
Beberapa tahun meninggalkan Anis di panti asuhan dengan alasan bekerja.
Ternyata Ibunya sudah menikah lagi dengan laki-laki warga Negara Asing di Luar Negeri.
Memang di tahun-tahun pertama,Ibunya bekerja sebagai Tenaga Kerja Asing,tapi setelah menikah lagi,Ibunya berhenti bekerja,dan alasan itu pula yang membuatnya kesulitan untuk pulang menemui Anis.
Bagai disambar petir disiang hari,Anis yang saat itu sedang sibuk mengetik tugas untuk anak-anak panti,menerima telpon dari Ibunya,kini mereka seminggu sekali terhubung lewat ponsel milik ibu pengasuh disana,karena Anis tidak boleh lagi menggunakan telepon di panti.
Tanpa sadar air matanya mengalir deras mendengarkan ibunya yang menyampaikan kabar buruk itu.
Mungkin bagi sebagian orang,hal itu akan menjadi kabar bahagia,tapi tidak dengan Anis.
Selama bertahun-tahun ditinggalkan,dan selalu berharap ibunya akan datang menjemputnya,tapi kini harapan itu semuanya terasa seperti fatamorgana baginya.
Rasa sakitnya karena ditinggal selamanya oleh ayahnya,belum juga hilang.
Kini dia harus kembali menerima sesuatu yang sangat membuat dadanya terasa sesak.
Beberapa pengasuh dan anak-anak lain melihat Anis yang sesenggukan didepan komputer.
Mereka tidak ada yang berani bertanya,karena Anis memang jarang bercerita pada siapapun tentang keadaan ibunya.
Telepon genggam milik ibu pengasuh yang bernama Sulastri itu masih terhubung dengan ibu Anis.
Tapi Anis meninggalkannya begitu saja dimeja komputer,dan berjalan pelan keluar dari panti.
Ibu Sulastri memegang ponselnya lalu berbicara dengan ibu Anis.
..."Maaf bu,ada apa ini,kenapa membuat Anis menangis?"...
..."Maafkan saya bu,Anis kemana ya bu?"...
..."Dia keluar bu,saya tidak tahu dia akan kemana?"...
..."Tolong jaga anak saya ya bu,saya akan menelpon kembali kalau dia sudah tenang."...
..."Baik bu..."...
Ibu sulastri meninggalkan ponsel miliknya dimeja,dan segera masuk kedalam rumah Umi Sarrah,untuk memberi tahu bahwa Anis meninggalkan panti sambil menangis.
Hampir semua adik-adik Anis sedih melihat kakak tertuanya itu menangis tanpa mereka tahu alasannya.
..."Umi,Umi,Anis Umi..."...
..."Ada apa bu,Anis kenapa?"...
..."Anu Umi,Anis pergi..."...
..."Anis pergi kemana bu?"...
..."Saya nggak tahu Umi,tadi ibunya telpon,terus dia malah nangis waktu terima telponnya....
..."Kenapa lagi ibunya Anis itu..."...
..."Ya sudah Umi,saya kembali dulu,kasihan anak-anak karena kaget melihat Anis tadi."...
..."Iya bu,biar saya yang mencari Anis ya..."...
Umi Sarrah yang sedang memasak didapur,buru-buru mematikan kompornya,lalu memanggil Nata diruang kerjanya.
..."Ada apa Umi?"...
__ADS_1
..."Nata,tolong Umi sebentar nak,bantu cari Anis,kata ibu Lastri,tadi dia nangis lalu keluar dari panti."...
..."Kita harus cari kemana Umi...?"...
..."Umi juga nggak tahu nak,tapi nanti Umi coba kembali telpon Ibunya Anis."...
..."Ya sudah,Umi telpon dulu,aku ganti baju dulu..."...
Umi Sarrah segera mengenakan jilbabnya lalu keluar menuju panti.
Menemui Ibu Lastri agar kembali menelpon Ibu Anis.
^^^Tidak menunggu lama,telpon dari sana sudah terangkat.^^^
^^^"Maaf bu,saya mau tanya,ada apa ini,kenapa Anis sampai menangis dan meninggalkan panti..." Umi Sarrah langsung bertanya pada Ibunya Anis.^^^
..."Maafkan saya Umi,karena membuat keributan disana,sebenarnya tadi saya memberi tahu Anis bahwa saya sudah menikah lagi disini,tapi sepertinya dia tidak bisa menerimanya,sekarang Anis dimana Umi?"...
..."Ibu sudah meninggalkan Anis cukup lama disini,dan sekarang ibu mengabarkan bahwa ibu sudah menikah lagi,saya sampai tidak bisa membayangkan rasa sakit yang diterima oleh anak ibu..."...
..."Umi,maafkan saya Umi,tapi keadaan membuat saya harus seperti ini..."...
