
2 bulan sudah aku menjalani kehidupanku sebagai seorang istri dan juga mahasiswa. Tugas kampus yang banyak membuatku terkadang harus tidur malam, bahkan setelah memberikan jatah ke Aldo, aku masih harus melek dan mengerjakan makalah-makalah kampus. Sampai akhirnya pagi itu aku tidak kuat, pagi-pagi bangun badanku sangat tidak enak, aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutku. Dan semua makanan semalam keluar semua, walaupun tidak banyak.
“sayang, kamu sakit ya?” Aldo
“ga enak badan aja yank, mungkin kecapekan.” Rachel
“iya, tugas kamu banyak banget gitu. Semalam kamu tidur jam berapa? aku sampai ga tahu lho kalau kamu udah tidur.” Aldo
“jam berapa ya? Jam 2 kayaknya yank.” Rachel
“tuh malam banget, jangan tidur malem terus sayang, ga bagus. Mau periksa dokter?” Aldo
“ga usah yank, Cuma meriang aja kok. Nanti juga udah baik lagi.” Rachel
“ya udah hari ini kamu ga usah masuk kuliah dulu ya, kamu istirahat di rumah, oke?” Aldo
“jangan yank, ada tugas yang harus di kumpulin, kalau hari ini aku bolos aku ga dapet nilai, nanti aku harus ngulang lagi untuk mata kuliah ini.” Rachel
“ya ampun sayang tapi kamu kan lagi sakit, jangan di paksain dong. Udah ngulang ya ga apa, yang penting kamu di sembuhin dulu badannya.” Aldo
“ga yank aku ga mau ngulang, udah aku ga apa kok. Nanti selesai kuliah, mata kuliah ini aja, sisanya aku ga ikut. Habis itu langsung pulang istirahat. Oke?” Rachel
“hmm..” Aldo
“yah yank, jangan marah dong. Janji deh habis kumpulin tugas aku langsung pulang. Jangan marah yank.” Rachel
“oke, bener ya langsung pulang? Gitu sampai rumah langsung video call aku, biar aku tahu kamu udah beneran dirumah.” Aldo
“siap boss.. makasih sayangku. Tambah sayang deh sama kamu.” Rachel
(berciuman)
__ADS_1
Karena lagi ga enak badan. Hari itu aku ke kampus dengan di antar sopir, karena paksaan dari Aldo sih lebih tepatnya. Hari itu aku ke kampus dengan menggunakan terusan, karena aku males banget pakai jeans hari itu. bahkan berdandan pun tidak, maklum lagi ga enak badan. Mood pun jadi tidak bagus.
Selama mengikuti mata kuliah entah kenapa perutku sangat tidak enak, seperti orang yang mau datang bulan. Kalau di hitung dari harinya sih seharusnya aku belum datang bulan ya. Akhirnya mata kuliah hari itu selesai sudah. Aku bersyukur sih karena sepertinya badanku tambah tidak enak, kepalaku pusing sekali. Aku berjalan ke depan dan mengumpulkan tugasku.
“chel, lu kenapa?” Adel
“hah kenapa?” Rachel
“Chel, lu berdarah Chel, banyak banget.” Lala
“hah??” Rachel
Aku shock ketika aku melihat kakiku udah penuh dengan darah. Ya Tuhan aku kenapa. Tiba-tiba semua penglihatanku menjadi kunang-kunang. Aku hanya mendengar banyak orang memanggil namaku, setelah itu aku tidak mendengar apapun lagi.
“chel, chel, kamu udah sadar Nak?” Mama
“emmm.. Ma, aku dimana?” Rachel
“hah? Pendarahan?” Rachel
“iya, sudah nak, kamu istirahat dulu ya, di enakin badannya. Ya?” Mama
“iya ma..” Rachel
Aku pendarahan, apa yang terjadi sama aku. Aku melihat Aldo masuk ke ruanganku di rawat tapi dia hanya diam saja. Dengan raut wajahnya yang sedih tapi juga seperti orang yang memendam kemarahan. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mamaku meninggalkanku berdua dengan Aldo, tapi aku merasa suasananya sangat tidak nyaman. Sepertinya dia sangat marah denganku.
