Mengulang Bersamamu

Mengulang Bersamamu
Hari Tanpamu


__ADS_3

Sudah genap 10 hari Rachel pergi meninggalkanku. Rasanya masih sama. Hatiku masih kosong dan sepi. Aku sengaja menghabiskan waktuku untuk bekerja. Berangkat pagi dan pulang larut malam. Putri semata wayangku aku titipkan bergantian. Terkadang di rumah orang tuaku, terkadang di rumah orang tua Rachel.


Aku hanya memberikan waktu kepada putriku ketika malam hari setelah aku selesai bekerja. Terkadang ketika melihat wajah polosnya, hatiku semakin sakit. Aku semakin merindukan istriku.


“ngelamun lagi Do.” suara Pria dewasa membuyarkan lamunannku.


“eh loe Bert, ada apa?” Aldo


“gue tahu loe masih sedih, tapi paling ga loe harus bisa bagi perasaaan loe Do. Tadi rapat loe ga konsen sama sekali. Banyak klien kita yang komplain tadi.” Gilbert


“sory Bert. Gue tadi emang lagi ga fokus. Tolong sampein sory gue ya ke Pak Andi.” Aldo


“he em. Ya udah gue keluar dulu, banyak kerjaan yang harus gue urus. Awas jangan ngelamun lagi, ntar kesambet setan loe.” Gilbert


“hahaha. Siap siap.” Aldo

__ADS_1


Sejak Rachel meninggal aku emang lebih sering melamun. Ga tahu juga apa yang aku lamunkan. Rasanya hidup segan mati tak bisa. Kenapa tak bisa? Karena aku masih punya tanggung jawab membesarkan dan menjaga putriku. Jangan sampai dia menjadi yatim piatu karena kebodohanku. Aku tidak mau salah mengambil keputusan lagi.


Hari itu aku putuskan untuk pulang lebih awal. Aku langsung melajukan mobilku menuju ke rumah orang tuaku. Chelsea aku titipkan bersama baby sitter -nya di rumah Papa dan Mamaku. Sebenarnya usia putriku masih sangat rentan untuk dibawa keluar rumah. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri di rumah hanya dengan pembantu. Takut kalau sampai anakku dibawa kabur.


Sesampainya di rumah orang tuaku, aku langsung memarkirkan mobilku. Turun dari mobilku dan langsung masuk ke dalam rumah. Aku melihat mamaku yang sedang menggendong putriku di ruang keluarga. Bersama Papaku yang sedang duduk menonton acara TV.


“udah pulang Do?” Papa


“iya Pa. Aku mau jemput Chelsea.” Aldo


“mampir dulu sebentar, makan malam sekalian disini.” Mama


Aku duduk di sofa sambil melihat acara TV yang di lihat Papaku. Tapi lagi-lagi aku melamun. Tatapanku kosong, entah apa yang aku lihat. Orang tuaku berusaha untuk tidak menggangguku. Sampai akhrinya aku tidak kuat, dan aku meluapkan seluruh isi hatiku.


“Pa, Ma, apa Tuhan sayang sama aku?” Aldo

__ADS_1


“lho kamu kok tiba-tiba bilang gitu Nak? Jelas Tuhan sayang sama kamu dong.” Mama


“kalau Tuhan sayang sama aku, kenapa dia ambil Rachel dari aku? Kenapa Tuhan biarin aku sendirian?” Aldo


“aldo, Tuhan tidak akan kasih kita ujian lebih dari kekuatan kita, kalau Tuhan kasih ujian ini, berarti Tuhan tau kamu bisa melewatinya.” Mama


“ini udah lebih dari kekuatanku Ma.” Aldo (hampir menangis)


“kamu kan tidak tahu kekuatanmu sampai mana Do, toh juga sampai sekarang kamu masih bisa menjalani hidupmu kan.” Papa


 Aku tidak bisa menjawab apapun lagi. Toh berdebat seperti apapun. Tetap sama aja kan tidak akan mengembalikan Rachel lagi ke sampingku. Setelah makan malam aku berpamitan dengan orang tuaku. Aku membawa Chelsea putriku kembali lagi ke rumah.


“ranjang kecilnya tolong taruh di tempat tidur saya aja. Kamu boleh istirahat.” Aldo


“baik tuan.” Ajeng

__ADS_1


Selesai mengurus semua keperluan putriku dan memastikan dia sudah lelap dalam tidurnya, aku masuk ke kamar mandi dan langsung membersihkan badanku yang sudah terasa amat lengket.


Setelah mandi, aku berjalan keluar dan melirik sebentar ke tempat tidur putri kecilku. Dia masih terlelap dalam mimpinya. Aku terseyum tipis. Ku belai lembut pipi Chelsea, kemudian ku kecup keningnya. Aku sangat menyayangi putriku. Dia adalah hadiah terindah yang pernah Rachel berikan dalam hidupku dan aku akan menjaganya dengan baik.


__ADS_2