
Aldo POV
Sekuat-kuatnya kau menjaga seseorang untuk tetap ada disampingmu. Hanya satu yang bisa mengalahkannya. Kehendak Tuhan. Dan ini lah yang terjadi dihidupku. Sekuat apapun aku menjaganya untuk tetap disampingku, tapi akhirnya Tuhan mengambilnya. Aku tidak pernah menyangka hari itu akan jadi hari terakhirku bersamanya.
Sekarang aku tidak bisa lagi mendengar suaranya, mendengar setiap ucapan cinta yang dia berikan untukku, setiap pelukan dan ciuman, senyumannya, tawanya. Semuanya sudah sirna. Yang aku lihat sekarang adalah dirinya yang terbujur kaku, dengan wajah pucat, hanya senyum tipis yang menghias wajahnya. Senyuman kebahagiaan karena dia telah berhasil menyelamatkan anak kami lahir ke dunia. Dan dia menukar dengan nyawanya.
Dia adalah istriku, Rachel Conzuela. Hari ini tepat jam 8 malam, dia menghembuskan nafas terakhrinya setelah berjuang melahirkan anak pertama kami. Dia mengalami serangan jantung mendadak, dan itu yang membuatnya meninggal. Tidak ada riwayat apapun, bahkan setiap kali kami memeriksakan kandungan semuanya normal. Tapi kalau sudah kehendak Tuhan, manusia sehebat dan sekaya apapun tidak akan pernah bisa melawannya.
Apa yang aku rasakan sekarang? Aku tidak tahu. Rasanya seperti separuh jiwaku diambil paksa dari tubuhku. Datar. Ya itu yang aku rasakan. Aku tidak bisa menangis lagi, aku cuma bisa mematung. Melihat sekitarku yang nampak histeris setelah mendengar kabar kalau Rachel meninggal.
Rasanya yang aku inginkan sekarang adalah memutar waktu. Aku ingin kembali ke masa-masa dimana aku bertemu dengan istriku. Di sebuah persewaan buku, pertama kali aku melihatnya dan aku langsung jatuh cinta dengannya. Aku ingin kembali ke masa itu. Aku ingin mengulur waktu, membiarkannya menikmati masa mudanya, dan tidak memaksanya untuk menikah denganku. Seenggaknya, aku bisa lebih lama bersamanya. Tapi penyesalan selalu datang terlambat bukan? Terkadang manusia hanya menuruti keingingan nafsu mereka, tanpa memikirkan jangka panjang. Mungkin kalau aku bisa lebih bersabar, aku membiarkan dirinya menikmati masa mudanya tanpa menghamilinya, mungkin ini semua tidak akan terjadi.
“aldo.” suara pria.
Aku mengangkat kepalaku, mentatap seorang pria yang sedang berdiri di hadapanku sekarang,
“gue turut berduka cita ya Do.” Alex
“makasih ya.” Aldo
Pagi ini aku sudah berada di rumah duka di Jakarta. Semua kerabat dekatku sudah berkumpul. Beberapa teman yang mengetahui kabar kepergian istriku juga terus datang silih berganti. Dan aku terus berusaha untuk tetap kuat. Menerima semua ucapan bela sungkawa yang mereka berikan.
Banyak dari mereka yang sangat sedih, karena melihat usia Rachel yang masih sangat muda dan belum sempat melihat bayinya. Bahkan mungkin Rachel belum tahu jenis kelamin anak kami. Ya, anak pertama kami perempuan, dan aku memberikannya nama Chelsea Claurenza. anak kami sangat lucu dan cantik, satu hal yang sangat aku syukuri. Dia sangat memiliki wajah yang mirip dengan ibunya. Dan itu yang akan membuatku terus bertahan untuk tetap hidup dan membesarkannya.
Hampir lima hari Rachel di semayamkan di rumah duka. Dan hari ini aku dan keluargaku akan mengantarnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dengan langkah berat aku membawa tubuhku masuk ke dalam mobil ambulance. Aku duduk di bangku depan bersama sopir ambulance. Di depan kami sudah ada patroli polisi yang akan membuka jalan supaya perjalanan Rachel ke tempat terakhirnya lancar.
Selama perjalanan aku cuma diam. Aku memeluk erat bingkai foto istriku. Tidak pernah terbesit dalam benakku kalau semua ini akan terjadi. Aku selalu membayangkan kehidupan kami yang indah. Kami membesarkan anak-anak kami, tetap mencintai sampai rambut kami memutih dan setelah itu meninggal bersama di usia kami yang sudah lanjut. Tapi kenyataannya dia lebih dahulu pergi meninggalkanku.
1 jam perjalanan akhirnya aku sampai di sebuah kawasan pemakaman. Aku turun dari mobil, beserta rombongan yang mengikuti kami untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Rachel. Peti yang membawa Rachel langsung dibawa ke sebuah tempat yang sudah disediakan untuk jadi rumah terakhirnya.
Suasana duka sangat terasa. Orang tua Rachel dan Renata amat sangat terpukul. Bagaimana tidak anak perempuan mereka meninggal dengan usia yang masih sangat muda. Usia yang seharusnya dia masih bisa merasakan indahnya berkumpul bersama teman-temannya, menikmati dunia kuliah.
