Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan

Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan
Bab 12. Percakapan dikamar Nata


__ADS_3

Anis sudah kembali berada dikamar Nata.


Dia masih memeluk kotak kecil miliknya saat Nata keluar dari kamar mandi.


..."Masukkan pakaian dan barang kamu didalam rak kosong disebelah pakaian saya..."...


..."Baik pak..."...


Sebenarnya Nata merasa sangat aneh karena kehadiran Anis dikamarnya.


Siang tadi,mungkin masih terasa nyaman karena mereka harus kembali keluar.


Tapi saat ini,mereka tidak bisa kemana-mana lagi.


Nata yang kebingungan,akhirnya duduk dimeja rias yang berada tidak jauh dari pintu kamarnya.


Dan sesekali melirik Anis yang menata pakaiannya kedalam lemari.


Pakaian yang sangat sederhana dan memang sedikit,pikir Nata.


Berbeda dengan lemari miliknya yang penuh dengan berbagai macam warna baju dan celana.


Ada rasa iba didalam hati Nata,melihat keadaan gadis itu.


Bagaimana mungkin gadis secantik dan selemah Anis bisa tumbuh dalam kesulitan yang menurutnya terlalu berat.


Anis sudah selesai.


Dia pun bingung akan melakukan apa lagi.


..."Apa kamu sudah mandi?"...


Tanya Nata tiba-tiba.


..."Eh belum pak..."...


..."Kalau gitu mandi saja dulu..."...


..."Tapi sudah malam pak,saya tidak terbiasa mandi saat malam hari."...


..."Apa tidak gerah..."...


..."Tidak pak..."...


..."Tapi kamu akan tidur disebelah saya..."...


..."Ya sudah,saya akan mandi pak..."...


Anis buru-buru masuk kedalam kamar mandi.


Didalam sana,Anis hanya memegang air yang terasa dingin.


..."Airnya kenapa dingin sekali..." Gumamnya....


..."Kamu bisa putar kran airnya kesebelah kanan jika ingin mandi dengan air hangat..."...


Suara Nata terdengar samar-samar dari luar.


Anis akhirnya memutar kran kekanan,dan benar saja,airnya terasa hangat.


Dia mandi dengan apa adanya,tanpa membasahi kepalanya.


Setelah selesai,dia malah bingung akan keluar menggunakan piyama mandi atau baju gamisnya yang sejak tadi sore dipakainya.


Akhirnya,karena takut Nata melihatnya sebagai gadis jorok,dia mengenakan piyama mandi lalu menutupi kepalanya dengan dengan handuk panjang,dan mengenakannya seperti jilbab.


Dia keluar dari kamar mandi,sambil berharap Nata sudah menghilang dari sana.


Tapi harapannya sia-sia.


Nata justru sedang memperhatikannya dengan serius.


Hampir saja Nata tertawa melihat tingkahnya.


Wajah cantik Anis yang ditutup handuk itu seperti anak kecil yang sedang menunjukkan sisi imutnya.


Jika saja dia sudah mencintai Anis sejak awal,mungkin tanpa ragu dia sudah menarik gadis itu kedalam pelukannya.


Bagaimanapun juga,Nata hanya seorang laki-laki biasa yang masih normal,dia tidak bisa berpacaran dengan sembarang wanita karena aturan Abinya,yang akhirnya benar-benar membuatnya menjaga jarak dengan kaum wanita.


Dirinya juga bukan laki-laki pendiam seperti yang orang lain sangkakan.


Dia akan banyak bicara jika bersama dengan orang yang menurutnya mudah diajak bekerja sama.


..."Maaf pak...bisa tolong jangan lihat saya seperti itu..."...


..."Oh maaf,kalau begitu saya tunggu diluar..."...


..."Eh nggak usah pak,disitu aja,tapi jangan lihat saya..."...


..."Iya..."...


Anis baru saja akan membuka lemari miliknya,tapi Nata sudah menghampirinya.

__ADS_1


..."Paak..."...


..."Kenapa,saya hanya berniat mengambilkan baju saya untuk kamu..."...


..."Tapi saya sudah ambil baju saya pak..."...


..."Tidak apa,pakai ini saja."...


Nata mengambil baju kaos tipis dan celana training miliknya lalu menyodorkannya pada Anis.


..."Bapak nyindir saya?"...


..."Nyindir bagaimana?"...


..."Tadi siang saya memakai baju bapak karena saya tidak punya baju,sekarang baju saya sudah ada,jadi nggak perlu pakai baju bapak lagi..."...


..."Tapi saya ikhlas kok,kelihatannya juga cocok..."...


..."Baik pak..."...


Jika tidak mengingat pesan Abi Nata sore tadi,tentu saja dia akan dengan keras menolak apa yang diminta Nata.


..."Jangan lihat saya pak..."...


..."Eh maaf..."...


Nata membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan kembali ketempatnya semula.


Anis lalu mengganti bajunya dengan cepat.


Dan masih saja mengenakan handuk miliknya itu dikepala sambil terus memeganginya agar tidak terlepas.


..."Untuk apa handuk itu?"...


..."Pengganti jilbab pak..."...


..."Kenapa masih harus pakai jilbab saat dikamar seperti ini?"...


..."Saya malu pak..."...


..."Sama suami kamu?"...


..."Iya pak..."...


..."Mungkin saat ini,saya belum ada perasaan apa-apa sama kamu,tapi sekarang kamu istri saya,jadi tidak ada batasan untuk saya menjaga pandangan saya terhadap kamu..."...


..."Tapi pak..."...


