Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan

Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan
Bab 6. Kejadian tidak terduga


__ADS_3

Empat bulan setelah mendapat kabar dari ibunya,kini Anis kembali menjalani hari-harinya seperti biasa,dan menyimpan rapat-rapat kesedihannya sendirian.


Ibunya belum pernah menghubunginya kembali sejak hari itu.


...*...


Hari ini,siang hari diawal bulan desember semua orang dipanti tampak sibuk,tidak terkecuali Nata dan orang tuanya.


Mereka membereskan perpustakaan panti yang kini kedatangan banyak sekali buku-buku baru.


Hingga sore hari pekerjaan mereka belum juga selesai,tapi anak-anak sudah tampak kelelahan.


Nata meminta mereka untuk mandi dan kembali kekamarnya masing-masing.


Tinggallah dirinya dan Anis didalam perpustakaan berdua,karena keluarganya dan pengasuh lain sibuk memasukkan buku-buku yang rusak kedalam kardus diluar perpustakaan.


Mereka menyusun buku-buku yang tersisa kedalam rak kosong tanpa bersuara.


Anis merasa sangat canggung berdua dengan guru agamanya beberapa tahun lalu itu.


Sampai waktu maghrib tiba,mereka belum juga selesai.


Mereka bergegas untuk keluar dari sana.


Tapi Anis yang lebih dulu akan keluar,kesulitan membuka pintu.


Berkali-kali dia memutar daun pintu disana,tapi tidak berhasil,membuat Nata yang berada tidak jauh dibelakang Anis,mendekat kearahnya.


Anis menjauh,membiarkan Nata berusaha membuka pintu,tapi sia-sia.


Para pengasuh dan keluarganya mengira mereka sudah keluar bersama anak-anak yang lain sejak tadi,membuat mereka mengunci pintu perpustakaan dari luar karena hari sudah gelap.


Nata mencoba menelpon Abi dan Uminya,tapi tidak ada jawaban,karena semua orang sedang melaksakan ibadah shalat maghrib.


Nata menelpon adiknya,Nita,tapi rupanya adiknya itu sedang berada dirumah temannya dan akan pulang pukul sembilan nanti.


..."Nita,kamu dimana?"...


..."Dirumah kawanku bang,ada apa?"...


..."Nita,apa kamu bisa pulang lebih cepat,abang terkunci diperpustakaan,tolong buka pintunya,ini sudah hampir lewat maghrib..."...


..."Tapi tugas sekolahku belum selesai bang,besok pasti Abi dan Umi melarangku untuk keluar sampai malam lagi..."...


..."Ya sudah,tapi ingat setelah kamu pulang nanti,langsung beri tahu Umi kalau abang terkunci disini..."...


..."Baik abang,sholatlah disana dulu..."...


Nata menutup teleponnya.


Dengan terpaksa dia harus menjalankan ibadah didalam ruangan yang masih sedikit berantakan.


Beruntung sekali,kamar mandi disana sudah selesai diperbaiki.


Jadi mereka bisa menggunakannya untuk berwudhu.


..."Apa kamu pakai kaos kaki?"...


Tanya Nata tiba-tiba pada Anis.


..."Eh iya,itu saya pakai pak..." Jawab Anis terbata-bata....


..."Baguslah,sekarang cepat berwudhu,kita sholat disini saja dulu,sebentar lagi saya kembali menelpon Abi atau Umi."...


..."Baik pak..."...


Anis merutuki kesialan yang menimpanya senja ini,meski dia menyukai Nata,tapi berduaan seperti ini juga membuatnya sangat gugup.

__ADS_1


Setelah berwudhu,Anis sholat terlebih dulu,dengan menggunakan sarung yang tadi dipakai Nata sebagai alasnya,beruntung Nata juga mengenakan celana panjang.


Nata menunggu Anis selesai,sambil duduk membaca buku di belakang Anis.


Kini giliran Nata yang harus menjalankannya kewajibannya.


Anis mundur dari sana,lalu duduk berselonjor didepan rak buku yang masih belum benar-benar rapi.


Nata pun sudah selesai,dia kembali mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi orang tuanya.


Masih sia-sia,karena biasanya selepas maghrib,mereka mengadakan kajian-kajian kecil bersama anak-anak disana.


Membuat mereka harus menunggu lebih lama lagi.


Anis masih duduk dengan posisinya karena merasa tidak sanggup untuk sekedar melirik kearah Nata.


Satu jam setengah berlalu,mereka sudah selesai menjalankan shalat isya.


Nata masih terus berusaha menelpon,tapi entah apa yang mereka lakukan diluar sana sampai tidak mengangkat teleponnya.


Tanpa mereka sadari,orang-orang dimushola sibuk mencari mereka.


Pengasuh lain menduga Anis sedang berhalangan,dan karena pintu kamarnya terkunci mereka juga mengira Anis sudah tidur lebih cepat.


Begitupun dengan orang tua Nata,karena mengira Nata sudah kelelahan,dan mungkin sudah kembali kekamarnya sejak tadi.


Jadilah mereka tidak khawatir lagi,dan tanpa mereka sadari banyak panggilan tidak terjawab diponsel mereka yang berada di dalam ruang kerja Abi Rahman.


Mereka memutuskan untuk makan malam tanpa Nata dan Anis ditempatnya masing-masing.


...*...


Sementara diruang perpustakaan,Anis merasa perutnya kelaparan.


Dia menahannya dengan terus membaca buku.


Perut mereka terdengar bergemuruh.