“yank, maaf ya.” Rachel
“maaf? aku kan udah bilang kan ke kamu, istirahat di rumah, ga usah berangkat kampus. Kamu malah ngotot aja berangkat kampus.” Aldo
“maaf yank. Aku juga ga tahu kalau sampai kayak gini.” Rachel
__ADS_1
“iya, coba kalau kamu nurut sama aku. Mungkin anak kita ga akan meninggal.” Aldo
“hah? Anak kita? Meninggal?” Rachel
“iya, meninggal. Kamu hamil Chel, dan kamu keguguran, karena kamu menvorsir kuliah kamu. Tugas dan tugas, kamu terus ngerjain tugas. Tapi kamu ga mikirin anak di kandungan kamu.” Aldo
“apa? Aku ga tahu kalau aku hamil yank, aku beneran ga tahu.” Rachel
"iya makanya sekarang aku kasih tahu kamu. tapi udah telat, anak kita udah meninggal dan semua karena kamu yang ga mau dengerin omonganku." Aldo
Ya Tuhan aku hamil dan anakku meninggal sebelum dia sempat melihat dunia. Ga mungkin, ini semua salahku, ini semua salahku. Hari itu aku sangat tertekan, aku ga bisa makan, aku sedih, aku stress. Aku ga pernah tahu kalau aku hamil, kenapa juga aku tidak mengecek tanggal datang bulanku, kenapa aku begitu cuek sampai aku tidak sadar kalau sudah ada benih dari buah cintaku dengan Aldo di rahimku. Aku hanya memikirkan diriku dan tugas kuliahku. Ya Tuhan, maafkan mama Nak, mama sangat egois.
Seminggu berlalu, Aldo dimarahin oleh kedua orang tuanya karena memarahiku. Padahal menurut orang tuanya aku pasti yang lebih terpukul. Ya memang aku sangat terpukul tapi aku tidak menyalahkan dan benci sama Aldo, karena semua yang dia lakukan baik.
Nafsu makanku hilang, aku malas makan kalau tidak dipaksa makan oleh mamaku. Berkali-kali Aldo meminta maaf dan meyakinkanku kalau nanti Tuhan akan berikan kepada kita seorang anak lagi. Aku hanya membalas dengan senyuman, tapi tetap hatiku sakit. Terkadang tiap malam kalau aku melihat foto janin yang keluar dari rahimku yang baru berusia 6 minggu, aku bisa menangis sendiri.
“sayang, sudah ya? Jangan di lihat lagi. Anak kita sudah bahagia di surga. Kita titip pesan aja biar dia bilang ke Tuhan untuk beri kita anak lagi. Ya?” Aldo
“hiks hiks hiks…” Rachel
“lho sayang, sudah jangan tambah nangis dong. Udah ya.” Aldo
“yank…” Rachel
“iya sayang, sudah ga apa ya, nanti kita berjuang lagi, biar kita punya anak lagi ya?” Aldo
“maafin aku yank, maafin aku.” Rachel
“iya sayang, aku ga marah kok, ga ada yang perlu dimaafin ya. Udah jangan nangis lagi.” Aldo
Itulah yang aku suka dari Aldo. Bentuk perhatiannya dan kehangatannya, walaupun dia marah sama aku, tapi dia tidak pernah marah berlarut-larut. Dia mengerti keadaanku yang sangat terpukul karena kehilangan anak pertama kami. Akhirnya malam itu aku bertekad untuk tidak terlalu bekerja keras menyelesaikan kuliahku. Dan untuk memperhatikan daur datang bulanku. Siapa tahu Tuhan percayakan seorang anak lagi kepada kami.
__ADS_1