
Seperti biasa pagi jam 7 aku sudah bangun dari tidurku. Aldo ? jelas dia masih tidur. Sejak cuti kerja, Aldo lebih susah bangun pagi. Maksimal dia akan bangun jam 9 pagi. Itu pun harus dibangunin dulu, kalau ga, ya molor aja terus sampai siang.
Aku berjalan perlahan sambil memegang perutku. Perutku sudah sangat besar dan kencang, jadi ruang gerakku sudah sangat terbatas. Aku berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi buat kami berdua. Dengan dibantu Bi Minah pelayan rumahku, aku membuat sarapan nasi goreng pagi itu. Makanan andalan pagi hari.
Entah kenapa saat memasak perutku sedikit sakit, tapi aku hiraukan saja, karena terkadang juga sering seperti itu. Karena HPLku juga masih beberapa hari lagi, jadi aku mengira paling hanya kontraksi palsu saja. Aku terus melanjutkan aktifitasku, membuatkan sarapan pagi. Tapi entah kenapa sakit di perutku semakin intens , dan kali ini aku udah benar-benar ga bisa menahannya. Aku meringis merasakan perutku yang kenceng banget, aku berjalan pelan sambil memegang perutku. Rasanya sakitnya bukan main.
“non, non kenapa?” bi Minah
“ga tahu Bi, perutku sakit banget.” Rachel
“apa non mau melahirkan?” Bi Minah
“tapi HPL ku masih semingguan lagi bi.” Rachel
“kayak gitu bisa aja maju non.” Bi MInah
Aku benar-benar sudah tidak tahan, aku bahkan tidak bisa bergerak sama sekali saking sakitnya. Dan aku bersyukur entah ada angin apa, Aldo sudah bangun dari tidurnya dan berjalan ke dapur. Dia melihatku yang sedang duduk di kursi makan kami, sambil menahan sakit di perutku.
“Yank, kamu kenapa?” Aldo
“kayaknya babynya minta keluar yank.” Rachel
“hah?! ayo kita ke rumah sakit yank.” Aldo
“he em.” Rachel
“Bi, tolong ambilin dua tas yang ada di kamar baby ya.” Aldo
“baik den.” Bi MInah
“yank, kamu ganti baju dulu deh. Masak kamu pake piyama tidur ke rumah sakit.” Rachel
“ow iya. Bentar ya, aku ganti dengan cepat.” Aldo
Setelah berganti baju, Aldo langsung membawaku masuk ke mobil. Bi minah membantu kami memasukkan tas yang sudah aku siapkan ke dalam mobil. Setelah itu Aldo mengemudikan mobil, mengantarku ke rumah sakit. Selama perjalanan dia juga menghubungi kedua orang tua kami, untuk menyusul ke rumah sakit.
Rasa sakitnya benar-benar tidak tertahankan. Sakit menstruasi aja udah buat aku menangis, apalagi ini, sakitnya benar-benar 20kali lipatnya. aku cuma bisa diam, dan meremas baju Aldo karena menahan sakit yang sudah 5 menit sekali itu. Aldo terus menenangkan aku dan melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
“yank pelan-pelan aja. Aku ga mau belum sampai rumah sakit, malah kita kecelakaan.” Rachel
“iya sayang. Kamu tahan ya.” Aldo
__ADS_1
“iya, ini juga di tahan kok.. aduhhh..” Rachel
Beberapa menit perjalanan, akhirnya kami sampai di rumah sakit. Dengan sigap Aldo keluar dari mobil dan langsung menuntunku keluar. Para perawat yang berjaga langsung membawakan kursi roda dan memintaku untuk duduk di kursi roda, kemudian membawaku ke ruang rawat. Aldo tidak ikut karena dia harus memarkirkan mobil dan membawa dua tas yang sudah aku siapkan.
Sampai di ruangan rawat, salah satu perawat memintaku untuk berbaring di brankar. Dan perawat yang lain menanyakan siapa nama dokter kandunganku.
“dokter Raissa Sus.” Rachel
“oke, saya panggilkan Dokter Raissa ya. Ning, kamu cek tekanan darah pasien ya, sama detak jantung bayinya.” Tika
“oke.” Nining
Sambil menahan sakit yang udah cukup intens. Aku membiarkan suster yang bernama Nining itu untuk memeriksaku. Dia berkata tekanan darahku sedikit tinggi tapi masih wajar. Detak jantung anakku juga normal. Aku bersyukur dan berharap semua akan baik-baik saja. Aku ingin anakku lahir dengan selamat, begitu pula aku melahirkan dengan selamat.
