Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan

Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan
Bab 16.Aku kira Nata sedingin Es


__ADS_3

...🌷🌷🌷...


Anis masuk keruang kerja Nata untuk pertama kalinya.


Ada banyak buku disana,juga ada komputer dan televisi yang berada didekat jendela.


Ruangan itu terasa nyaman dan sepi.


Dan ditempat inilah Nata sering memikirkan kehidupannya.


..."Abang mau dibantu apa?"...


..."Nggak ada..."...


..."Terus..."...


..."Cuma mau ngajak kamu kesini aja..."...


..."Abang,aku sudah nahan ngantuk,tapi sekalinya cuma mau diajak kesini,kan besok-besok juga bisa..."...


..."Duduk aja dulu..."...


Nata menyeduh kopi dan susu dengan air panas yang tersedia dari dispenser diruangan itu.


Sementara Anis duduk dikursi yang berada didepan televisi dan komputer milik Nata.


..."Bang,kenapa harus ada TV sementara sudah ada komputer?"...


..."Menurut kamu?"...


..."Komputer untuk kerja,TV untuk hiburan?"...


..."Lain kali jangan menanyakan hal yang kamu sendiri sudah tahu jawabannya..."...


..."Emh iya bang..."...


Nata meletakkan susu didepan Anis.


..."Diminum..."...


..."Nggak ada racunnya kan?"...


..."Kamu pikir aku bos mafia jahat?"...


..."Barangkali abang berpikir untuk..."...


..."Untuk apa?"...


..."Nggak bang,hehehe..."...


..."Tadi didepan warung makan kamu mau bilang apa?"...


..."Apa ya,aku lupa..."...


..."Anis,aku rasa otak kamu nggak sepikun itu untuk lupa sama sesuatu yang baru saja terjadi..."...


..."Iya bang iya..."...


..."Kamu mau bilang apa?"...


..."Maaf sebelumnya,kalau abang tersinggung,tapi aku cuma mau bilang...Kenapa abang bisa langsung banyak bicara sama aku,Aku kira abang akan jahat sama aku,atau setidaknya nggak akan ngajak aku ngobrol kecuali didepan Abi dan Umi...?"...


..."Menurut kamu?"...


..."Aku nggak tahu jawabannya bang,makanya aku nanya,karena aku juga mau tahu?"...


..."Karena nggak ada alasan buat aku jahat sama kamu,kamu nggak salah apa-apa,aku pasti akan marah besar kalau kamu memang sengaja menjebak aku untuk bisa nikah sama aku..."...


..."Tapi,aku juga berpikir kalau abang orang yang dingin kayak es batu...?"...


..."Darimana kamu bisa mikir kayak gitu?"...


..."Karena dulu,waktu abang ngajar dikelas aku, abang hampir nggak pernah ketawa,selalu serius kayak mau nerkam siswanya..."...


..."Itu karena semua siswa dikelasmu kebanyakan perempuan..."...


..."Memangnya kenapa?"...


..."Kalau aku banyak bercanda,pasti mereka malah sibuk ngejar aku seperti kelas yang lain..."...


..."Oh ya...?"...


..."Iya,aku nggak mau kenal sama perempuan manapun sejak diamuk sama Abi,jadi aku putusin untuk dingin sama semua perempuan yang aku temui,termasuk kamu..."...


..."Tapi sekarang nggak ada dingin-dinginnya sama sekali,malah bikin gerah..."...


..."Karena kamu istriku..."...


..."Tapi kan abang nikahin aku karena terpaksa?"...


..."Entahlah..."...


..."Abang,kalau suatu saat nanti abang nggak bisa nerima aku sebagai istri abang,aku boleh pergi kan?"...


..."Anis..."...


..."Abang tinggal bilang kalau memang nggak suka sama aku,jadi aku bisa pergi..."...

__ADS_1


..."Semudah itu?"...


..."Nggak tahu bang...hehehe..."...


..."Anis...kita coba jalani aja dulu..."...


..."Sampai kapan bang?"...


..."Aku nggak tahu Anis..."...


..."Hemph..."...


..."Minum dulu,itu sudah dingin..."...


..."Abang suka ngajar?"...


..."Suka..."...


..."Kenapa nggak coba ngajar ditempat lain?"...


..."Nanti aja kalau jadi pns,hehehe..."...


..."Abang sudah pernah ikut tes?"...


..."Sering..."...


..."Terus..."...


..."Belum ada rejeki..."...


..."Tapi abang bisa tetap hidup enak meskipun nggak kerja..."...


"Tapi setelah nikah,nggak bisa kayak gitu..."


..."Kenapa?"...


..."Tanggung jawab jadi suami itu besar,apalagi setelah punya anak,suami juga harus bekerja lebih keras lagi,karena yang dinafkahin juga bertambah..."...


..."Abang mau punya anak?"...


..."Mau..."...


..."Gimana kalau istri abang nggak bisa punya anak?"...


..."Usaha..."...


..."Nggak mau cari istri baru?"...


..."Hahaha,punya istri satu aja ribut,apalagi dua..."...


..."Ya jadikan satu aja lagi..."...


..."Maaf..."...


