Mengulang Bersamamu

Mengulang Bersamamu
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Tanpa gue sadari gue udah hampir 2 bulan kenal sama Aldo. Gue sering banget pergi sama dia, dan bahkan temen-temen gue udah tahu kalau gue deket sama Aldo. Tiap hari kalau ketemu sama mereka di sekolah pertanyaannya Cuma satu, udah jadian belum sama Aldo. Ya ampun gue Cuma mikir mana mungkin sih Aldo suka sama gue, toh gue masih sekolah sedangkan dia lagi ngurus skripsi dan sebentar lagi lulus kuliah. Gue sih ga pernah mikir apa-apa, gue set hati gue, gue Cuma anggep dia temen baik gue, seperti kakak gue sendiri. Tapi gue ga tahu deh hati dia gimana. Hahaha.


‘Chel, nti mlem pergi makan yuk.. Km ad tugas g?’ Aldo


‘gk ada sih kak, gmn? Mw prgi kmn?’ Rachel


‘emmm… enknya kmn y? tony romas mw g??’ Aldo


‘wow. itu kan tmpat mahal bgt Kak, gk syg duitnya nich?’ Rachel


‘g lah, g mslh kok… hehehe.. ok deh brti bisa y kmu? Ntr mlm ak jemput ya…’ Aldo


‘OKE siap boss. \=))’ Rachel


Ajakan Aldo siang itu membuat gue jadi bingung, tumben banget sih dia ngajak gue makan di restoran yang terkenal mahal banget. Sedangkan dia masih skripsi mana belum kerja uang darimana coba, mau ngajak gue makan di tempat semewah itu. but ya sudahlah ya, dia ngajak gue berarti dia sudah siapin uangnya.


Selesai sekolah gue langsung buru-buru pulang ke rumah, gue sedikit pulang terlambat karena mesti kerjain tugas kelompok. Sampai rumah gue langsung mandi, dan cari-cari baju yang cocok buat ke tempat yang cukup mewah. Ga mungkin gue datang ke sana Cuma dengan kaos dan celana jeans sama sepatu kets, itu malu-maluin banget. Walaupun gue lebih nyaman pakai kayak begituan sih.


Jam sudah nunjuin pukul 17.30. setelah lama berdandan akhirnya selesai juga. Baru kali ini gue memperhatikan penampilan, karena biasa selama ini gue berpenampilan tomboy. Karena menurut gue, tanpa make up aja gue udah cantik kok. Hahaha. Jam 6 nanti Aldo bakal jemput gue. Sembari menunggu di jemput, gue duduk di ruang tv dan ngobrol-ngobrol sama nyokap gue.


“tumben kamu dandan Chel? Mau pergi sama Aldo ya?” mama


“iya Mom, tau aja sih. Hahaha. Jelek ga?” Rachel


“ga lah, kamu tuh cantik. Mama suka malah kalau kamu bisa berpenampilan seperti ini setiap hari.” Mama


“ya ampun Mom, Chele kan masih SMA kelas 1 lagi, masak di suru berpenampilan seperti orang dewasa. Ga banget deh Mom. Ini karena  Aldo mau ajak makan di tempat yang mahal jadinya Chele berpenampilan kayak begini.” Rachel


“hahaha. Aldo suka sama kamu ya?” mama


“hah? Mama kok bisa Tanya gitu sih? Ga lah, Chele sama Aldo tu Cuma temen. Chele udah anggep dia seperti kakak Chele sendiri kok.” Rachel


“Chel, jaman sekarang mana ada sih cowok yang mau deket sama cewek, kalau Cuma sekedar temen baik.” Mama


Obrolanku dan Mama sore tadi membuat gue sedikit galau. Jam 6 tepat Aldo menjemput gue. Malam itu tidak seperti biasanya, penampilan Aldo sangat tampan dan rapi sekali. Dengan memakai kemeja hitam dan celana panjang kain. Dengan diberi sabuk dan jam tangan yang gue rasa itu bukan jam tangan murah. Ya selama 2 bulan berteman dengan Aldo, gue ga pernah Tanya kehidupan pribadinya, dia dari keluarga apa atau gimana. Gue hanya Tanya seputar kuliah dia dan kehidupan dia diluar keluarganya. Karena gue pikir gue bukan siapa-siapa dia, buat apa gue harus Tanya sampai terlalu dalam.

__ADS_1


“Chel, kamu malem ini cantik banget.” Aldo


“oya? Makasih ya kak, kak Aldo juga ganteng. Aku sampai kaget lho, biasa kan Cuma pake kaos, hari ini pake kemeja rapi banget.” Rachel.


“hahaha. Yuk udah siap?” Aldo


“heem. Yuk.” Rachel


Selama perjalanan gue dan Aldo ga banyak bicara, gue merasa ada yang sedang dia pikirkan tapi gue ga tahu apa. Dan lagi juga aneh sih tiba-tiba aja dia ajak gue dinner di tempat yang mewah lagi. Padahal biasa dia lebih suka ngajak gue ke mall, nonton bioskop atau makan di warung tenda. Sederhana banget deh pokoknya, gue ga pernah mikir dia bakal ngajak gue makan di toni romas.