Tak berapa lama, Aldo datang, dia langsung menghampiriku dan memegang tanganku. Aku sangat bahagia sekali. Aku merasa dia suami yang sangat siaga. Raut wajahnya tampak sangat cemas, tapi dia berusaha untuk kuat dan menyemangatiku.
“pembukaannya udah 4 nih. Mungkin sekitar 7 jam lagi bayinya lahir. Jadi di tunggu ya. Istirahat dulu saja, untuk mempersiapkan tenaga buat persalinan nanti.” Dr. Raissa
“7 jam dok? Apa itu ga terlalu lama dok. Istri saya udah kesakitan gini.” Aldo
“itu hanya perkiraan Pak. Mungkin bisa lebih cepat, tergantung bayinya.” Dr. Raissa
“ga bisa di percepat dok?” Aldo
“yank, aku ga mau operasi yank. Nanti perutku di belah. Nanti bekas deh,” Rachel
“kamu udah kesakitan gini, aku ga tega lihatnya. Operasi aja ya?” Aldo
“ga mau yank, aku ga mau. Aku pengen ngerasain jadi ibu.” Rachel
“lah emang ini kamu ga jadi ibu? Kan juga sama-sama melahirkan.” Aldo
“beda yank, kalau melahirkan normal, feelnya tuh beda.” Rachel
Melihat aku yang keras kepala dan tetap kekeuh ingin melahirkan normal, akhirnya Aldo menyerah. Dokter pun tersenyum dan meninggalkan kami berdua. Dengan sabar Aldo mengusap perutku untuk mengurangi sedikit rasa sakit. Usapan tangannya sangat nyaman, rasa sakit di perutku sedikit berkurang walaupun cuma “sedikit”.
“yank, aku ga sabar lihat anak kita yank.” Rachel
“aku juga yank. Pokoknya kamu harus kuat ya. Aku akan terus di sini mendukung kamu. Oke?” Aldo
“he em.” Rachel
__ADS_1
Agak siang Papa dan mamaku datang bersama orang tau Aldo. Renata juga datang membawa keponakan ku yang paling cantik. Aku merasa bahagia, karena banyak yang mensupport. Papa dan Papa mertuaku terus menguatkan Aldo yang mulai sedikit stress melihatku yang terus merintih kesakitan. Sedangkan Mama menyuapi makan supaya aku punya tenaga untuk persalinan nanti. Entah kenapa aku senang banget bisa melihat mereka. Tiba-tiba terlintas di pikiranku apakah ini hari terakhirku? Apakah aku tidak akan melihat mereka lagi? Aku langsung menepis pikiran negatif itu, aku harus optimis kalau setelah ini aku akan melihat anakku lahir ke dunia. Aku sangat penasaran apa jenis kelamin anakku. Karena sampai sekarang aku dan Aldo belum mengetahui jenis kelamin anak kami.
“ma.. sakit banget perutnya.” Rachel
“bisa sayang, kamu pasti bisa ya.. nanti kalau udah denger tangisan baby kan kamu lega nak. Ya?” Mama
“iya Ma..” Rachel
Hari sudah menjelang sore. Rasa sakit di perutku semakin bertambah parah. Apalagi setelah 1 jam yang lalu aku merasa ada air yang merembes dari bagian sensitifku. Yang ternyata adalah air ketubanku yang pecah. Rasanya semakin ga keruan. Aku cuma bisa nangis dan sesekali aku teriak-teriak karena kesakitan.
