Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan

Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan
Bab 28.Satu tahun


__ADS_3

...🌷🌷🌷...


Satu tahun sudah Nata dan Anis lewati sebagai pasangan suami istri.


Semuanya berjalan dengan normal,hanya saja kini mereka harus menjalankan game setidaknya seminggu sekali,sesuai permintaan Anis.


Awal tahun baru.


Anis merasa tubuhnya sudah terlalu lelah,karena masih terus bekerja dipanti asuhan.


Nata sudah berkali-kali melarangnya,tapi Anis menolak karena merasa bosan jika hanya terus berada dirumah.


Abi dan Uminya pun sudah meminta Anis untuk berhenti dan meminta mereka untuk segera memiliki anak.


Tapi sikap keras kepala Anis tidak mudah dihilangkan begitu saja.


Kini tubuh kurusnya tidak sanggup lagi menahan rasa lelahnya.


Dia terbaring lemah didalam kamar.


Suhu tubuhnya cukup tinggi,membuat Nata tidak bisa meninggalkannya begitu saja.


Dengan sabar,Nata mengompres kepala Anis,dan menyuapi sedikit makanan,lalu memberinya obat penurun panas.


Setelah minum obat,Anis tertidur sambil menggenggam telapak tangan Nata.


Tangan kecil Anis masih terasa hangat.


Setelah memastikan Anis sudah lelap,Nata melepas genggamannya dan menuju dapur untuk memasak makan siang.


Dia beruntung karena dulu tidak pernah menolak ketika Uminya meminta dirinya membantu memasak.


Sekarang dia bisa membantu Anis untuk memasak jika sedang berada dirumah.


Karena bahan makanan didalam kulkas sudah hampir habis,Nata memasak seadanya.


Setelah selesai memasak,dia mengabari Uminya bahwa Anis sedang sakit dan tidak bisa mengajar dipanti.


..."Apa perlu kerumah sakit...?"...


..."Anis tidak mau Umi..."...


..."Ya sudah,nanti Umi kesana,kalau panasnya tidak turun juga,kita bawa kerumah sakit..."...


..."Iya Umi..."...


Nata menutup telepon dan kembali menghampiri Anis.


Anis sudah bangun,tapi suhu tubuhnya tidak berubah sama sekali.


Nata berbaring disisi Anis dan memeluk tubuh lemah istrinya


..."Anis kita kerumah sakit ya..."...


Anis menggeleng.


..."Obat yang baru aja kamu minum itu tidak bisa menurunkan demam kamu..."...


Anis masih menggeleng.


..."Sebentar lagi Umi kesini,kalau demam kamu masih tinggi,Umi akan bawa kamu kerumah sakit..."...


..."Nanti juga turun bang..." Suara Anis terdengar parau....


..."Ya sudah,kamu tidur aja lagi..."...

__ADS_1


Anis tidak menjawab.


...*...


Tidak lama kemudian,Umi Sarrah tiba sendirian.


..."Umi sendiri...?" Tanya Nata didepan pintu....


..."Iya,Abimu masih dikantor,Nita juga masih kuliah..."...


..."Masuk dulu Umi,kenapa repot-repot bawa begini Umi..." Nata menyambut kantong kresek yang dibawa Uminya....


..."Dimana Anis...?"...


..."Dikamar Umi..."...


Umi Sarrah menghampiri Anis.


..."Anis,kamu tidak papa nak?"...


..."Iya Umi..."...


..."Tapi badan kamu panas sekali,apa perlu kerumah sakit...?"...


..."Tidak usah Umi,sebentar lagi mungkin demamnya turun..."...


..."Kalau kamu tidak kuat,bilang sama Nata,supaya kamu dibawa kerumah sakit..."...


..."Iya Umi,Umi sendirian...?"...


"Iya,Abi masih kerja,dan Nita belum pulang..."


..."Terima kasih Umi..."...


..."Iya nak,tidak apa,apa kamu benar-benar belum mau berhenti bekerja dipanti?"...


..."Anis,tapi bekerja disana kamu tidak menerima gaji,kamu bisa saja mendapat pekerjaan yang baik diluar sana,atau berada dirumah lebih baik..."...