..."Oh ya,aku juga sempat berpikir kalau kamu gadis pendiam...ternyata nggak jauh beda sama Umi..."...


..."Maksud abang?"...


..."Cerewet..."...


..."Tapi abang juga cerewet...jadi apa bedanya..."...


..."Semoga kita berjodoh kalau begitu,setidaknya kita sudah punya satu persamaan..."...


..."Abaaang..."...


...*...


Suasana diruangan itu kembali hening.


Anis sibuk memandang keluar jendela.


Sementara Nata sudah berdiri dan membenahi meja kerjanya yang berantakan.


Anis berdiri berniat untuk membantu.


Tapi Nata mencegahnya.


..."Nggak usah,duduk aja..."...


..."Tapi abang sibuk,masa aku cuma duduk disini aja..."...


..."Nggak papa,nikmati aja dulu masa santainya,nanti kalau kita tinggal dirumah sendiri,kamu juga pasti susah untuk istirahat..."...


..."Iya deh..."...


..."Anis,apa rencanamu kedepan?"...


..."Aku nggak tahu bang?"...


..."Bagaimana kabar ibumu?"...


..."Nggak tahu bang?"...


..."Lalu apa yang kamu tahu?"...


..."Aku mau tahu rasanya dicintai oleh seseorang..."...

__ADS_1


..."Dulu ayah kamu jadi cinta pertamamu bukan?"...


..."Tapi ayah sudah pergi..."...


..."Tapi dia juga mencintai kamu..."...


Anis meninggalkan ruang kerja Nata,tanpa menghabiskan susu yang dibuatkan oleh Nata.


Dia tidak bisa membendung air matanya jika pembicaraan mereka dilanjutkan.


Tadinya dia hanya bermaksud untuk bercanda,tapi Nata malah membahas ayahnya.


Yang membuatnya kehilangan kata-kata.


Memang,ayahnya adalah laki-laki terbaik yang dulu menjadi cinta pertamanya,karena ayahnya pun begitu mencintai dirinya sebagai seorang putri.


Tapi Anis kini sudah dewasa,dia juga berharap ada laki-laki yang mencintai dirinya dengan sepenuh hati.


Menerima segala kekurangan dirinya.


Dan dia berharap laki-laki itu adalah Nata,laki-laki yang sejak dulu sudah membawanya berkelana didalam mimpi indah setiap kali menatap Nata dari kejauhan.


Laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta berkali-kali,meski dengan pandainya dia menyembunyikan rasa cinta itu didalam samudra hatinya yang paling dalam.


Dan laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya itu.


...*...


Nata menghentikan pekerjaannya,menatap gelas susu Anis yang masih tersisa setengah.


Dia tiba-tiba merasa sudah salah berbicara.


Nata paham maksud Anis,tapi malah membahas ayahnya.


Gadis itu kini sudah dewasa,dia pasti sudah memahami perasaan yang seharusnya dia butuhkan.


Tapi Nata sebagai seorang suami,belum bisa memberikan apa yang dibutuhkan Anis.


Nata mengambil gelas Anis dan menumpahkan susu putih itu bersama kopi miliknya yang juga masih tersisa kedalam wastafel diruang kerjanya.


Lalu meletakkannya begitu saja disana.


Dan buru-buru menyusul Anis kekamarnya.


Anis mengunci kamar mandi.


Nata mendengar suara kran air yang terus menyala begitu saja.


Bisa saja banjir didalam sana jika dibiarkan.


Lama Nata menunggu Anis keluar.


Tapi Anis begitu betah didalam sana.


Entah apa yang dilakukannya.


Karena takut Anis malah melakukan hal aneh didalam kamar mandi,Nata segera menggedor pintu kamar mandi.


..."Anis,buka pintunya..."...


..."Anis,kamu lagi apa didalam sana?"...


..."Anis...tolong jangan seperti ini,maaf karena sudah membahas tentang ayahmu..."...


..."Anis,Abi pasti akan marah kalau tagihan air bertambah banyak,tolong matikan kran airnya..."...


Didalam sana,Anis menyadari gamis bagian bawahnya sudah hampir terendam air.


Dan buru-buru mematikan kran air yang mengalir deras sejak tadi.


Dia sudah berhenti mengalir.


Dia mencuci wajahnya dan membuka pintu kamar mandi.


Nata berdiri didepannya,tapi Anis tidak berani menatap suaminya.


..."Tunggu disini..."...


Nata segera mengambil baju rumahan milik istrinya dan memberikan pada Anis yang berdiri dikamar mandi dengan sisa air yang masih merendam kakinya.


..."Buka bajumu,dan ganti disitu,kamu akan membuat lantai kamar jadi basah kalau masuk dengan bajumu yang basah."...


Anis tidak menjawab,dan hanya mengambil baju yang diberikan Nata padanya.


Setelah kembali menutup pintu kamar mandi,dia menunggu air dilantai mengalir kesaluran pembuangan.


Dia kemudian mengganti bajunya dan menggantung baju basah miliknya dibelakang pintu kamar mandi.


Dia berniat keluar dari kamar Nata.


Tapi Nata berdiri menghalanginya.


..."Aku minta maaf..."...


Anis hanya menatapnya dengan tatapan kosong...


...🌷🌷🌷...

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2