
Anis yang kini sudah berusia 20 tahun,karena tidak melanjutkan pendidikannya kebangku kuliah,dia akhirnya diminta oleh Umi Sarrah untuk menjadi pengasuh dan pengajar di Panti Asuhan.
Berkat kemampuannya berbahasa Inggris karena sempat mengikuti kursus selama setahun,dia mengajar Bahasa Inggris kepada anak-anak disana.
Meski terasa melelahkan,karena harus bekerja sampai malam hari,tapi dia harus menjalani semuanya dengan tabah.
Agar dia tidak selalu larut dalam kesedihannya ketika mengingat kepergian Ayahnya,juga pada sikap cuek ibunya saat ini.
Anis merupakan gadis pandai,jauh didalam hatinya,dia juga ingin melanjutkan pendidikannya.
Tapi karena tidak ingin berhutang budi lebih banyak pada keluarga Nata,dia memutuskan mengubur dalam-dalam harapannya itu.
Kini akhirnya,sedikit demi sedikit dia menemukan kebahagiannya,dengan selalu menatap wajah anak-anak di Panti yang selalu tersenyum seolah tanpa beban.
Juga sesekali dia memperhatikan Nata saat dirinya membantu dirumah Umi Sarrah.
...*...
Meski tidak mendapat gaji,tapi Anis selalu diberi uang jajan oleh Abi Rahman,meski berkali-kali menolak,tapi orang tua itu selalu memaksa karena tahu Anis juga butuh pegangan uang lebih untuk membeli keperluannya.
Meski ibunya selalu mengirimkan sedikit uang setiap bulannya,tapi Anis tidak pernah menggunakannya,dia hanya selalu mengecek kartu ATM miliknya setiap kali uang transferan dari ibunya masuk,semakin bertambah setiap bulan,tapi Anis bingung akan dia apakan uang itu,jika dia ingin pindah dari Panti,maka dia harus siap tinggal sendirian,sementara dia selalu ketakutan saat sedang benar-benar sendiri.
Itulah alasannya mengapa dia masih bertahan di Panti sampai saat ini meski usianya sudah dewasa.
Sejak Ayahnya meninggal sepuluh tahun lalu,dia menjadi anak yang penakut,dan sering gemetar saat mendengar suara petir.
Seiring berjalannya waktu,kini dia berusaha terlihat baik-baik saja meski ketakutannya tidak pernah hilang.
Sekarang karena usianya,dia diminta oleh Umi Sarrah dan pengasuh lainnya untuk tidur sendirian,karena anak-anak yang lainnya pasti akan merasa aneh jika harus tidur dengan pengasuhnya.
Meski takut,Anis akhirnya mengalah saja.
Dan akhirnya terbiasa dengan tidur sendiri,meski selalu berlari masuk ke kamar anak-anak saat sedang hujan dan petir.
Tumbuh menjadi anak yang mandiri saat masih muda,tidak mudah bagi Anis,dia sering merasa tidak diharapkan,karena ibunya tega menitipkannya ditempat ini.
Dia selalu bersedih saat melihat gadis lain yang seusianya tengah berjalan menuju kampusnya.
Dia juga sering merasa iri saat melihat anak-anak lain berjalan-jalan dengan kedua orang tuanya.
Dan setiap kali merasa seperti itu dia harus mengurung diri selama berjam-jam didalam kamarnya.
Pengasuh lain seolah sudah memahami kebiasaan gadis itu,mereka tidak bisa menenangkan ataupun menghibur,karena Anis selalu berkata dirinya akan segera kembali baik-baik saja.
...*...
Pagi ini,anak-anak merasa sangat senang karena kedatangan guru Agama yang sangat tampan.
Anis yang terlambat keluar dari kamarnya,menyadari ada hal yang berbeda hari ini.
Anak-anak sangat antusias menghadiri kelas pagi dibawah pohon rindang di samping Panti.
Mereka memang sering belajar di sana saat akhir pekan.
__ADS_1
Anis menatap mereka dari pelataran panti,tawa bahagia mengembang dari bibir guru agama mereka.
Anis sampai lupa berkedip menatap Nata yang sangat berbeda dari biasanya.
Salah satu anak perempuan melihat Anis yang berdiri bengong menatap mereka,tiba-tiba memanggil Anis untuk bergabung.
Nata ikut berbalik menatap Anis,senyumnya yang tadi terlihat lepas,kini menghilang dari wajah tampannya itu.
