
..."Nataaa..." Seru Umi Sarrah dengan suara tertahan,karena takut membangunkan semua penghuni panti yang sudah terlelap sejak tadi....
Abinya benar-benar tidak menduga kejadian seperti ini akan terjadi pada anak pertamanya yang selalu taat pada ilmu dan orang tuanya itu.
Kedua anak muda itu kaget dan langsung berdiri melihat kedatangan orang yang sangat mereka hormati itu.
..."Nata,apa yang kamu lakukan?"...
..."Umi,aku tidak melakukan apa-apa,kami berdua hanya terkunci disini,karena aku kasihan sama Anis,makanya aku selimuti dia pakai sarung aku,tapi aku juga malah kedinginan..."...
..."Nata,diamlah dulu,jelaskan nanti didalam rumah,dan Anis,kamu ikut kami..."...
..."Ba-baik A-Abi..."Anis sangat takut karena melihat tatapan marah Abi Rahman....
..."Umi,tapi..."...
..."Nata,diamlah,suaramu akan membangunkan semua orang disini,apa kamu mau membuat Umi dan Abi malu..."...
Abi dan Uminya berjalan lebih dulu,Nata dan Anis mengikut dibelakang mereka.
Anis sama sekali tidak menduga,kenapa pula Nata harus melakukan sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri.
Sampai dirumah,Abi dan Uminya mengajak mereka berdua masuk kedalam ruang kerja Abinya,karena Uminya tidak ingin Nita mendengar keributan tengah malam yang disebabkan oleh abangnya itu.
..."Nata,kamu harus menikahi Anis..."...
..."Tapi Umi,kita tidak melakukan apa-apa,aku tahu batasan yang harus aku lakukan."...
..."Tapi Abi tidak percaya pada laki-laki muda yang seusia kamu bisa menahan diri saat kamu berduaan dengan seorang gadis..."...
..."Tapi,pak Nata benar-benar tidak melakukan apa-apa Abi..."...
..."Bagaimana kamu tahu Anis,Nata bahkan tidur bersandar di bahumu,apa kamu menyadarinya?"...
Anis menggeleng karena memang dirinya tertidur lebih dulu.
..."Siapa yang tidur lebih dulu...?" Tanya Umi Sarrah....
..."Saya Umi,setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi,karena perut saya lapar,jadi saya takut untuk bangun."...
Abi dan Umi Nata hampir saja tertawa mendengar kepolosan Anis.
Tapi karena sedang marah,maka mereka menunda untuk tertawa.
..."Nata apa kamu yakin tidak melakukan apa-apa?"...
..."Tidak Umi,aku hanya menyentuh tangannya sebentar,saat aku membenarkan sarung saat menyelimuti kaki kami..."...
..."Tapi kenapa sampai bersandar di bahu seorang gadis yang tubuhnya bahkan lebih kecil dari kamu?"...
..."Aku tidak sengaja Umi,bagaimana bisa ada orang tidur yang menyadari kelakuannya."...
..."Kamu ini,mentang-mentang jadi guru,jadi menjawab seperti seorang guru pada orang tuamu..."...
..."Umi,bukan itu maksudku..."...
..."Lalu,kamu pasti tidak menyadari kalau tangan atau kakimu itu bisa saja kemana-mana saat kamu tidur nyenyak kan?"...
..."Umi,aku lapar..."...
..."Nata,jawab dulu pertanyaan Umi..."...
..."Iya Umi,aku nggak sadar,tapi bukannya untuk melakukan hal aneh,harus dalam keadaan sadar..."...
__ADS_1
Abinya kembali angkat bicara.
..."Apapun jawaban kamu,Abi tetap mau kamu menikahi Anis,dengan begitu kamu tidak terlihat seperti laki-laki yang merendahkan perempuan."...
..."Tapi Abi,aku merendahkan bagaimana?"...
..."Yah kamu tidak menjaga diri kamu,untuk tidak mendekati Anis,kalau kamu memang kasihan sama Anis,ya sudah,biarkan sarung itu dipakai Anis sendirian,dan kamu harus rela menahan dingin,agar tidak membuat kesalahpahaman,kamu sudah tidak sengaja menyentuh dan bersandar di bahunya saja sudah berdosa bukan?"...
..."Abi,kasih aku waktu untuk berpikir,aku benar-benar tidak sengaja..."...
..."Abi akan beri kamu waktu satu minggu,pikirkan kesalahanmu baik-baik..."...
..."Baik Abi..."...
..."Anis,apa kamu siap dengan keputusan kami?"...
..."Saya tidak tahu Abi..."...
..."Abi rasa,kamu harus tetap menerima keputusan dari keluarga kami,agar kamu bisa menyelamatkan diri kamu dari segala fitnah,bagaimanapun usia kamu juga sudah cukup untuk menikah,dan anak pertama saya ini bisa saja melakukan hal yang lebih jika hal seperti ini terjadi lagi,dan untuk menjaga kalian dari dosa yang lebih besar,Abi benar-benar ingin kalian menikah lebih cepat."...
