
Aldo POV
setelah semalam bertemu Rachel di tempat makan. seharian ini rasanya pikiranku sangat penat. aku baru sadar kalau dulu aku tidak melangkah dengan cepat akan seperti ini jadinya.
aku paham betul Rachel seperti apa. walaupun dia tomboy tapi wajahnya sangat cantik dan menarik. sudah berpacaran denganku saja masih ada cowok yang melirik dia. apalagi sekarang dia terlihat jomblo, aku yakin pasti banyak cowok yang mengantri untuk bisa dekat dengan dia.
ah.. pikiranku sangat kacau sekarang. aku hanya membolak balikkan tubuhku di tempat tidur seperti daging panggang. aku belum mandi, wajahku kacau dan hatiku juga kacau.
aku melirik ke jam dinding ternyata aku sudah sangat lama di kamar. jam sudah menujukkan pukul 3 sore, dan 2 jam lagi aku harus segera sampai ke rumah Rachel untuk pertemuan pembelajaran kami yang pertama.
setengah meloncat dari tempat tidur, aku langsung bergegas untuk mandi. ya seenggaknya aku punya kesempatan untuk dekat dengan dia walaupun hanya sekedar murid Les.
"kamu mau kemana Do?" Mama (melihat Aldo yang sudah berpakaian rapi)
"mau ngajar Ma. hari ini, hari pertama pertemuan dengan murid les Aldo." Aldo
"oya? kamu kok ga cerita sama Mama. makan dulu gih, kamu seharian cuma dikamar." Mama
"nanti deh Ma, malam aja, Aldo belum lapar kok. ya udah Aldo berangkat dulu ya Ma. cup." Aldo
"hati-hati." Mama (setengah berteriak karena Aldo sudah keluar dari rumah)
"dasar anak itu semangat banget, jangan-jangan murid lesnya cewek yang sedang dia incar." Mama
aku langsung mengendarai motorku dan menuju ke rumah Rachel. dan seperti biasa setelah sampai di rumah Rachel aku di ijinkan untuk masuk dan kali ini aku langsung masuk ke dalam ruang kerja ayahnya.
"tunggu di sini dulu ya Den. saya panggil non Rachel dulu." bi Atun
"iya bi, makasih." Aldo
bi atun meninggalkanku setelah mempersilakanku untuk masuk. aku mengambil ponselku dan melihat-lihat medsos sambil menunggu Rachel datang.
beberapa menit kemudian.
"maaf kak, nunggu lama ya? tadi di ajak ngobrol bentar sama Mama." Rachel
aku mengangkat kepalaku, dan mataku terpaku melihat Rachel yang sedang berjalan ke arahku. dia hanya memakai kaos tipis putih yang memperlihatkan dalamannya yang berwarna hitam dan celana pendek yang memperlihatkan paha putih mulusnya itu.
sial pikirku. adikku bereaksi disaat seperti ini. aku masih mengingat setiap lekukan tubuh Rachel. aroma tubuhnya, wangi rambutnya, masih teringat jelas di pikiranku.
__ADS_1
"kak.. Kak Aldo!" Rachel (setengah berteriak)
"hah? ada apa?" Aldo
"kok hah? ayo kak belajar, besok aku ada ujian kimia. kasih aku soal dong, terus ajarin yang aku ga bisa." Rachel
"ow oke." Aldo
aku berusaha menahan raut wajahku. bagian bawahku sedikit kurang nyaman. otak, otak, kenapa di saat seperti ini kamu tidak bisa di ajak kerja sama.
sesuai permintaan Rachel, aku memberikan dia beberapa soal dan dia mengerjakan setiap soal yang aku beri dengan serius. menggemaskan sekali melihat wajahnya yang begitu serius. rasanya aku ingin mencium pipinya.
"udah kak." Rachel
"oke." Aldo
aku mengecek setiap jawaban yang sudah dia tulis. kepalaku hanya bisa geleng-geleng melihat semua jawaban Rachel. hampir sebagian besar jawabannya salah. sebenarnya dia kalau di sekolah memperhatikan guru atau tidak sih. kenapa soal gampang begini masih salah?
"kamu di sekolah ngapain aja?" Aldo
"maksudnya?" Rachel
"lihat nih jawaban mu banyak yang salah, padahal ini gampang lho." aldo (memberikan lembar jawaban yang penuh dengan coretan karena banyak jawaban yang salah)
nih anak bener-bener dah. dia lebih licik dari dugaanku. bukannya tidak enak hati karena di tegur, malah menantang. untung sayang.
mau tidak mau aku menjelaskan semua soal yang aku beri dari awal sampai akhir. sungguh terlalu anak ini. perasaan dulu dia tidak sebodoh ini, kenapa sekarang bisa susah banget ngajarin anak ini. aku sudah hampir kehabisan kesabaran karena dia masih saja tidak mengerti semua yang sudah aku terangkan.
"kak, aku bosen. panas udahan otakku. gimana kalau kita ngobrol aja?" Rachel
"ga, kamu tu bayar aku buat ngajar pelajaran bukan buat di ajak ngobrol." Aldo
"ih pelit amat sih. cuma sebentar aja kok. habis itu belajar lagi. mau ya? ya?" Rachel (memberi puppy eyes)
mana tahan aku kalau dia sudah mengeluarkan puppy eyes -nya. Rachel aku kangen banget sama kamu.
"ya udah mau cerita apa?"Aldo
"yeay.. tanya dong, Kak Aldo udah punya pacar?" Rachel
__ADS_1
"belum." Aldo
"ih masak belum? kak Aldo cakep gitu, bohong ah kalau belum punya pacar." Rachel
"beneran kok. kamu tuh tanya, udah aku jawab kok malah nyolot sih." Aldo
"iya deh sorry. kenapa kok belum punya pacar?" Rachel
"belum ada yang cocok." Aldo
"ow gitu. mau aku cariin ga? temenku banyak yang jomblo lho." Rachel
"kenapa ga kamu aja? bukannya kamu juga masih jomblo." Aldo
' whats? kenapa aku bisa nyeplos begini? '
"hah? hahaha. aku emang masih jomblo sih kak, tapi aku udah ada gebetan." Rachel
"siapa?" Aldo
"kakak kelasku. ya lagi pedekate aja sih." Rachel
"kamu suka sama dia?" Aldo
"ehm dikit. dia tipeku. ganteng, tinggi, macho, baik, hangat. hihihi." Rachel
"oh." Aldo
aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku saat mendengar Rachel memuji tampang cowok itu. entah raut wajahku terlihat seperti apa sekarang. kalau dia peka, dia pasti akan melihat raut ku yang sangat tidak enak ini.
"btw kemarin kamu makan sama temen kamu di nasi goreng kambing?" Aldo
"iya, kok Kak Aldo tahu?" Rachel
"iya aku ada di belakangmu." Aldo
"lho? kok ga nyapa kak?" Rachel
"ga apa, ga mau ganggu orang pacaran." Aldo (menjawab dengan ketus)
__ADS_1
aku memilih untuk diam. Rachel juga tidak menjawab ucapanku lagi. sepertinya dia bisa membaca raut wajahku yang sedang dibakar dengan api cemburu.
sampai selesai bimbingan tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. ketika aku bertanya dia hanya menjawab dengan gelengan atau anggukan kepala. aku pun berpamitan setelah pertemuan kami selesai.