..."Aku suka disana Umi,aku juga tidak bisa meninggalkan anak-anak begitu saja,anggap saja aku sedang membalas semua kebaikan Umi selama aku tinggal disana..."...


..."Ya Allah Anis..."...


Umi Sarrah tidak sanggup menahan air matanya.


Gadis seperti Anis sangat sulit ditemukan saat ini.


Meski tumbuh dewasa tanpa kasih sayang seorang Ibu,tapi dia berhasil menjadi orang yang bijak.


..."Tapi sekarang kamu itu anak Umi juga,mana mungkin Umi tega membiarkan kamu bekerja disana sampai lelah begini..."...


..."Aku tidak apa Umi,mungkin karena sering terlambat tidur saja,besok pasti sudah sembuh..."...


..."Kamu ini,kenapa kamu persis sekali dengan ayahmu..."...


..."Kenapa Umi..."...


..."Dulu ayahmu sering memaksa membantu kami dipanti,meski sudah lelah bekerja dikantor Abi,sampai akhirnya ayahmu sering sakit karena sering berjaga sampai pagi,Umi tidak mau kejadian seperti itu terulang lagi,Abi tidak pernah rela ketika ayahmu meninggalkan kami,tapi itulah yang disebut takdir,dan jalan itulah yang dipilih ayahmu untuk kembali..."...


Anis meneteskan air mata,karena mengingat ayahnya,juga mengingat ibunya yang sampai saat ini belum bisa menemuinya.


..."Maaf Anis,Umi tidak bermaksud membuat kamu sedih karena ayahmu,tapi Umi hanya mengingatkan agar kamu menjaga kesehatanmu..."...


..."Tidak apa Umi..."...


..."Sudah siang,kamu makan dulu ya,ini Umi bawakan obat,barangkali lebih cepat menurunkan demam kamu..."...

__ADS_1


..."Iya Umi..."...


..."Umi panggil Nata dulu yah..."...


Nata yang sejak tadi mendengarkan obrolan Uminya dan Anis segera kembali kedapur dan buru-buru menyiapkan makanan disana.


..."Anak Umi sejak punya istri makin rajin sepertinya..."...


..."Tidak juga Umi..."...


"Suapin dulu istri kamu,Umi tunggu disini..."


..."Iya Umi,tunggu sebentar ya..."...


Umi Sarrah meletakkan tasnya dan memasukkan buah yang dibawahnya kedalam kulkas.


Lalu memperhatikan sekelilingnya.


Belum ada yang berubah sama sekali didalam rumah itu.


Seluruh perabotan masih sama,dan belum ada mesin cuci disana.


Umi Sarrah merasa kasihan pada Nata juga pada Anis.


Kehidupan mereka setelah menikah sangat sederhana,meski Nata dibesarkan dikeluarga yang berada.


Umi Sarrah hampir saja menangis,jika Nata tidak muncul dari balik pintu penghubung dari luar kedapur.


..."Istrimu sudah selesai makan...?"...


..."Sudah Umi..."...


..."Sudah dikasih obat?"...


..."Sudah Umi,sekarang dia mau tidur..."...


..."Ya sudah,sini kamu juga makan dulu..."...


..."Iya Umi,Umi juga makan dulu sebelum pulang..."...


Mereka duduk berdua didepan meja makan yang sederhana.


..."Nata,kamu belum beli mesin cuci...?"...


..."Belum Umi..."...


..."Jadi kamu selalu nyuruh Anis mengucek pakaian...?"...


..."Sama-sama aku kok Umi..." Nata tersenyum....


..."Kamu ini,pantas saja istrimu sampai kecapean begitu..."...


..."Tapi dia yang larang Umi,katanya selama aku masih bisa bantu,tidak usah pakai mesin cuci dulu..."...


..."Tetap saja kamu jangan membiarkan istrimu sampai kerja keras juga dirumah,Umi tau pekerjaan kamu masih sulit,tapi membiarkan istri menyiksa badan juga tidak boleh..."...


..."Iya Umi..."...


...*...


Selesai makan siang,Umi Sarrah pamit pulang karena Anis tidak mau dibawa kerumah sakit.


Nata mengantar sampai didepan rumah,dan memesankan taksi untuk Uminya...


...🌷🌷🌷...

__ADS_1


...>>> Bersambung >>>...


__ADS_2