Mengulang Bersamamu

Mengulang Bersamamu
Akhir?


__ADS_3

Seperti biasa pagi itu aku menitipkan putriku ke rumah orang tuaku lagi sebelum aku berangkat kerja. Aku mengecup pipi chubbynya kemudian berpamitan untuk berangkat kerja.


Aku mulai mengendarai mobilku menuju ke kantorku. Saat perjalanan tiba-tiba aku merasa kangen dengan Rachel. Akhirnya aku putar balik dan aku pergi ke rumah terakhir istriku. Di pinggir jalan ada sebuah toko bunga. Aku berhenti sebentar dan membeli sebuket bunga untuk nanti aku berikan padanya. Aku tersenyum melihat sebuket bunga mawar merah yang sekarang sudah ada di tanganku. Rachel sangat menyukai bunga mawar merah. Dan pagi ini aku akan memberikannya, agar dia bisa melihatnya dari surga sana.


20 menit perjalanan aku sampai di rumah terakhir manusia. Aku masuk ke dalam dan memarkirkan mobilku. Ku ambil buket bunga yang aku letakkan di kursi penumpang, dan mulai menghampiri rumah Rachel. Rumahnya sudah lebih bagus, aku membangunnya dengan sangat layak, tidak seperti tempat pemakaman, dan aku sudah membeli tanah disebelahnya, untuk nanti aku beristirahat setelah aku menyusulnya di keabadian.


“hai sayang.” Aldo


Aku meletakkan bunga mawar merah itu ke atas gundukan tanah yang sudah tertutup dengan rumput hijau yang tumbuh dengan subur. Setiap hari aku menyewa orang untuk membersihkan makan istriku. Aku tidak mau melihat makam istriku terlihat kotor dan tidak terawat.


Aku berjongkok dan menatap lama namanya yang terukir di batu nissan.


“apakah kamu pernah berpikir yank, namamu terukir disini?” Aldo (menghela nafas pelan)


“aku ga pernah berpikir kalau kamu akan ninggalin aku secepat ini yank. Tanpa memberikan aku kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan. Tapi kalau aku tahu itu akan terjadi, aku tidak akan membiarkannya. Aku akan berusaha melawan takdir itu, dan membiarkan kamu tetap hidup yank. Tapi sayangnya aku tidak tahu, dan aku tidak bisa melawan takdir.” Aldo


Aku terdiam, dadaku terasa sangat sesak. Mataku terasa panas, air mata sudah terkumpul di kelopak mataku. Tapi aku tetap menahannya supaya air mata itu tidak jatuh. Aku sangat gengsi menangis, walaupun tidak ada siapapun disekitarku, tapi tetap saja aku gengsi.


Lagi-lagi aku tidak bisa melawan rasa gengsiku. Air mata sialan ini lolos begitu saja dari mataku. Bahkan yang ada aku malah terisak. Ah kenapa aku jadi cengeng begini?

__ADS_1


“Tuhan, apa alasanMu mengambil istriku? Apa salahku sampai Kau buat hidupku jadi seperti ini?! apa Tuhan?! apa?!” Aldo


Tanpa aku sadari aku berteriak ke langit dan menantang Tuhan. Aku benar-benar sudah tidak sadar mengatakan hal itu. Aku merasa kecewa pada Tuhan kenapa dia mengambil dengan gampangnya orang yang aku cintai.


Tiba-tiba langit yang tadinya cerah menjadi gelap. Tepat setelah aku berteriak, guntur pun menggelegar. Apakah Tuhan murka dengan ucapanku? Untung saja aku tidak tersambar petir. Petir itu menyambar pohon tepat di depanku sampai terbakar.


Dengan cepat aku langsung berdiri dan meninggalkan rumah Rachel. Aku sungguh ketakutan. Sepertinya Tuhan murka denganku. Aku melangkahkan kakiku dengan cepat keluar dari tempat pemakaman itu. Tiba-tiba langkahku terhenti, aku melihat seorang nenek yang sedang menatapku. Dia berjalan mendekatiku. Tatapannya begitu tajam dan intens.


“anak muda.” nenek


“...” Aldo


‘hah? Darimana dia bisa tahu kalau aku berteriak ke Tuhan tadi?’


“kamu tahu yang kamu lakukan itu salah?” Nenek


“iya saya tahu Nek.” Aldo


“lantas kenapa kamu melakukan itu?” Nenek

__ADS_1


“saya hanya masih belum bisa merelakan kepergian istri saya Nek. Ini terlalu cepat buat saya.” Aldo


Nenek itu tersenyum. “takdir bisa berubah.”


‘hah? Apa lagi maksud nenek ini? Ah sudahlah sepertinya dia sedikit kurang.’


Tanpa menghiraukan nenek itu, aku langsung pergi dan masuk ke dalam mobil. Sedangkan nenek itu masih menatapku sampai mobilku menjauh dari tempat pemakaman. Hatiku menjadi gelisah. Entah itu nenek datang darimana, kenapa dia bisa tahu kalau aku mengumpat kepada Tuhan.


Aku melajukan mobilku cukup kencang, sampai aku tidak sadar kalau itu jalan turunan. Aku menekan pedal rem ku tapi.


“sial! Remnya rusak!” Aldo


Aku panik, sangat panik. Mobilku terus melaju semakin cepat. Tidak mungkin aku akan mati secepat ini, aku bahkan belum sempat minta ampun kepada Tuhan karena aku sudah memakiNya. Di pikiranku hanya ada satu wajah putriku. Jujur walaupun aku ingin menyusul Rachel, tapi aku masih memikirkan nasib putriku. Aku tidak ingin dia menjadi yatim piatu. Ya Tuhan tolong hambaMU ini.


Mobilku benar-benar tidak terkendali. Aku terkejut ketika  melihat ada sebuah sepeda yang berjalan di depanku. Aku membanting setirku. Dan kecelakaan itu tak terelakkan. Dengan cepatnya mobilku menyambar sebuah pohon besar. Aku hanya bisa memejamkan mataku, sampai aku merasakan kepalaku terbentur sangat keras pada kemudi. Dan aku mendengar suara hantaman dan suara kaca yang pecah sangat keras. Aku masih sadar, aku berusaha menggerakkan badanku yang sudah terasa amat sakit. Aku berusaha mengambil ponselku. Tapi tubuhku semakin lemah. Jangan, aku belum ingin mati, putriku masih membutuhkanku. Jangan!


*****


halo Readers, semua cerita ini hanya fiktif belaka ya. imajinasi Author yang terlalu tinggi saja, jadi semua keanehan dan kejanggalan hanya ada dalam cerita saja. 

__ADS_1


selamat membaca ^^


__ADS_2