Membuat Anis tidak dapat menahan rasa malunya.


Nata hampir saja tertawa melihat Anis yang malu dan menutup wajahnya dengan buku tebal.


..."Tunggulah sebentar lagi,mereka pasti akan segera kesini..." Ucap Nata menguatkan diri mereka....


..."I-iya pak..."...


Tapi sampai pukul sepuluh malam,tidak ada tanda-tanda seseorang yang datang.


Baterai ponsel Nata sudah habis,dia tidak bisa menelpon lagi.


Habislah mereka disini,jika harus menunggu sampai pagi.


Adik Nata,juga sepertinya melupakan Abangnya itu.


Setelah pulang tadi,dia malah masuk kekamarnya dan sibuk bermain ponsel.


Umi dan Abinya pun sibuk mengobrol diruang keluarga dan sama sekali belum melihat ponsel mereka.


Pukul sebelas malam,Anis yang sudah mengantuk,akhirnya tertidur sambil menahan rasa laparnya,dan bersandar dirak kayu dibelakangnya,membuat jilbab yang dikenakannya sedikit berantakan.


Cuaca malam sudah semakin dingin.


Nata juga sudah mengantuk,tapi merasa kasihan pada Anis yang sepertinya kedinginan.


Dia tidak menyangka,setelah bertahun-tahun menjauhi gadis-gadis diluar sana,dan bahkan tidak pernah melihat Anis sebagai seorang perempuan dewasa,kini harus berduaan dengan gadis yang tumbuh dewasa dipanti milik keluarganya itu.


Karena merasa iba,dia akhirnya menyelimuti kaki Anis dengan sarung yang shalat yang selalu dipakai saat berada dirumahnya.

__ADS_1


Tapi karena lantai keramik itu terasa sangat dingin,dia pun tidak bisa menahan rasa dingin saat melepaskan sarung miliknya.


Karena merasa kebingungan,dan tidak mungkin dia melepas kembali sarung dari tubuh Anis.


Akhirnya dia duduk disamping gadis itu,sambil membagi sarung untuk kakinya.


Rasanya hangat karena tubuhnya hampir menempel dengan tubuh Anis.


Saat menggerakkan tangannya untuk membenarkan sarung miliknya,dia tidak sengaja menyentuh tangan Anis.


Rasanya seperti tersengat listrik,Nata buru-buru menjauhkan tangannya dari tangan kanan Anis yang terasa dingin.


Nata merasa berdosa,karena menyentuh tangan Anis,tapi dia tidak punya pilihan lain,daripada mereka pingsan karena kedinginan disini,akhirnya dia berani melakukan hal seperti itu,yang pada akhirnya membawanya dalam sebuah pernikahan yang sama sekali tidak direncanakan.


Pukul setengah dua belas malam,mereka berdua akhirnya tertidur lelap disana,dan tanpa terasa Nata justru menyandarkan kepalanya dibahu Anis.


Meski Anis merasa tubuhnya berat,tapi dia tetap melanjutkan tidurnya agar rasa laparnya tidak terasa.


...*...


Abi dan Uminya yang juga sudah mengantuk setelah beberapa jam mengobrol tentang kesibukan mereka,memutuskan untuk masuk kedalam kamar mereka.


Abi Rahman terlebih dulu mampir keruang kerjanya,untuk mengambil ponsel miliknya juga milik istrinya.


Setelah keluar dari sana,Abi Rahman menatap layar ponselnya yang penuh dengan panggilan dari Nata sebanyak sepuluh kali,juga ada panggilan yang sama diponsel istrinya.


..."Umi,lihat ini,kenapa Nata menelpon sampai berkali-kali seperti ini,sebenarnya dimana dia?"...


..."Umi tidak tahu Bi,mungkin dia ada dikamarnya,coba saja Abi telpon kembali."...


Abi Rahman mencoba menelpon kembali,tapi nomor Nata sudah tidak aktif.


..."Umi ponsel Nata tidak aktif..."...


..."Ya sudah,biar Umi cek dikamarnya dulu..."...


Umi Sarrah naik kelantai atas menuju kamar Nata


Umi Sarrah terkejut karena tidak ada anaknya disana,karena tidak menemukan Nata dikamarnya,dirinya membuka ruang kerja Nata yang berada disamping kamar.


Tidak ada sesiapa disana.


Umi Sarrah lalu,mengetuk pintu kamar anak gadisnya..


..."Nita,kenapa belum tidur?"...


..."Lagi nonton sebentar lagi Umi...hehehe."...


..."Oh Umi mau tanya,apa abangmu ada menelpon kamu tadi ?"...


..."Astaga,ya ampun Umi,aku lupa bilang sama Umi,kalau tadi abang telpon aku,terus bilang kalau dia terkunci diperpustakaan..."...


..."Nita,kamu ini kenapa tidak bilang dari tadi..."...


..."Maaf Umi aku lupa..."...


Umi Sarrah segera kembali turun,dan memberi tahu suaminya,bahwa Nata ada diperpustakaan karena terkunci disana.


Abi Rahman terburu-buru masuk kedalam ruang kerjanya untuk mengambil kunci cadangan perpustakaan.


Mereka berdua segera menuju ruang perpustakaan yang berada tepat disamping panti.


Setelah membuka pintu,betapa terkejutnya mereka,melihat anak pertamanya itu tidur dan bersandar di bahu anak asuhnya.


...❤️❤️❤️...


^^^"Bersambung ya..."^^^

__ADS_1


__ADS_2