Karena semua anak-anak memaksa Anis ikut bersama mereka,akhirnya dia menurut saja,meski tau Nata tidak akan menyukai kehadirannya.
..."Pak Guru,disapa dong Guru Bahasa Inggris kami..."...
..."Ehh iya anak-anak..."...
..."Assalamualaikum..."...
Sapa Nata pada Anis dengan sedikit terpaksa.
..."Waalaikumsalam"...
..."Kak Anis berdirinya di samping pak Guru dong,biar kita nggak capek muter-muter kepala."...
Anis yang berdiri sangat jauh dari mereka,melangkah pelan menuju tempat Gilang berdiri.
Semua anak bersorak karena mereka terlihat sangat serasi ketika berdiri berdampingan.
Nata jadi salah tingkah sendiri.
..."Anak-anak kita belajarnya yang benar ya,jangan main-main,kalau mau banyak bercanda nanti kalau sudah selesai belajar."...
..."Saya minta tolong, bagikan ini kepada mereka,agar kamu terlihat bisa bekerja sama..." Nata tiba-tiba berbicara pada Anis....
Anis tanpa berkata-kata hanya mengambil beberapa lembar gambar Masjid yang belum diwarnai dan beberapa kertas yang mirip lembar ujian dari tangan Nata dan membagikan pada anak-anak asuh disana.
Nata lalu meminta Anis membantu mereka yang masih berusia dibawah delapan tahun untuk mewarnai gambar tersebut,dan membiarkan anak-anak yang lebih besar untuk mengerjakan lembar yang berisi soal-soal yang mudah.
Nata memperhatikan Anis sejenak yang serius membantu anak-anak,lalu kembali menundukkan pandangannya,menatap kertas jawaban dihadapannya.
Beberapa anak sudah mengumpulkan tugas mereka.
Nata masih menunggu yang lain selesai mengumpulkan.
Anis yang sudah selesai membantu mewarnai,mengumpulkan kertas yang kini sudah berwarna itu,lalu menumpuknya di depan Nata.
..."Tolong bantu beri nilai." Ucap Nata lagi....
Anis kemudian duduk disamping Nata dengan gugup.
Mereka duduk lesehan dengan meja kecil dihadapan mereka.
Anis memberi nilai pada kertas ujian,sementara Nata menilai gambar yang sudah diwarnai.
Sudah selesai...
__ADS_1
Anis kembali diminta membagikan kembali hasil nilai anak-anak.
Membuat anak-anak kembali bersorak gembira karena nilai mereka yang bagus.
..."Anak-anak,sekarang belajarnya sudah selesai,minggu depan saya akan kembali mengajar kalian,karena pengasuh yang mengajarkan Agama akan pulang kampung sementara"...
..."Yee asik,kita suka diajarin sama pak Guru ganteng kayak Bapak..."...
..."Kalian senang?"...
..."Senang sekali pak Guru..."...
..."Kalian mau diajarin sama Bapak lagi?"...
..."Mau dong pak..."...
..."Kalau mau,dari sekarang kalian harus belajar dengan baik,dan temui Bapak saat kalian akan masuk SMA nanti."...
..."Yaaa,masih lama dong pak."...
..."Makanya kalian harus semangat belajarnya ya..."...
..."Baik Pak..."...
..."Kalau begitu Bapak pamit dulu ya,Assalamualaikum."...
..."Waalaikumsalam..." Jawab mereka serempak....
Begitupun dengan Anis,yang suaranya hampir tidak terdengar.
Nata berbalik mengulang salam pada Anis.
..."Assalamualaikum."...
..."Eh iya Waalaikumsalam..."...
Nata meninggalkan mereka disana.
Lalu Anis mengambil alih untuk memberi mereka kelas tambahan hari ini.
Mereka belajar sambil bermain seperti biasa.
Anis selalu pandai menyesuaikan diri dengan anak-anak,dan orang sekitarnya,karena semua kesedihannya dia rasakan dan disimpan sendiri.
Hal itu membuatnya disukai oleh anak-anak panti yang sudah lama maupun yang baru datang.
Mereka bahkan melarang Anis menikah ataupun pergi jauh dari panti.
Umi Sarrah sangat menyayangi Anis,meski Umi sarrah juga memiliki anak perempuan yang masih duduk dibangku SMA.
...❤️❤️❤️...
..."Bersambung yaa..."...
__ADS_1
..."Terima kasih"...