Mengulang Bersamamu

Mengulang Bersamamu
Firasat


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, tidak sadar usia kandunganku sudah memasuki usia 9 bulan. Perutku sudah tidak bisa disembunyikan lagi, karena sudah sangat besar. Setiap hari aku bisa merasakan pergerakan dari anakku di kandungan. Dia sangat aktif, apalagi ketika papanya mengajak dia ngobrol, dia selalu memberikan respon. Buat jalan sudah sangat susah, akhirnya Aldo memutuskan untuk memindahkan kamar kami ke lantai bawah supaya aku tidak susah naik turun tangga.


Tinggal menghitung hari lagi, sampai waktu itu tiba, aku dan Aldo resmi menjadi orang tua dengan lahirnya anak pertama kami.


“tinggal berapa hari lagi ya yank?” Aldo


“kata dokternya HPL sih 2 minggu lagi, bisa maju bisa mundur, tergantung anaknya pengen dilahirin kapan. Hahaha.” Rachel


“wah, aku udah ga sabar sayang, pengen lihat anak kita, cewek apa cowok ya? Terus mirip siapa ya?” Aldo


“aku maunya kalau dia cowok biar ganteng kayak papanya. Kalau perempuan cantik kayak mamanya.” Rachel


“sayangku, aku sayang banget sama kamu. Kita terus bersama ya, besarin anak kita berdua, terus punya anak lagi, terus kita jadi tua bersama.” Aldo


“iya yank, biar maut yang memisahkan kita ya.” Rachel


Entah kenapa ketika aku mengucapkan kata-kata itu, perasaanku menjadi tidak enak. Tapi aku tidak tahu itu apa. Yang pasti aku ingin menikmati kebahagiaan ini. Kebahagiaan menantikan kelahiran anak pertama kami, anak dari buah cintaku dengan Aldo.


**


Hari kelahiran pun semakin dekat. Aku mulai sibuk mempersiapkan semua persiapan untuk kelahiran anakku. Aku mengambil dua tas yang akan aku bawa nanti ketika ke rumah sakit. Satu tas aku isi dengan pakaianku, sedangkan tas yang lain aku isi dengan perlengkapan anakku. Ini semua ide dari mamaku, jadi ketika nanti kontraksiku terjadi, aku tidak perlu bingung mempersiapkan  semua. Tinggal langsung tenteng aja deh. Hehehe.


“yank, masih sibuk? Kamu jangan terlalu capek yank. Udahan gih istirahat dulu.” Aldo


“bentar yank.. ini udah mau selesai kok. Habis ini aku istirahat. Pinggangku juga udah pegel.” Rachel


“nah kan pinggangnya pegel. Udah-udah jangan diterusin lagi. Nanti suru bibi aja yang beresin semua.” Aldo

__ADS_1


Aldo menarik tanganku dan langsung membawaku ke kamar. Dia memang suami yang sangat perhatian banget sama istrinya. Dan aku bersyukur bisa menikah dengannya. Sekedar informasi setelah aku hamil tua, Aldo memutuskan untuk cuti dari kerjaannya. Dia meminta tolong asisten pribadinya untuk menggantikan posisinya di kantor, sembari dia memantau pekerjaannya dari rumah.


Setelah sampai di kamar, Aldo langsung menyuruhku untuk istirahat. Dengan lembut dia memijat pinggangku yang cukup pegal. Efek membawa perutku yang sudah besar ini. Aku memandang wajah Aldo yang sangat serius memijatku. Sekarang dia beralih memijat kakiku. Makin lama aku makin sayang sama dia. Tiba-tiba air mataku menetes begitu saja membasahi pipiku. Aldo yang melihatku menangis langsung mengusap lembut pipiku, raut wajahnya tampak cemas karena baru ini dia melihatku menangis. Mungkin karena efek hormone kehamilanku, aku jadi sedikit sensitif.


“sayang, kamu kenapa? Kok nangis?” Aldo


Aku menggelengkan kepalaku, sambil memberikan senyum lima jariku.


“ga apa, aku bahagia yank. Aku bahagia bisa sama kamu. Aku pengen selamanya sama kamu.” Rachel


“sayang.. kita bakal selamanya bersama kok. Oke?” Aldo


“he em.” Rachel


Entah kenapa hari itu aku jadi sangat manja dengan  Aldo. Sepanjang hari aku memelukinya dan menciuminya. Sampai dia marah karena aku membuat adiknya terbangun setelah beberapa hari dia tidurkan paksa. Hahaha. Tapi aku tidak peduli, aku ingin menghabiskan waktuku ini bersama dengan suamiku.


“apa yank?” Aldo


“kalau aku meninggal, kamu bakal nikah lagi ga?” Rachel


“yank, kamu kok ngomong sembarangan gitu sih. Aku ga suka kamu ngomong kayak gitu.” Aldo


“hehehe. Kan cuma tanya yank. Jawab dong, nikah lagi ga?” Rachel


“ga, aku ga mau nikah lagi. Istriku ya cuma kamu, ga ada yang lain lagi.” Aldo


“ih masak? Emang adik kamu bisa tahan kalau ga masuk ke gua kenikmatan?” Rachel

__ADS_1


“bisa. Aku buat dia impoten aja, biar ga ada keinginan masuk ke gua.” Aldo


“hahaha. Yank sembarangan aja kamu nih.” Rachel


Setelah berbicara itu Aldo menatapku begitu intens. Entah karena aku salah ngomong atau apa. Matanya terlihat berkaca-kaca. Aku jadi merasa bersalah sudah memberi pertanyaan yang konyol sama dia. Tapi aku juga ga tahu kenapa tiba-tiba aja berpikir ingin bertanya seperti itu.


“yank, kamu nangis ya?” Rachel


“ga.” Aldo


“ih itu matanya ada airnya. Kamu nangis ya? Maafin aku ya yank.” Rachel


“aku ga nangis.” Aldo (memalingkan wajah)


Aldo memalingkan wajahnya dariku, aku tahu betul dia menangis, cuma gengsi aja ya kan di lihat cewek nangis. Dia tuh gengsinya cukup gede kalau kalian tahu. Anti banget nangis di depan cewek. Padahal aku suka aja lho kalau dia nangis gitu, itu berarti kan dia merasa kehilanganku ya kan. Hehehe.


“yank, jangan nangis dong.” Rachel


“yank, jangan tinggalin aku ya. Kamu harus janji jangan tinggalin aku.” Aldo


“hahaha. Ga lah yank, umurku panjang kok. Oke?” Rachel


Malam itu akhirnya kami memilih untuk tidur. Aldo juga sangat ngantuk karena dia semalaman menangis. Gara-gara aku sih dia jadi gitu. Kasihan banget suamiku sayang. Aku mengecup pelan keningnya. Ku tatap wajahnya yang ganteng itu ketika tidur. Aku berdoa ke Tuhan agar aku terus bisa melihat wajah damai itu. Sampai maut memisahkan kami.


 


 

__ADS_1


__ADS_2