga protes sampai Indo kamu malah jualan roti gini?"


"ga kok, Papa mendukung aja. yang penting aku dapet gelar dari Universitas luar negeri." jawab Amanda.


aldo mengangguk paham. orang tua Amanda sangat menjunjung tinggi pendidikan. yang di inginkan mereka hanyalah anak-anak mereka sekolah setinggi mungkin dan mendapat gelar di universitas yang bagus. setelah itu mereka bebas menentukan nasib hidup mereka. berbeda dengan Aldo yang dari kecilnya sudah di tetapkan untuk melanjutkan perusahaan Papanya.


Aldo mengambil garpu kecil dan mencoba cake cokelat buatan Amanda. dari dulu Amanda memang sangat suka membuat roti. dan semua roti buatannya sangat enak.


Amanda memandang Aldo yang sedang mencicipi cake cokelat buatannya. matanya tak berkedip, berharap Aldo akan menyukai cake buatannya.


Aldo memotong lagi kecil cake itu, dan mencicipinya. "ini enak banget Man. ada rum nya ya?"


"iya aku kasih rum sedikit." ucap Amanda. dia begitu senang melihat wajah Aldo yang sangat excited menikmati cake buatannya.


"kamu emang pinter banget buat roti Man." puji Aldo.


pipi Amanda langsung merona mendengar pujian Aldo. dia sangat menyukai pujian Aldo. pujian itu terasa tulus dan sungguh-sungguh, tidak ada kegombalan didalamnya.


"makasih ya Do. cake itu mau aku jadikan maskot dari toko rotiku ini."


"bagus, ide bagus itu Man. aku yakin banget pasti cake itu bakal laris manis. aku akan jadi orang pertama yang membelinya."ucap Aldo.


Amanda mengangguk semangat. dia tidak pernah salah kembali pada Aldo. pria itu selalu membuat Amanda benar-benar merasa dirinya berharga dengan setiap pujian yang Aldo berikan. Amanda yakin Aldo adalah takdirnya. dan keinginannya saat ini adalah membuat Aldo mencintainya lagi dan melupakan masa lalu mereka.


aldo kembali melanjutkan memakan cake cokelat yang sudah tinggal sedikit itu. dia tidak bohong kalau dia menyukai cake cokelat itu. walaupun Aldo bukan tipe penyuka roti, tapi cake cokelat itu berbeda. cocok di lidah Aldo.

__ADS_1


saat sedang menikmati makanannya. ponsel yang berada di saku celana Aldo bergetar. Aldo merogoh sakunya dan melihat layar ponselnya. nama Rachel muncul di layar ponselnya.


"sebentar ya Man, aku angkat telpon dulu." ucap Aldo kemudian beranjak dari kursinya dan sedikit menjauh dari Amanda. Amanda mengangguk dan tersenyum, mempersilakan Aldo untuk mengangkat teleponnya


"Halo chel."


"...."


"lho kok bisa? benar kan aku bilang. kemarin kamu hujan-hujanan gitu." ucap Aldo


"....."


"ini gimana sekarang? mau ke dokter?" tanya Aldo


"...."


"ya udah, habis ini aku ke rumah kamu."


"....."


"oke." panggilan telepon berakhir. Aldo kembali memasukkan ponselnya ke saku celana dan kembali duduk.


Amanda melihat raut wajah Aldo yang tampak cemas setelah mengangkat telepon.


"telepon dari siapa Do?" tanya Amanda.


"bukan siapa-siapa kok Man. dari temen aja. dia lagi sakit, jadi nanti habis dari sini aku mau jenguk dia." jawab Aldo.


"oya Do, besok sabtu sepupuku ngadain acara makan-makan di rumahnya. dia ngajak aku buat dateng tapi dia minta aku bawa satu temen, biar rame gitu. aku kepikir kamu. kamu ada waktu kah besok sabtu?" tanya Amanda.


Aldo nampak berpikir sejenak. dia mengingat-ingat jadwal mengajarnya.


"ehm. oke bisa, besok sabtu aku free." jawab Aldo.


"asik. oke Do, makasih ya." Amanda tersenyum di ikuti Aldo yang membalas senyumannya..


****


Rumah Rachel


Aldo memarkirkan motornya di halaman rumah Rachel. setelah tadi berpamitan dengan Amanda dia langsung menuju ke rumah Rachel. sebelumnya dia menyempatkan membeli bubur untuk diberikan kepada Rachel.


Aldo masuk ke dalam rumah Rachel. rumahnya nampak sepi, orang tua Rachel masih ada di rumah sakit. hanya ada 2 pembantu yang berjaga di rumah itu.


aldo berjalan masuk ke dalam dapur. mencari Bi Atun kepala ART di rumah itu.


"bi Atun, Bi." panggil Aldo.

__ADS_1


Bi atun yang sedang ada di rumah belakang langsung menghampiri Aldo ketika mendengar namanya di panggil.


