
Setelah selesai mengenakan kembali gaun kedua yang berwarna nude,Anis turun kebawah bersama kakak sepupu Nata,dan duduk di luar.
Beberapa tamu sepertinya sudah bersiap untuk pulang.
Mereka menyalami Anis dan memberi ucapan selamat pada gadi yatim itu.
Mereka tahu persis kehidupan Anis sebelumnya,dulu dia hanya seorang gadis kecil yang selalu tertawa riang saat sedang bersama ayahnya,tapi perlahan tawanya itu mulai menghilang ketika dia beranjak dewasa,dia tumbuh dewasa dengan berpura-pura kuat,jarang tertawa bahagia dengan lepas,dan hanya sesekali tersenyum saat sedang bersama adik-adiknya.
Mereka bersyukur,kini Anis menjadi menantu dari tokoh masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka.
..."Anis,hidup yang baik ya nak,semoga Nata bisa menggantikan ayahmu sebagai tulang punggung untuk kamu,dan semoga pernikahan kalian penuh berkah."...
Ucap salah satu ibu-ibu pengajian sekaligus teman dekat Umi Sarrah.
..."Terima kasih banyak bu..."...
...*...
Sudah setengah lima sore,sudah tidak terlihat lagi tamu yang akan datang.
Abi Rahman pun meminta pihak catering dan pengurus dekorasi untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
Karena tidak ingin merepotkan orang lain,Abi Rahman memang sengaja menggunakan jasa catering untuk acara pernikahan anak sulungnya itu.
Paman Anis dan keluarganya pun pamit untuk pulang kembali kerumahnya.
Mereka diminta oleh keluarga Abi Rahman untuk menemui Anis yang sudah masuk kekamar Nata duluan untuk mengganti bajunya.
..."Anis,paman mau pamit pulang dulu ya,kamu yang baik disini,selalu nurut apa kata suami selama itu baik untuk kamu,maafkan paman yang tidak bisa sering-sering menengok kamu..."...
..."Tapi paman sudah diminta untuk nginap disini kan?"...
..."Paman sama bibi tidak bisa menginap nak,besok harus bekerja pagi-pagi sekali."...
..."Ya sudah,maafkan aku ya Bi,paman,sudah membuat kalian repot dan jauh-jauh datang kesini."...
..."Nggak papa nak,kami senang,karena bisa bertemu keluarga yang lain juga disini..."...
..."Iya Bi..."...
..."Oh ya,ayo turun dulu,kami mau berpamitan pada keluarga barumu..."...
..."Oh iya Bi,aku cari jilbab sebentar ya..."...
Anis sudah mengganti baju gaunnya dengan baju gamis miliknya yang tadi diantarkan oleh Umi Sarrah.
Mereka turun kebawah menemui keluarga Nata yang sudah berkumpul diruang tamu.
..."Pak Rahman,Umi Sarrah,nak Nata,saya mau pamit pulang dulu yah,karena besok harus kembali bekerja pagi-pagi sekali."...
..."Apa tidak sebaiknya kalian menginap saja dulu,besok orang kami akan mengantarkan bapak dan ibu pulang..." Sahut Abi Rahman....
..."Tidak perlu repot pak Rahman,karena kami berdua harus bekerja,jadi mungkin harus sampai malam ini juga..."...
..."Baik pak,bu,kalau begitu,supir pribadi saya akan mengantarkan bapak dan ibu pulang ya,tolong jangan menolak,dan ini ada sedikit rezeki untuk anak-anak bapak dan ibu..."...
..."Ya tuhan pak Rahman,kenapa repot-repot seperti ini,saya sudah cukup merasa membebani keluarga bapak dengan menitipkan Anis disini..."...
..."Jangan merasa seperti itu pak,Anis sekarang adalah anak kami juga,dia bukan lagi orang lain yang harus tinggal dipanti asuhan."...
..."Terima kasih banyak pak Rahman,kalau begitu saya pamit dulu pak,bu,semuanya..."...
..."Baiklah pak,mari saya antar keluar..."...
__ADS_1
Mereka mengantar paman dan bibi Anis sampai diteras rumah,dan memandangi kepergian mereka yang diantar oleh orang Abi Rahman.
...*...
Mereka kembali masuk dan duduk diruang tengah,sudah kembali sepi,bahkan keluarga Abi Rahman dan Umi Sarrah pun sudah tidak ada disana,mereka semua orang yang sibuk,jadi tidak bisa berlama-lama apalagi sampai menginap.
Abi Rahman memberi sedikit nasihat kepada Nata sebelum anaknya itu naik kekamarnya.
..."Anakku Nata,Anis sekarang adalah istrimu,baik buruknya dia adalah berkat didikanmu,jika kamu melihat ada kebaikan didalam dirinya,bersyukurlah,dan jika ada yang tidak kamu sukai darinya,ajarkan lah dia menjadi orang yang lebih baik..."...
..."Baik Abi..."...
..."Menantuku Anis,sekarang Nata adalah suamimu,dia adalah pemimpinmu sejak hari ini,apapun yang dia perintahkan,dan selama itu adalah kebaikan,maka dengarkanlah,jika ada yang tidak kamu sukai darinya,beri tahu dia,dan jika ada sesuatu yang sangat kamu sukai darinya,syukurilah..."...
..."Baik Abi..."...