30 menit perjalanan, akhirnya sampai juga di restoran itu. gue cukup shock melihat kondisi restoran itu. sangat mewah dan gue yakin pasti makanan di tempat ini sangat mahal. Walaupun gue berasal dari keluarga mampu, tapi untuk masalah makan, ortu gue sedikit pelit kalau harus dihamburkan begitu saja. Lebih baik uangnya dipakai untuk beli barang atau jalan-jalan keluar negeri.


Pelayanannya sangat oke banget. Satu pelayan mendampingi kami dan mengantarkan kami ke meja makan yang ternyata sudah di reservasi. Gue sangat kaget meja makan itu dihiasi dengan lilin dan bunga di tengahnya. Entah kenapa gue berpikir kenapa suasananya jadi romantic begini ya. Padahal kan Cuma nemeni makan malem aja.


“duduk Chel.” Aldo


“oh iya. Ya ampun Kak, ini ga berlebihan ya. Cuma mau makan malem aja kenapa harus ada lilin-lilinnnya segala.” Rachel


“hahaha. Ga apa biar romantic aja. Sekali-kali kita makan di tempat begini. Kamu pernah ke sini?” Aldo


“ya kalau sekali-kali ga apalah Chel. Hehehe. Aku udah pesenin menu yang paling enak disini. Steak wagyu langsung dikirim dari kobe jepang, setengah matang. Enak banget rasanya. Kamu harus coba ya. Suka kan?” Aldo


“iya aku suka kak, makasih ya.” Rachel


Oke fix gue merasa ada yang janggal dari semua ini. Tapi gue ga tahu juga sih. Selama makan berlangsung. Ada 2 orang pemain biola memainkan lagu di dekat gue. Lagunya bagus banget, gue sampai terlarut karena saking bagusnya. Makanannya juga seperti surge deh, gue yakin harganya juga pasti selangit.


“Chel..” Aldo


“iya kak? Gimana?” Rachel


“kamu suka?” Aldo


“iya suka banget, wagyu nya enak banget Kak, makasih ya.” Rachel


“bagus deh kalau gitu.” Aldo

__ADS_1


Semakin malam, suasana semakin romantic, tapi gue dan Aldo tidak berbicara sepatah katapun. Gue asik menikmati alunan biola, sedangkan


Aldo seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Chel.” Aldo


“iya kak? Kenapa? Kok mukanya gelisah gitu?” Rachel


“emmm...” Aldo


“kenapa Kak? Ada masalah ya?” Rachel


“emmm.. Chel aku mau ngomong sm kamu.” Aldo


“mau ngomong apa Kak? Kok wajahnya serius banget. Aku jadi takut. Hehehe.” Rachel


“emmm… emmm… chel, aku sayang ma kamu.” Aldo


Whats? Rasanya gue seperti tersambar petir waktu denger Aldo bilang kalau dia sayang sama gue. Apa gue mimpi? Atau ini kenyataan.


“aku juga sayang sama kak Aldo kok. Kak Aldo tu temen yang baik banget  buat aku. Hehehe.” Rachel


“ga Chel,  bukan hanya sekedar teman. Tapi aku sayang sama kamu sebagai seorang cowok ke cewek Chel. Aku… aku… jatuh cinta sama kamu Chel.” Aldo


Ya TUhan, apa lagi ini. Aldo menyatakan perasaannya ke gue. Selama ini ternyata dia suka sama gue. Tebakan mama bener, ga mungkin cowok itu ngajak jalan kalau dia ga ada rasa. Oh God, gue harus gimana ini?


“chel, mau ga kita teruskan hubungan ini, sebagai pasangan kekasih?” Aldo


“mmm.. aku kaget banget kak. Hehehe. Aku ga tahu harus jawab apa.” Rachel


“iya ga apa kok Chel, aku memang ga kelihatan ya kalau suka sama kamu. Aku berkali-kali meyakinkan diriku juga. Apakah aku sudah siap untuk semua ini. Dan hari ini aku yakin banget, aku ingin hubungan kita bisa lebih serius lagi. Bahkan kalau Tuhan berkehendak aku ingin kamu jadi istriku. Tapi kalau kamu bingung, aku bersedia menunggu jawaban kamu kok. Seberapa kamu mau jawab, aku akan menunggu.” Aldo


“jujur aku masih shock banget kak. Aku masih ga nyangka kalau bakal di tembak sama Kak Aldo. Boleh ga aku minta waktu 1 minggu untuk berpikir kak?” Rachel


“iya ga apa Chel, aku bersedia menunggu kok. Kapan pun kamu mau jawab, apapun jawaban kamu, aku akan terima dengan senang hati dan lapang dada.” Aldo

__ADS_1


Setelah selesai mengungkapkan perasaannya. Gue di anter pulang sama Aldo. Selama perjalanan kita Cuma diem, suasana canggung terasa amat kerasa. Gue malu banget rasanya, apalagi dia ya sebagai cowok harus mengungkapkan perasaannya. Tapi jujur gue ada perasaaan sama dia. Tapi gue masih takut karena gue bosenan, pacaran saja ga pernah bisa bertahan sampai 6 bulan. Gue takut kalau hubungan gue dan Aldo ga bisa bertahan lama. Apalagi usia gue sama dia terpaut 7 tahun, pasti dia sudah mengharapkan hubungan yang serius. Dia aja pengen jadiin gue istrinya sedangkan gue ga pernah mikir bakal nikah.


__ADS_2