“yank, buatnya enak ya. Ngelahirinnya sakit banget.” Rachel
“hehehe. Iya yank. Aku takut hamilin kamu lagi. Takut lihat kamu kesakitan gini lagi.” Aldo
“ih jangan gitu dong yank.. jangan trauma, harusnya kamu bahagia, kamu tokcer berarti bisa buat aku kesakitan gini. Hahaha.. awww..” Rachel
“yank, udah deh, kamu jangan banyak ngomong dulu. Nanti kalau anak kita udah lahir baru kita ngobrol lagi.” Aldo
“aku takut ga bisa ngomong sama kamu lagi nanti yank.” Rachel
“yank, jangan ngomong gitu ah..” Aldo
“hehehe.. canda yank.” Rachel
Walaupun aku cuma bercanda, tapi entah kenapa aku melihat ada raut ketakutan dari wajah Aldo. Seperti dia menangkap sesuatu dari ucapanku. Dia terus mengenggam tanganku dan pandangannya tak lepas dari mataku. Seperti dia berkata jangan tinggalin aku.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dokter Raissa sudah masuk ke ruangan tempat aku di rawat. Dia sudah berkata kalau pembukaanku sudah lengkap, itu artinya sebentar lagi aku akan melihat anakku lahir ke dunia. Walaupun aku sedikit lelah karena menahan sakit cukup lama, tapi ketika mendengar anakku akan lahir, aku mendapat kekuatan ekstra.
Kedua orang tuaku, orang tua Aldo, dan Renata di minta untuk meninggalkan ruanganku. Hanya Aldo saja yang di perbolehkan tinggal untuk menemaniku selama persalinan. Para perawat mempersiapkan semua. Ada yang membawa box bayi. Ada yang membantu dokter Raissa memakai sarung tangannya. Dan ada yang berada di sampingku untuk mendampingiku. Dan pangeranku tetap setia di sampingku, menatapku begitu intens.
“kamu bisa yank, oke, kamu bisa.” Aldo
“he em.” Rachel
Dokter Raissa mulai memberikanku beberapa instruksi untuk aku mengeluarkan bayiku. Dengan seksama aku mendengarkan semuanya. Dan mulailah aku merasakan dorongan yang kuat dari perutku. Aku langsung menarik nafas dan mulai mendorong bayiku keluar. Aku genggam tangan Aldo sekuat mungkin, karena rasa sakitnya amat sangat luar biasa. Maafkan aku yank pikirku dalam hati.
Aku terus mendorong, sampai tiba-tiba aku merasakan ada hujaman yang kuat di dadaku. Seperti ada benda besar yang jatuh tepat di dadaku. Tiba-tiba nafasku terasa sangat berat. Bahkan aku tidak sanggup mengambil nafas. Badanku bergetar, rasanya sakit dari atas sampai bawah. Pandangan mataku mulai mengabur dan pendengaranku mulai sayup-sayup. Aku berusaha melihat Aldo yang terlihat sangat panik melihat kondisiku.
Aku merasa perawat yang disampingku sedang memakaikan oksigen di hidungku. Aku teringat bayiku yang masih ada di perutku. Entah kenapa badanku semakin terasa lemah. Apa aku akan meninggal? Tapi anakku masih di perut dia belum lahir.
Dengan lemah aku mencoba mengggenggam tangan Aldo. Aku berusaha menyadarkan diriku. Karena aku merasa pandanganku semakin mengabur. Aku mengambil nafas dalam-dalam untuk mendorong anakku lahir. Pikiranku hanya satu, aku tukar nyawaku, asal anakku harus lahir ke dunia. Dengan sisa tenaga terakhirku aku mendorong anakku sangat kuat. Aku sudah tidak bisa melihat apapun dan mendengar apapun lagi. Aku cuma bisa merasakan gengggaman tangan Aldo yang begitu kuat. Sampai sayup-sayup aku mendengar suara tangisan bayi yang sangat keras. Apakah anakku telah lahir? Apakah dia sehat?
__ADS_1
Pelan-pelan aku merasakan tubuhku mati rasa. Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Pandangan mataku semakin gelap. Aku merasakan nafasku semakin lemah. Tiba-tiba mataku melihat sebuah slide. Slide yang sangat banyak dan berputar sangat cepat. Aku melihat semua kehidupanku dari aku lahir, ketika aku pertama kali bisa berjalan, aku sekolah, aku bertemu dengan Aldo, aku menikah, dan aku hamil. Tuhan, apakah waktuku telah selesai? Kalau iya, terimakasih Tuhan, Engkau berikan aku kesempatan untuk merasakan memiliki suami sebaik Aldo. Tolong jaga dia Tuhan setelah aku tidak ada lagi disampingnya. dan beritahu padanya kalau aku sangat mencintainya dan aku bersyukur mengenalnya dalam hidupku. Tak terasa semua pandangan mataku menjadi gelap, dan semua menjadi hening.
“RACHEL!!!! bangun Chel! Bangun! Jangan tinggalin aku! Aku mohon yank, jangan pergi! Hiksss…” Aldo