
Aldo POV
Pagi-pagi benar aku bangun dari tidurku, dan bersiap untuk pergi ke sekolah Rachel. Sudah hampir 5 hari ini aku selalu datang ke sekolahnya, dan menunggunya sampai sekolah selesai. Mungkin kalian berpikir aku sangat kurang kerjaan, ya aku memang kurang kerjaan. Tapi aku melakukan itu semua karena aku sangat merindukannya. Dengan aku bisa melihatnya setiap saat, itu sudah seperti obat penawar untukku. Walaupun aku tidak bisa menyentuhnya secara langsung.
Pukul 6 pagi aku sudah sampai di depan sekolah Rachel. Aku sengaja berangkat lebih awal supaya bisa mendapatkan tempat parkir yang nyaman untuk aku bisa memperhatikan dia. Aku sangat yakin Rachel belum datang, karena dia sangat terbiasa datang ke sekolah tepat waktu, alias nyaris terlambat.
1 jam menunggu tidak ada yang aku lakukan. Aku keluar dari mobil, membeli beberapa makanan pinggir jalan yang terjual di depan sekolahnya. Walaupun berasal dari keluarga berada, tapi aku sangat suka membeli cemilan pinggiran seperti ini. Cilok, telur gulung, batagor, terus minumnya es teh manis. Nikmat tiada tara.
Saat sedang asyik menikmati cilok yang aku beli. Datanglah sebuah mobil BMW hitam, berhenti tepat di depanku. Dari dalam mobil itu keluar seorang perempuan, rambut tergerai, memakai tas ransel dengan di taruh di salah satu bahunya, dan berjalan sambil mengusap rambut lembutnya itu kebelakang. Aroma parfume yang dia kenakan saat wangi, sampai tercium di hidungku walaupun jarak kami agak jauh.
Aku tersenyum melihat perempuan itu. Tapi dia tidak menyadari keberadaanku, atau mungkin memang tidak memperhatikanku. Sifat cueknya membuat dia tidak memperhatikan sekitarnya. Dia berjalan dengan malas masuk ke sekolahnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Untung dulu dia sudah berkenalan denganku, aku betul-betul merubah sifatnya yang cukup nakal itu menjadi lebih baik. Sekarang siapa yang merubah dia?
Sambil membawa cilokku, aku mengikuti dia pelan-pelan dari belakang. Tapi langkahku terhenti ketika aku melihat ada seorang cowok yang menghampirinya. Ah.. dia Michael, cowok yang aku lihat di toko buku dan berkenalan dengan Rachel. Sial pikirku. Jangan sampai dia memiliki Rachel, Rachel hanya milikku.
Entah apa yang mereka bicarakan, cowok itu selalu memberikan senyumnya kepada Rachel. Sedangkan Rachel menanggapinya dengan kecuekannya. Beruntunglah aku, sikap cuek Rachel membuatku sedikit tenang, tapi kalau cowok itu mengambil hatinya gimana, dulu saja 2 bulan aku dengan gampang mendekatinya dan mengambil hatinya. Tidak boleh dibiarkan.
Bel sekolah pun berbunyi, itu artinya Rachel pasti sudah masuk ke dalam kelasnya. Ku putuskan masuk ke mobilku dan berangkat ke kampus. Aku harus segera menyelesaikan skripsiku dan segera lulus. Rasanya cukup lelah, karena aku harus mengulang lagi, semua yang sudah aku lewati. Tapi demi aku bisa merubah semua, pengorbanan ini tidak seberapa.
**
Siang hari aku kembali lagi ke sekolah Rachel. Aku memakai topi putihku, karena matahari bersinar terik. dan aku keluar dari mobilku seperti biasa. Beberapa siswa sudah keluar dari gerbang. Aku mencari-cari gadis yang aku cari sedaritadi. Ah.. rupanya dia sedang duduk dengan temannya.
Apa yang sedang mereka bicarakan ya? Sepertinya kedua gadis itu sedang memperhatikanku? Apa ada penampilanku yang salah? Tak berapa lama aku melihat Rachel melangkah mendekatiku, tapi dia menundukkan kepalanya dan sedikit berjalan cepat.
Aku memperhatikan terus gerak geriknya. Rupanya mobilnya sudah datang dan berhenti tepat di depanku. Aku melihat sekilas matanya melirik ke arahku. Dan dengan cepat dia masuk ke dalam mobilnya. Apa yang dia pikirkan? Kenapa sepertinya dia takut denganku? Apa penampilanku mencurigakan? Dengan cepat mobil yang membawa Rachel pergi meninggalkan sekolah.
Setelah Rachel pergi, mataku bertemu dengan Lala salah satu sahabat Rachel. Dia juga sedang menatapku dengan tatapan tidak suka. Setelah itu dia pergi.
“apa ada yang salah denganku? Perasaan aku tidak berbuat sesuatu yang merugikan?”
Karena tidak ada kepentingan lagi di sekolah itu. Aku langsung kembali ke rumahku. Hari ini cukup melelahkan tapi aku bahagia, aku bisa sedekat itu dengan Rachel, bahkan dia melirikku walau hanya sekilas. Itu berarti dia menyadari keberadaanku. Hahaha.