..."Mungkin Abi belum cukup baik untuk menasihati kalian lebih banyak,tapi Abi yakin,Nata sebagai seorang guru agama,sudah pasti lebih banyak memahami apa saja hak dan kewajiban suami istri."...
Nata dan Anis mengangguk paham.
..."Kalau begitu ayo kita makan malam dulu,dan melaksanakan sholat isya berjamaah dimushola,anak-anak pasti sudah menunggu..."...
Mereka makan dengan tenang dimeja makan,lima dari enam kursi didepan meja makan itu kini sudah terisi.
Umi Sarrah tersenyum bahagia melihat Nata dan Anis yang duduk bersebelahan.
Meski ada rasa takut didalam hatinya,bagaimana jika anak sulungnya itu tidak bisa membahagiakan Anis,tapi Umi Sarrah tetap berusaha menutup rasa takutnya itu dengan senyuman.
Setelah selesai makan,Anis segera bersiap mengangkat semua piring kotor disana,tapi Nata mendahuluinya.
Anis hanya bisa kaget melihat suaminya itu.
..."Anis,tidak usah kaget,dia memang sering seperti itu..." Sahut Umi Sarrah....
..."Umi...Aku mau pindah kamar kebawah aja..." Tiba-tiba Nita adik perempuan Nata merengek pada Uminya....
..."Nita,kamu ini kenapa,bukannya dari dulu kamu suka disamping kamar abang kamu,karena bisa sekalian belajar..."...
..."Tapi sekarang abang sudah berdua,bisa aja mereka bikin aku iri..."...
..."Ya allah,kamu ini ada-ada saja Nita,kamu itu masih kecil,nggak usah mikir aneh-aneh..."...
..."Aku sudah besar Umi..."...
Anis tertawa melihat tingkah manja adik Nata itu.
Adik Nata yang lebih muda empat tahun darinya itu hampir selalu membuat Anis merasa iri.
Karena Anis anak tunggal,dia tidak memiliki adik maupun seorang kakak.
Dan kehilangan seorang ayah diusia remaja itu adalah hal terberat didalam hidupnya.
Dia kehilangan pegangan saat dia sedang membutuhkan.
Kini dia menjadi istri dari Nata,dan berharap Nata akan menjadi pengganti ayahnya,meski dia tidak tahu,entah kapan harapannya itu menjadi kenyataan.
Anis mencuci piring yang sudah berada ditempat pencucian piring.
Nata sudah meninggalkan dapur setelah membantu Uminya membereskan meja makan.
...*...
Anis sudah selesai mencuci piring ketika Adzan isya berkumandang.
__ADS_1
Dia buru-buru membersihkan tangannya dan berlari keluar rumah,sementara yang lain sudah menunggunya didepan.
Nata menatap baju Anis yang basah karena mencuci piring.
Tapi untuk menggantinya sudah pasti tidak sempat,jadi mereka membiarkannya.
...*...
Setelah melaksanakan shalat,Anis bersama adik-adiknya masuk kedalam panti asuhan.
..."Anis,kamu mau kemana?" Seru Ibu Lastri....
..."Eh ibu,aku mau ambil handuk dan yang lainnya bu dikamar aku..."...
..."Oh iya,ibu pikir kamu lupa dimana tempat kamu sekarang,hehehe..."...
..."Tapi aku suka disini sama anak-anak bu..."...
..."Anis sayang,kamu sekarang sudah jadi istrinya Nata,jadi tempat kamu bukan disini lagi,kamar kamu sudah lebih baik,dan juga ibu doakan, semoga kehidupan kamu akan segera membaik juga."...
..."Terima kasih bu..."...
Saat mereka tengah mengobrol,Nata muncul dibelakang mereka dan memberi salam.
..."Assalamualaikum semuanya..."...
..."Eh walaikumsalam pak Nata,kok pak Nata malah ikut kesini juga..." Sahut ibu Lastri....
..."Emh iya bu,tadi Umi bilang,Anis kesini,jadi saya disuruh bantuin Anis bawa barangnya."...
..."Oh iya iya pak,silakan..."...
Ibu Lastri dan anak-anak yang lain meninggalkan mereka berdua didepan kamar Anis.
Anis membuka pintu kamarnya,setelah berada didalam,barulah Nata menyusul masuk.
..."Apa yang harus saya bawa...?"...
..."Maaf pak,tapi sebenarnya saya bisa sendiri,karena barang saya tidak banyak..."...
..."Dimana pakaian kamu..."...
..."Disini pak,tapi belum dirapikan..."...
..."Nanti saja dirapikan,masukan saja dulu kedalam tas kamu..."...
..."Baik pak..."...
Anis dengan telaten memasukkan beberapa lembar gamis dan jilbab miliknya kedalam tas miliknya yang mulai usang.
..."Apa hanya itu pakaianmu?"...
..."Iya pak..."...
..."Ya sudah,kalau begitu saya duluan..." Nata mengangkat pakaian Anis yang bahkan bisa dia hitung dengan dua puluh jari itu....
..."Baik pak..."...
Anis membawa kotak kecil miliknya yang berisi beberapa lembar foto kecilnya bersama ayah dan ibunya.
Kini kamar kecil yang dia tempati sejak umurnya masih tiga belas tahun sudah kosong,dan mungkin akan dihuni oleh adik-adiknya...
...🌷🌷🌷...
__ADS_1
^^^"Bersambung..."^^^