Baik Nata maupun Anis,tidak ada yang berani menjawab lagi.
Mereka akhirnya hanya diam seribu bahasa sambil terus menahan rasa lapar yang membuat mereka kesulitan untuk berpikir.
Perut Anis kembali berbunyi.
Membuat Umi Sarrah tidak tega melihat anak gadis itu terus memegangi perutnya.
..."Ya sudah,ayo makan dulu,ini sudah larut malam,pasti kalian kelaparan karena terlambat makan..." Ajak Umi Sarrah kedapur....
Nata dan Anis mengikuti Umi Sarrah menuju dapur,mereka duduk berhadapan di depan meja makan,sambil menunggu Umi Sarrah menghangatkan makanan.
Sudah pukul dua belas malam,tapi mata mereka sama sekali tidak mengantuk karena mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
..."Silakan makan,lalu kembali kekamar kalian masing-masing,dan pikirkan baik-baik tentang permintaan Abi."...
..."Umi akan tunggu kalian diruang tengah,makanlah yang banyak..."...
Mereka makan dengan lahap,tanpa berani memandang satu sama lain.
Nata yang sudah berusia tiga puluh tahun itu,merasakan perasaan aneh menghampiri dirinya,yang membuatnya tidak bisa berkata-kata.
Anis menghabiskan makanannya terlebih dulu,dan segera menuju tempat pencucian piring untuk mencuci bekas makannya.
Belum selesai mencuci,Nata menyusulnya untuk memberikan piring kotor miliknya.
Anis menyambutnya tanpa bersuara.
Nata meninggalkannya disana.
Menemui Uminya didepan.
..."Umi,kenapa belum tidur...?"...
..."Umi nunggu kalian..."...
..."Oh ya Abi mana?"...
..."Sudah tidur,mungkin Abi lelah,ditambah lagi kaget melihat kamu tadi..."...
..."Maaf Umi..."...
..."Oh ya mana Anis?"...
__ADS_1
..."Lagi cuci piring Umi..."...
Anis juga tiba disana karena sudah selesai mencuci piring.
..."Umi,saya pamit kembali kekamar dulu..."...
..."Silakan Anis,cepat kembali tidur,besok kalian harus mengajar,dan jangan lupa untuk berpikir lagi..."...
..."Baik Umi..."...
Anis meninggalkan Nata dan Uminya.
Nata menatap punggung Anis yang melangkah keluar ditengah malam begini.
..."Kenapa ditatapin?"...
..."Eh nggak Umi..."...
..."Anis itu cantik ya..."...
..."Iya Umi..."...
..."Loh kamu juga sadar kalau Anis cantik..."...
..."Oh,apa sih Umi..."...
..."Kamu ini,Oh iya apa kamu suka sama Anis?"...
..."Nggak Umi,aku nggak pernah suka sama siapapun sejak Abi marah sama aku waktu kuliah dulu..."...
..."Lalu bagaimana kamu akan menikah,kalau kamu tidak suka dia?"...
..."Entahlah Umi,nanti aku pikirkan lagi ya..."...
..."Ya sudah,sana istirahat dulu..."...
..."Baik Umi..."...
Mereka masuk kedalam kamar masing-masing,untuk memikirkan apa yang akan mereka katakan pada Abi Rahman seminggu lagi...
Anis menutup matanya,berusaha mengingat dengan jelas Nata yang tadi bersandar di bahunya,juga tangan kekar laki-laki yang menindih tangannya.
Dia memang tidak kehilangan sesuatu yang berharga,tapi disentuh oleh laki-laki itu saja cukup membuatnya merasa aneh dan salah tingkah.
Meski dia berniat untuk menolak permintaan Abi Rahman,tapi dia juga tidak dapat membohongi hatinya yang menginginkan Nata menjadi suaminya.
...*...
Tidak jauh berbeda dengan Nata,dia tidak menyangka,hanya karena terlalu lelah dan lelap dalam tidurnya membuatnya kehilangan akal sehat,dan malah dialah yang menyandarkan kepalanya pada Anis.
Jauh didalam hatinya,dia juga tidak bisa menolak bahwa ada sesuatu yang membuatnya merasa tertekan saat berada disamping Anis tadi.
Andai mereka pasangan halal,bisa saja tadi Nata memeluk atau berbuat lebih pada Anis.
Beruntung sekali,dia hanya tertidur disana,tapi pada kenyataannya Umi dan Abinya mendapati mereka dalam posisi seperti tadi.
Dia tahu persis sifat Abinya,sekali menolak,maka jangan pernah berani menampakkan wajah didepan Abinya.
Hanya satu minggu waktunya untuk berpikir.
Dia bahkan tidak bisa bertanya pada Anis tentang langkah apa yang akan mereka ambil.
...*...
__ADS_1
...❤️❤️❤️...
..."Bersambung..."...