"eh den Aldo, ada apa Den?" tanya bi Atun.


"Rachel sakit ya? ini saya bawa bubur, boleh pinjem mangkuk Bi."


"eh iya Den, non Rachel demam. sebentar ya Bibi ambilkan mangkok dulu." ucap Bi atun kemudian berjalan ke arah rak piring dan mengambilkan mangkuk.


"ini Den mangkuknya." bi Atun memberikan sebuah mangkok. Aldo mengucapkan terimakasih kemudian langsung menuangkan bubur panas ke dalam mangkok.


setelahnya Aldo berjalan menuju kamar Rachel sambil membawa semangkok bubur panas. ini pertama kalinya untuk Aldo masuk ke dalam kamar Rachel setelah hampir 2 bulan dia menjadi guru les Rachel.


hampir sampai ke kamar Rachel, dari luar Aldo sudah mendengar Rachel yang sedang batuk-batuk dan bersin. Aldo langsung tersenyum heran.


kemarin udah di bilang jangan hujan-hujanan, sekarang sakit juga kan pikirnya dalam hati, sebal juga melihat Rachel yang keras kepala dan tidak bisa di kasih tahu.


Aldo membuka pintu kamar Rachel. Rachel yang sedang tiduran langsung tersenyum lebar melihat kedatangan Aldo. dia duduk dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kasur. sedangkan Aldo duduk di tepi ranjang Rachel sambil meletakkan semangkuk bubur panas pada pahanya.


tangan Aldo menyentuh dahi Rachel, mengecek suhu badan Rachel.


"masih demam." ucapnya. matanya menatap Rachel dengan tatapan sedikit kesal. Rachel yang sudah tahu kalau dirinya salah hanya bisa tersenyum kecil dan menunduk. dia juga tidak terpikir kalau akan sakit begini.


"ini di makan dulu bubur hangatnya, habis itu obat penurun panasnya di minum ya." ucap Aldo. Aldo menyendok bubur hangat kemudian menyuapi Rachel.


Aldo merasa dejavu. dia teringat saat Rachel keguguran karena kecapekan. Rachel yang keras kepala tidak nurut dengan ucapannya, tetap memilih kuliah padahal sedang tidak enak badan sampai akhirnya dia keguguran.


memang anak ini keras kepalanya ga bisa dirubah ucapnya dalam hati.


Rachel mengulum senyumnya melihat Aldo yang begitu mengkhawatirkan kondisinya. padahal Rachel hanya masuk angin biasa tapi Aldo menganggap Rachel sedang sakit keras.


"kak Aldo imut banget kalau lagi khawatir gitu." ucap Rachel mencubit pipi Aldo. Aldo hanya tersenyum sambil terus menyuapi Rachel. Rachel sangat bahagia, dia ingin sakit terus biar bisa dekat terus dengan Aldo seperti ini. Aldo begitu beda, dia begitu sabar dan hangat.


"aku sayang kak Aldo." ucapnya tiba-tiba. Aldo yang sedang menunduk sedikit tersentak dengan ucapan Rachel. beruntung dia tertunduk jadi Rachel tidak bisa melihat raut wajahnya saat ini.


aldo tidak menjawab apapun, dia hanya terus menyuapi Rachel sampai bubur itu habis. kemudian memberikan satu kapsul obat dan memberikan segelas air minum kepada Rachel. Rachel langsung meminum obat itu.


"makasih kak." Rachel memberikan gelas kosong kepada Aldo.


"udah sekarang kamu istirahat. biar demam kamu segera turun. sebentar lagi kamu ujian tengah semester, jangan sampai sakit." ucap Aldo. Rachel mengangguk, dia membaringkan tubuhnya. Aldo menaikkan selimut, menutupi tubuh Rachel sampai sebatas leher agar tubuh gadis itu tidak kedinginan.


"istirahat ya. beneran tidur jangan main hp." ucap Aldo dengan mata serius.


"siap pak dokter." Rachel terkekeh menjawab ucapan Aldo. Galak tapi lucu.


Rachel memegang tangan Aldo kemudian memegangnya erat, setelah itu dia memejamkan mata dan tertidur.


Aldo hanya diam saja melihat tangannya sekarang yang ada dalam genggaman Rachel. matanya sibuk memandang wajah polos Rachel yang sedang tertidur. walaupun wajahnya pucat tapi tetap terlihat cantik buat Aldo.

__ADS_1


mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rachel tadi. seperti sebuah kode keras buat Aldo. tapi sejujurnya dia belum berani untuk melangkah lebih jauh. dia sudah terlanjur nyaman dengan situasinya saat ini. dimana dia bisa bersama Rachel tanpa takut kehilangan gadis itu.


kepergian Rachel saat itu menjadi trauma yang cukup dalam buat Aldo. membuatnya tidak berani mengambil keputusan besar untuk bersama dengan gadis itu.


__ADS_2