Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan

Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan
Bab 38.Cemburu


__ADS_3

..."Anis,kamu cemburu?"...


..."Nggak..."...


..."Kamu marah sama Feli?"...


..."Nggak abang..."...


..."Terus dari tadi uring-uringan begitu kenapa?"...


..."Aku capek aja..."...


..."Bohong..."...


..."Nggak abang..."...


Nata mencoba memeluk Anis untuk memastikan apakah gadis itu sedang marah atau tidak.


Tapi Anis dengan cepat menolak yang menandakan dia sedang menahan amarahnya.


Nata hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu istrinya itu.


Dan meninggalkan Anis dikamar tidur sendirian,sementara dirinya menuju dapur untuk membuat sesuatu.


Anis mengomel sendiri didalam hati,karena takut ketahuan oleh Nata bahwa dirinya sedang marah.


..."Kalau tadi aku nggak ada disana,udah pasti mereka ngobrolnya lebih lama,atau bisa jadi lupa kalau sudah punya keluarga."...


..."Ternyata mantannya abang lebih cantik dari yang difoto,mana pinter dandan,penampilannya juga bagus."...


..."Abang pasti nyesal tuh nggak nikah sama dia."...


Sibuk mengomel,Anis sampai tidak sadar melempar pakaiannya dengan asal sampai mengenai Nata yang sudah berdiri didekatnya membawa sepiring nasi goreng ditangannya.


..."Anis kamu kenapa sih?"...


..."Nggak tau,abang jauh-jauh sana..."...


..."Tapi ini aku bawain kamu makanan,kita belum makan dari tadi."...


..."Aku sudah kenyang abang..."...


..."Kamu makan apa?"...


..."Makan hati."...


..."Anis,kalau ada apa-apa itu bilang,nggak usah marah-marah nggak jelas begini."...


..."Tapi aku nggak marah bang..."...


..."Anis,bahkan cicak-cicak didinding aja tau kalau kamu lagi marah."...

__ADS_1


Hampir saja Anis tertawa karena Nata yang seperti sedang bernyanyi saat menyebut cicak didinding.


..."Aku benci sama abang!"...


..."Tapi katanya suka sama aku?"...


..."Tapi sekarang lagi benci..."...


..."Kenapa?"...


..."Mantan abang lebih cantik."...


..."Loh...?"...


..."Iya,abang pasti nyesal kan nggak nikah sama dia aja,karena dia lebih bagus dalam hal apa aja dibandingin sama aku."...


..."Anis,jaga bicaramu."...


..."Kenapa,aku nggak salah kan?"...


..."Salah..."...


..."Tapi abang juga disapa sama dia malah jadi lebih ramah?"...


..."Jadi aku harus marah-marah kalau disapa sama orang lain?"...


..."Nggak tau,yang jelas sekarang aku lagi kesal sama abang,jadi jangan ganggu aku,sini makanannya,sana abang tidur diluar aja."...


Anis merebut makanan yang dibawa oleh Nata untuknya,karena terus mengomel dan kesal sendiri,akhirnya dia merasa lapar juga.


Dia sendiri memutuskan untuk kedapur dan memakan sisa nasi goreng yang sudah dia bawa kekamar untuk Anis.


Dia baru ingat kalau porsi yang dibawanya tadi untuk dua orang,karena dia ingin makan bersama Anis,tapi karena istrinya itu sedang tidak enak hati,jadilah dia menyerahkan semua makanan itu pada Anis.


Nata yang masih duduk dimeja makan,melirik Anis yang sedang membawa piring kotornya ketempat pencucian piring.


Setelah Anis menghilang dari dapur.


Dia berdiri untuk memastikan piring Anis sudah benar-benar kosong.


..."Wah dia jadi serem kalau lagi nggak enak hati,makanan sebanyak itu bisa habis sendirian." Gumam Nata sendirian....


...***...


Pukul dua belas malam,Nata yang sedang tertidur dikamar tamu,merasa susah bergerak karena kasur kecil itu terasa penuh.


Perlahan dia membuka matanya,dan mendapati Anis sedang tidur pulas diatas lengannya.


Hujan deras sedang turun diluar sana.


Nata membuka gorden yang menutupi jendela kaca dikamar itu.

__ADS_1


Cahaya kilat dan suara petir diluar sana membuat suasana malam terlihat terang.


Pantas saja istrinya itu mendatanginya,karena sudah pasti dia takut tidur sendirian saat cuaca seperti ini.


Nata pernah mendengar cerita dari anak-anak panti asuhan yang mengatakan bahwa kakaknya itu tidak berani tidur sendirian,tapi karena sudah dewasa,jadilah dia dipisahkan dari anak-anak yang lain.


Nata sepertinya tau banyak tentang Anis,tapi dia sengaja menyembunyikannya agar Anis tidak menganggap dirinya seperti penguntit.


Nata meraih tubuh Anis yang dingin kedalam pelukannya.


Entah sejak kapan,dia merasa begitu damai setiap kali memeluk istrinya itu.


Setahun lebih mereka menikah,Nata begitu cepat menumbuhkan perasaannya pada Anis,tapi masih belum ingin mengakuinya.


Dia menatap wajah Anis yang begitu tenang saat tertidur.


Lalu mengusap pipi kemerahan istrinya.


Meski pernikahan mereka berkat perjodohan yang tidak mereka inginkan,tapi Nata menjadi begitu takut jika harus melepaskan Anis begitu saja.


Setiap harinya,dia selalu memikirkan kebahagiaan Anis,dia berharap bisa menjadi teman hidup yang baik untuk Anis,meski mereka seringkali bertengkar hanya karena hal kecil.


Dalam hati Nata,masih teringat jelas wajah Anis yang dulu menangis sampai wajahnya membengkak karena mengetahui ibunya yang sudah menikah lagi dan sulit untuk menemuinya.


Masih jelas pula diingatannya saat gadis itu menangis tersedu-sedu dibelakang panti asuhan,meski sampai sekarang dia belum tahu alasan gadis itu menangis,tapi Nata merasa sangat iba pada Anis yang selalu berusaha memasang wajah manis didepan semua orang.


Nata mengeratkan pelukannya,merasakan detak jantung Anis yang berdetak seperti jarum jam dinding diatas kepala mereka.


Nafas Nata menerpa wajah Anis yang membuat gadis itu terbangun.


..."Abang kok disini?"...


..."Kamu yang kenapa disini?"...


Anis terduduk dan menyadari dirinya yang berada dikamar tamu.


Ternyata dirinya yang menghampiri Nata saat hujan mulai turun pukul sebelas tadi.


Dia hendak berdiri untuk kembali kekamar tidur,tapi Nata menahannya.


..."Disini aja,aku tau kamu takut tidur sendiri."...


..."Abang aja yang kekamar."...


..."Nggak usah,kita tidur disini aja."...


Nata menarik tubuh Anis untuk kembali tidur disampingnya.


Anis tidak menolak meski tadi sedang marah.


Karena sampai saat inipun dia masih sering takut saat hujan turun dimalam hari.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...>>> BERSAMBUNG >>>...


__ADS_2