..."Keadaan apa bu,bukankah kepergian ibu kesana untuk bekerja,tapi sekarang malah menikah dengan orang asing,yang akhirnya membuat ibu kesulitan untuk pulang."...
..."Saya benar-benar minta maaf Umi,tapi saya menerima ini semua karena saya sudah terlalu lelah untuk bekerja."...
..."Tapi apa ibu pernah memikirkan perasaan Anis sekali saja,memikirkan perasaannya yang dititipkan dipanti sementara dia bukan anak yatim piatu."...
..."Saya selalu memikirkan Anis, Umi,tapi saya juga kesulitan untuk bekerja karena tubuh saya yang sudah tidak kuat,saya juga ingin sekali pulang menemui Anis,tapi keadaan saat ini masih sulit."...
..."Baiklah,sekarang saya ingin bertanya,kemana Anis biasanya pergi saat dia seperti itu?"...
..."Ya sudah,saya tutup telponnya,doakan saja Anis tidak pergi jauh..."...
..."Baik Umi,terima kasih banyak."...
Telepon terputus,Nata juga sudah berada disana.
Umi Sarrah meminta pada adik-adik Anis untuk tetap tenang,dan menunggu sambil mendoakan kakak mereka.
Nata mengemudikan mobil milik Abinya,butuh waktu satu jam perjalanan untuk menuju tempat Ayah Anis dimakamkan.
Setelah mereka sampai,Umi Sarrah yang akan segera turun dicegah oleh Nata.
..."Umi disini saja,biar aku yang cari Anis kedalam."...
..."Oh iya nak,cepat cari ya,kasihan sekali anak itu."...
..."Baik Umi..."...
Nata segera masuk kedalam TPU yang sangat sepi itu.
Dia melihat Anis yang sedang memeluk erat pusara Ayahnya sambil terus menangis sesenggukan.
Hati kecil Nata seperti teriris tajam melihat anak gadis menangis seperti itu,dia juga teringat akan Abinya.
Bagaimanapun juga,seorang anak akan selalu merasakan sakit yang dalam saat seseorang yang sangat dicintai meninggalkan mereka.
Nata yang kebingungan,tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri,ada rasa sesal karena tadi melarang Uminya turun dan ikut mencari.
Ponsel disakunya bergetar.
__ADS_1
Uminya menelpon.
..."Nata,apa Anis ada disana?"...
^^^"Ada Umi,tapi aku tidak mau mengganggunya dulu,aku tunggu disini sampai dia tenang."^^^
..."Iya Nak,Umi lega karena dia ada disitu,cepat ajak dia pulang ya nak..."...
..."Baik Umi..."...
Anis belum bisa meredakan tangisnya.
Karena tidak bisa membiarkan Uminya menunggu dengan rasa khawatir,akhirnya Nata mendekati Anis.
..."Assalamualaikum..."...
..."Waalaikumsalam..." Anis masih mampu menjawab salam dari Nata,meski wajahnya sudah sangat sembab....
..."Maaf karena mengganggu,tapi Umi sedang menunggu diluar,apa kamu bisa ikut pulang sekarang?"...
..."Bisa pak..."...
..."Kamu bisa berjalan sendiri?"...
Anis mengangguk sambil menyeka air matanya.
Dia menguatkan diri untuk berdiri,karena Nata tidak akan menyentuhnya meski dia terjatuh sekalipun.
Dia melangkah duluan,Nata berada dibelakangnya.
Karena melihat Anis yang kepayahan,Umi Sarrah segera turun dari mobil,dan memeluk tubuh Anis yang terasa dingin.
..."Kamu tidak apa nak?"...
Anis menggeleng.
..."Sebaiknya jika ada masalah,kamu cerita sama kami ya nak,jangan seperti ini lagi."...
..."Iya Umi,maafkan saya..."...
..."Ayo kita pulang dulu,badan kamu dingin sekali..."...
..."Iya Umi..."...
Nata segera naik kemobil,dan membiarkan Anis juga Uminya duduk di bangku belakang.
Nata melihat Anis dari kaca didepannya,wajah Anis benar-benar terlihat tidak bersemangat.
Nata menyadari wajah Anis yang cantik,tapi kini wajah itu justru sedang merasakan kesedihan yang amat dalam.
Anis yang lelah menangis,akhirnya tertidur dipangkuan Umi Sarrah.
Umi Sarrah mengelus kepala gadis yang tertutup dengan jilbab berwarna hitam itu.
Benar-benar gadis yang malang...pikir Umi Sarrah yang hampir saja menangis karena menatap wajah sedih Anis.
..."Jangan lupa ikuti cerita baru aku ya..."...
..."Semoga kalian suka..."...
...❤️❤️❤️...
__ADS_1