Yang aku rasakan saat ini adalah kosong. Aku tidak bisa menangis, aku tidak bisa apa-apa. Pasti kalian yang pernah merasakan kehilangan, rasanya tidak enak bukan? Apalagi kalau yang hilang itu adalah seseorang yang sangat kalian cintai, atau mungkin belahan jiwa kalian. Itu sangat menyakitkan.
Aku mendengar suara tangisan yang semakin histeris ketika Peti Rachel dimasukkan ke dalam tanah, dan mulai di tutupi dengan tanah. Satu-satu dari kami melemparkan bunga. Menatap kosong peti yang sudah hampir sepenuhnya tertutup dengan tanah. Aku melihat Mama mertuaku yang berkali-kali hampir pingsan karena tidak kuat menahan kesedihan. Aku bisa merasakan itu, rasa ketika di tinggal terlebih dahulu seseorang yang dicintai. Apalagi hati seorang ibu, mengandung selama 9 bulan 10 hari, melahirkan dengan bertaruh nyawa, dan endingnya anaknya pergi dahulu menghadap sang pencipta.
“kenapa kamu pergi duluan Chele? Kenapa ga Mama aja yang pergi, kenapa harus kamu?” Mama
Ucapan itu yang terus di ucapkan Mama mertuaku. Sungguh menyayat hati.
__ADS_1
Setelah upacara pemakaman selesai, satu-satu kerabat kami mulai undur diri. Sekarang hanya tinggal diriku dan orang tua Rachel bersama Renata dan suaminya. Aku duduk memandangi gundukan tanah yang ada di depanku. Aku melihat foto Rachel yang kuletakkan tepat di depan batu nisannya. Senyum manisnya membuat aku merindukannya. Ah andai aku bisa mengulang waktu, seharusnya aku paksa dia untuk tidak melahirkan normal. Seharusnya aku ambil kesempatan ketika dokter menawarkan untuk operasi. Mungkin endingnya tidak akan seperti ini. Tapi kenapa penyesalan selalu datang terlambat?
“Do, yuk pulang. Langit udah mulai gelap. Chelsea juga pasti udah nunggu kamu di rumah.” Papa Mertua
“istirahat yang tenang ya sayang, aku berjanji akan menjaga anak kita. Sampai dia tumbuh besar dan menjadi gadis yang cantik seperti kamu. Aku mencintaimu.”
Aku melangkah meninggalkan rumah terakhir Rachel. Isakan tangis masih terdengar dari Mama Mertua dan kakak iparku. Mereka masih sangat terpukul. Sedangkan aku, aku tetap berusaha tegar. Aku laki-laki dan aku tidak boleh cengeng. Aku harus tetap kuat.
“kamu langsung pulang ke rumah Do?” Papa Mertua
“iya Pa. Chelsea juga cuma sama baby sitter, aku ga mau ninggalin lama-lama.” Aldo
“ya udah, kamu hati-hati ya. Sering-sering main ke rumah kalau kamu merasa sendiri.” Papa Mertua
“iya Pa.” Aldo
Kami pun berpisah, aku masuk ke dalam mobil pribadiku. Dan mulai mengemudikan mobilku menuju ke rumahku. Selama perjalanan aku memutar radio. Entah karena penyiarnya sedang mengerti kondisiku atau apa, radio itu terputar lagu westlife - angel.
Sambil menyetir, sambil mulutku mengikuti setiap lirik yang ada di lagu itu. Dan tanpa aku sadari air mataku mulai lolos sedikit demi sedikit dari mataku.
Spend All Your Time Waiting
For a Break That Would Make It Okay
There’s Always some reason
To feel not good enough
I need some distraction
oh beautiful release
memory seeps from my veins
that may be empty
or weightless and maybe
I’ll find some peace tonight
__ADS_1
In the arms of the angel
fly away from here
from this dark cold hotel room
and the endlessness that you fear
You are pulled from the wreckage
of your silent reverie
you’re in the arms of the angel
may you find some comfort here
So tired of the straight line
and everywhere you turn
there’s vultures and thieves at your back
storm keeps on twisting
keep on building the lies
that you make up for all that your lack
It don’t make no difference
escape one last time
it’s easier to believe
in this sweet madness
all this glorious sadness
that brings me to my knees
__ADS_1
Aku melangkahkan kakiku dengan barat, menuju kamarku. Aku buka pintu kamarku, dan pertama kali yang aku lihat adalah. Gelap dan Kosong. Aku mengedarkan mataku, pikiranku membayangkan senyuman orang yang aku sayang tersenyum menyambutku ketika aku pulang ke rumah. Tapi sekarang tidak ada lagi senyuman itu. Aku melangkah masuk, membaringkan diriku di tempat tidur. Mengambil bantal yang dipakai Rachel dan memeluknya erat. Aku masih bisa merasakan aroma wangi rambutnya yang tertinggal di bantal itu. Aku sangat merindukannya, sangat amat merindukannya. Kenapa Tuhan Kau ambil dia dari hidupku? Kenapa Kau biarkan aku menderita kehilangan orang yang aku cintai? Kenapa?