Anis dengan kesal melepaskan handuk dikepalanya,memperlihatkan rambut tebalnya yang acak-acakan.


Karena melihat Nata masih duduk dimeja rias,dia memilih segera berbaring ditempat tidur,karena tidak ada sofa ataupun tempat duduk lain.


Anis menarik selimut dan menutupi setengah badannya.


Lalu berbalik menghindari tatapan Nata.


Nata beranjak berdiri dan duduk ditepi kasur.


..."Anis..."...


..."Iya pak..."...


..."Maafkan saya atas pernikahan ini..."...


..."Tidak apa pak..."...


..."Apa kamu tidak keberatan?"...


..."Saya tidak tahu pak..."...


..."Tidak tahu bagaimana?"...


..."Saya juga bingung pak,sebelumnya saya tidak pernah membayangkan akan menikah dengan orang yang tidak mencintai saya,tapi sekarang saya malah sudah menikah dengan bapak..."...


..."Kamu tidak suka?"...


..."Saya bukannya tidak suka,tapi saya takut bapak akan meninggalkan saya,jika selamanya bapak tidak bisa menyukai saya."...


Setetes air mata Anis membasahi pipinya.


Dia masih membelakangi Nata,jadi suaminya itu tidak akan menyadarinya.


..."Tapi saya juga hanya mengharapkan pernikahan satu kali dalam hidup saya,karena saya tahu perpisahan adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah..."...


..."Tapi bagaimana kalau bapak menginginkan pernikahan seperti itu dengan orang yang bapak harapkan..."...


..."Jujur saja,bahkan sampai saat ini,saya sendiri tidak punya bayangan apapun tentang istri saya,yang saya tahu jodoh itu adalah cerminan diri saya sendiri..."...


..."Jadi kalau begitu saya memang tidak pantas untuk bapak..."...


..."Kenapa bisa kamu berpikir seperti itu?"...


..."Karena saya hanya anak yatim yang menumpang hidup dipanti asuhan milik keluarga bapak,saya juga tidak punya apa-apa seperti bapak,dan saya juga tidak cukup baik untuk bisa jadi seperti bapak yang bahkan adalah seorang guru agama..."...

__ADS_1


Nata tidak bisa berkata-kata.


Anis gadis yang pandai,dia juga memahami keadaannya sendiri,tapi justru membuat Nata semakin merasa iba.


..."Apa bapak menyesal?"...


..."Karena apa?"...


..."Karena menikah dengan saya?"...


..."Entahlah,jika saya menyesal pun tidak akan mengubah semuanya kan?"...


..."Jadi...?"...


..."Saya akan mencoba menerima semuanya..."...


..."Baik pak..."...


..."Apa kamu masih akan bekerja dipanti?"...


..."Iya pak,jika saya masih diizinkan..."...


..."Saya tidak akan melarang,tapi bagaimana dengan Abi?"...


..."Besok saya akan tanyakan pada Abi..."...


..."Baiklah,sekarang tidur saja dulu..."...


..."Tapi pak..."...


..."Anis,saya akan mengenal kamu lebih dulu,anggap saja kita sedang berpacaran..."...


..."Maksud saya,tapi saya belum mengantuk pak..."...


..."Oh ya,maaf kalau begitu..."...


Nata malu bukan main karena mengira Anis menginginkan dirinya untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami.


..."Saya mau keluar dulu,boleh pak?"...


..."Kamu mau kemana?"...


..."Keteras disamping kamar bapak..."...


..."Sudah larut malam,sebaiknya kamu tidur saja,saya tidak akan menyentuh kamu sebelum kita semua siap dengan pernikahan ini..."...


..."Baik pak..." Anis yang sudah duduk,kembali berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut....


..."Kamu tidak akan bernafas jika seperti itu..."...


Anis mengabaikan ucapan Nata.


Pikirannya sibuk mencerna setiap apa yang dibeberkan Nata sejak tadi


Entah kapan mereka akan siap untuk suatu hal yang merupakan kewajiban suami dan istri.


Karena lelah berpikir,Anis akhirnya tertidur didalam selimut tebal yang menutupinya.


Nata yang masih berada diposisinya pun merasa lelah,dan membaringkan tubuhnya dengan pelan dibelakang Anis.


Dia menyadari gadis itu sudah tertidur.


Dan memutuskan untuk menurunkan selimut tebal itu dari wajah Anis.


Dia menatap sebentar pipi kiri Anis yang kemerahan.


Lalu kembali keposisinya.


Gadis itu memang cantik,sangat cantik menurut Nata.


Bagaimana mungkin selama ini,dia tidak menyadari keindahan wajah yang dimiliki istrinya itu.


Sambil terus menatap punggung Anis.


Nata bergumam sendiri.


..."Ya allah,jika dia memang baik untukku,maka dekatkanlah kami,tapi jika dia tidak baik,maka kuatkanlah kami dalam menerima semuanya..."...


..."Aku percaya,apapun yang engkau takdirkan untuk kehidupan seseorang,pasti itu adalah yang terbaik menurut engkau..."...


..."Lembutkanlah hati hamba-Mu ini,dan jadikanlah kami hamba-Mu yang selalu menjaga pandangan kami dari apa yang tidak halal bagi kami..."...


...*...


Nata akhirnya tertidur sambil menenggelamkan harapannya didalam tidurnya.


...🌷🌷🌷...


^^^"Bersambung..."^^^


..."Terima kasih yang sudah mampir..."...


..."Jika kalian suka,mohon dukungannya ya..."...

__ADS_1


__ADS_2