
1 jam perjalanan akhirnya aku sampai di tempat tujuan terakhirku. Aku keluar dari mobilku. Dan melihat sebuah bangunan yang sederhana tapi penuh arti di dalamnya. 5 tahun setelahnya tempat ini sudah hanya tinggal bangunan kosong tak berpenghuni.
Aku melangkah masuk ke dalam dan membuka pintu kayu yang berwarna cokelat. Seorang pria yang merupakan owner dari tempat itu menyapapku dengan ramah.
“hey Do, buku yang mau lu pinjem udah balik. Jadi lu pinjem ga?” Reno (pria pemilik toko buku Aishiteru)
“jadi dong. Nanti ya gue lihat-lihat lagi.” Aldo
“siap.” Reno
Yups benar, pasti kalian sudah bisa menebaknya, tempat terakhir yang akan aku kunjungi adalah tempat awal pertama kali aku bertemu dengan Rachel. Dan hari ini entah kenapa bisa sangat pas, seingatku hari ini adalah hari pertama aku bertemu dengan Rachel waktu itu. Seingatku, bisa jadi aku salah. Mari kita lihat nanti.
Aku berjalan berkeliling dari lorong ke lorong mencari sosok yang aku cari. Tapi tempat itu cukup sepi siang ini. Hanya ada beberapa orang yang berkunjung dan aku tidak mengenal mereka satupun. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu sambil melihat beberapa komik. Sejak menikah aku sudah tidak begitu suka membaca komik. Jadi aku hanya melihat-lihat saja, entah kenapa walaupun tubuhku kembali ke 5 tahun lalu, tapi semua perasaan dan ingatanku tidak ada yang berubah.
Tring! Suara bel pintu berbunyi.
“halo kak Reno, nih bukunya udah selesai aku baca. Oya komik romance yang aku cari beberapa minggu lalu ada?” suara wanita.
“ada dong. Udah aku siapin nih. (menunjuk satu buku di lemari) btw, kamu udah lama ga kelihatan?” Reno
“iya, kakak ku menikah di Bali, jadi aku ke sana sekalian liburan. Hehehe.”
“owh, kapan kamu nyusul?” Reno
__ADS_1
“huee… pertanyaan nya kak? Hahaha. Masih lama, banget. Aku aja baru masuk SMA, masak udah mau nikah.”
“hahaha. Siapa tahu kamu mau nyusul kakakmu nikah muda.” Reno
“ga lah. Amit amit. Hahaha. Mau mikir sekolah dulu kak.”
“hahaha. Siap deh.” Reno
Suara itu, aku kenal banget suara itu. Aku melangkah mendekat ke lokasi yang bisa membuatku melihat sosok itu. Dan..
‘Rachel??’
Sosok itu berjalan mendekat ke arahku. Senyumannya masih sama. Ah Rachel ternyata kamu bukan mimpi, kamu benar-benar ada. Aku sangat merindukanmu sayang. Apa dia mengenaliku? Kenapa dia berjalan ke arahku dan tersenyum? Ya Tuhan kenapa jantung berdebar begini. Langkahnya semakin dekat, dia benar-benar mendekatiku.
“owh, iya silakan.” Aldo
Ternyata dia tidak mengenaliku. Lantas apa ini semua?
“takdir bisa berubah, jangan salah ambil keputusan.”
Aku teringat lagi dengan ucapan nenek itu. Takdir bisa berubah dan jangan salah ambil keputusan, maksudnya apa? Apa selama ini keputusanku mendekati Rachel dan menikah dengannya adalah sebuah kesalahan? Sepertinya benar, karena kalau Rachel tidak menikah denganku, atau menikah muda mungkin dia tidak akan meninggal. Apakah aku bisa merubah takdirku? Aku ingin merubahnya dan melihat Rachel tetap hidup dan bahagia.
Aku terus memperhatikan Rachel, dia membawa beberapa buku dan langsung duduk di sebuah meja. Wajahnya begitu cantik ketika sedang membaca buku. Itulah sebabnya dulu aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Seperti ada aura yang terpancar dari wajahnya dan membuatku jatuh hati. Tapi apakah sekarang aku harus memulai lagi? Atau aku merubah semua? Menjadi orang yang tidak pernah muncul di hidupnya? Tapi apa aku sanggup?
__ADS_1
Akhirnya aku beranikan diri untuk duduk di depannya.
“hey, boleh duduk disini?” Aldo
“eh iya gpp silakan duduk aja.” Rachel
“oke. Thx ya.” Aldo
Aku tetap diam sambil membaca buku. Aku tidak memulai pembicaraan apapun, tidak seperti dulu, aku memulai pembicaraan dan mengajaknya berkenalan. Dia pun juga diam saja dan tetap fokus pada buku bacaanya.
“lu Rachel kan?” suara cowok.
“ahh.. iya, sorry siapa ya?” Rachel
“kenalin gue Michael, kita satu sekolah. Cuma gue kakak kelas lu.” Michael
“ow halo.” Rachel
Siapa cowok ini? Kakak kelas Rachel? Aku ingat, cowok ini yang dulu pernah duduk di sebelah Rachel, tapi karena aku terus mengajak ngobrol Rachel, dia hanya diam saja kemudian pergi. Cowok yang bernama Michael itu duduk di samping Rachel, dan dia mulai mengajak Rachel ngobrol. Dadaku terasa sesak, tanganku mengepal. Cemburu? Iya aku sangat cemburu. Seharusnya aku yang ada di posisi dia saat ini, tapi kenapa aku berada di posisi yang salah.
“sabar do, pelan-pelan, ingat jangan salah ambil keputusan lagi. Lu harus pelan-pelan. Tapi jangan biarin hati Rachel di ambil cowok itu.”
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap diam dan memperhatikan gerak-gerak pria dan wanita yang ada di depanku. Mereka sedang asyik ngobrol, sama seperti waktu pertama kali aku bertemu dengan Rachel. Tanpa aku sadari senyum tipis keluar dari bibirku. Seenggaknya aku bisa melihat Rachel lagi, aku bisa melihat senyumnya lagi, mendengar suaranya, dan mendengar tawanya. Hanya kurang satu, aku belum mendengar ucapan cintanya yang keluar dari mulutnya yang dia berikan untukku.
__ADS_1