“udah pulang Do?” Mama
“iya Ma, aku laper Ma.” Aldo
“sana makan, Mama udah masak masakan kesukaan kamu tuh.” Mama
“oya? Asik..” Aldo
Sesampai di rumah, cacing dalam perutku sudah meronta minta di isi. Seharian aku hanya memberi mereka makan cilok dan es teh manis. Aku langsung duduk di bangku meja makanku, dan mengambil nasi sebanyak mungkin dan menghiasinya dengan lauk kesukaanku, ayam goreng tepung. Pesta.. pesta.
“pelan-pelan makannya Do, ga ada yang mau minta makanan kamu kok.” Mama
“hahaha. Iya Ma, aldo laper banget. Dan kangen banget sama masakan Mama.” Aldo
__ADS_1
“ngapain harus kangen? Tiap hari juga Mama masakin kamu kok.” Mama
“hehehe.” Aldo
Selesai makan aku pergi ke kamarku. Mataku terasa berat dan aku ingin tidur siang. Rupanya enak juga ya menjadi seorang mahasiswa tingkat akhir begini. Aku bisa tidur siang, entah sudah berapa lama aku tidak bisa tidur siang. Dulu ketika aku mendekati Rachel, aku tidak pernah tidur siang. Karena aku akan selalu menjemputnya pulang sekolah dan mengajaknya makan siang bersama. Setelah itu aku mulai kerja, dan akhirnya aku tidak bisa tidur siang. Hanya di hari minggu saja, itupun kalau Rachel tidak mengajakku pergi.
Aku baringkan tubuhku di kasurku yang empuk. AC yang dingin dan selimut yang hangat membuat mataku semakin berat. Tak sampai lama aku langsung masuk ke alam mimpiku.
“jangan pergi! Aku mohon jangan pergi Chel! Jangan pergi!”
“do, aldo! Kamu kenapa sayang?” Mama
Aku tersentak ketika mendengarkan suara mamaku. Aku langsung bangun dari tidurku. Aku melihat ke sekeliling dan nafasku memburu.
“sayang kamu kenapa?” Mama (sambil mengusap keringat di dahi Aldo)
“ga apa Ma, cuma mimpi buruk aja.” Aldo
“bentar ya, Mama buatin kamu cokelat hangat ya, biar lebih rileks.” Mama
“iya Ma. Makasih.” Aldo
Mimpi itu lagi. Mungkin aku sangat trauma sehingga setiap kali aku tertidur aku selalu memimpikan hal yang sama.
Mataku langsung membulat ketika aku melihat sebuah postingan yang dia pasang.
Di cari guru les.
Untuk mengajar murid SMA kelas X.
semua mata pelajaran.
Yang berminat, bisa DM pribadi. Thx
“dia mencari guru les? ”
Ah iya aku ingat, dulu aku yang selalu mengajarnya jadi dia tidak pernah memakai guru les. Apakah sebaiknya aku mendaftar menjadi guru lesnya? Seenggaknya aku bisa lebih dekat dengannya.
“lagi mikirin apa kamu?” Mama
“ah ga ada Ma.” Aldo
“nih di minum dulu cokelat hangatnya.” Mama
“iya Ma.” Aldo (menegak pelan cokelat hangat)
__ADS_1
“oya Ma, boleh Aldo cari kerja sampingan, sambil nyelesein skripsi?” Aldo
“kamu mau kerja apa? Mending kamu di kantor Papa, sekalian kamu belajar.” Mama
“ehm. Aldo masih agak males Ma, kalau ke kantor. Aldo pengen cari pengalaman dulu di luar sana.” Aldo
“memang apa do?” Mama
“guru les, Aldo mau jadi guru les, ngajar pelajaran anak SMA.” Aldo
“memang kamu bisa?” Mama
“bisa lah ma, Aldo masih inget kok pelajaran SMA dulu. Boleh ga?” Aldo
“silakan. Asal itu kamu senang, dan ga merugikan, lakuin aja.” Mama
“oke Ma.. cup..” Aldo
“kamu nih kalau ada maunya ya, manis banget kayak anak kucing.” Mama
“hahaha. Aldo kan anak mama, bukan anak kucing. Kalau Aldo anak kucing, berarti Mama induk kucing dong. Hahaha.” Aldo
“dasar anak nakal.” Mama (mencubit gemas hidung Aldo)
Yes akhirnya aku bisa mendekati Rachel lagi dengan cara yang berbeda. Oke waktunya take action. Aku mengambil ponselku lagi dan mulai mengirim DM kepada Rachel.
Aldo_Rivann : hey butuh guru les ya?
RachelConz : iya, berminat?
Aldo_Rivann : yups.. bisa mulai kapan?
RachelConz : sore ini, bisa dateng ke rmh gw dulu? Bljrnya bsk. Tp btw, lu bukan org jahat y?
Aldo_Rivann : ga kq, emg kelihatan dri foto profilku klo ak orng jht?
RachelConz : ga sih,, hehehe.. oke deh, ini alamt gw, Bougenville Blok A No. 21
Aldo_Rivann : sipp.. jam 5 ak sampai ke sana..
RachelConz : oke. Thx
Yes! Yes! Akhirnya aku bisa mendekati Rachel lagi. Apakah ini takdirnya? Yang pasti aku tidak boleh salah mengambil keputusan lagi, aku akan memanfaatkan momen ini sebaik mungkin.
Aku langsung beranjak dari tempat tidurku dan dengan cepat masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke rumah Rachel. Sayang, aku sudah sangat merindukanmu.
__ADS_1