
...🌷🌷🌷...
Pagi-pagi sekali Anis sudah keluar dari kamar menuju dapur,semalam dia harus tidur sendiri karena Nata yang memilih tidur diruang kerjanya.
Anis tetap membuat sarapan untuk Nata,meski suaminya mungkin tidak akan menyentuhnya.
Anis duduk menahan kantuk didepan meja makan.
Nata sudah keluar dari tempatnya bekerja,menuju kamar mandi dan melewati Anis yang sedang duduk menunggunya.
Selesai mandi,Nata masih berpura-pura tidak melihat Anis yang masih berada ditempat duduknya.
Karena merasa diabaikan,Anis masuk kedalam kamar dan melihat Nata yang sedang mengenakan pakaian kerjanya.
..."Aku tau abang marah,tapi abang sarapan dulu sebentar..."...
Nata tidak menjawab,dan hanya merapikan pakaiannya lalu segera keluar dari sana.
Dia menuju dapur,dan memakan sedikit sarapan yang dibuat Anis.
Anis menyusulnya.
..."Duduk..."...
..."Iya bang..."...
..."Jelaskan..."...
..."Aku belum siap bang..."...
..."Kenapa?"...
..."Aku takut abang ninggalin aku,aku takut kalau sampai sekarang abang masih belum nerima aku sama sekali,aku juga takut kalau aku bisa jadi seperti ibu yang sudah ninggalin aku sendirin dipanti,aku juga takut nggak bisa ngurusin anak kita sekaligus ngurus rumah..."...
..."Tapi kamu tau kan akibatnya kalau minum obat itu sebelum punya anak,kita akan susah punya anak,dan aku harus bilang apa sama Umi..."...
..."Maaf bang,aku nggak mikir sampai kesana..."...
..."Sejak kapan kamu mulai minum obat itu?"...
..."Lima bulan lalu bang...?"...
..."Setelah kita berhubungan untuk yang pertama kalinya...?"...
...Anis menggangguk....
..."Jadi sekarang bagaimana?"...
..."Aku akan berhenti..."...
..."Minggu depan kita kedokter..."...
..."Iya bang..."...
__ADS_1
...*...
Nata berangkat mengajar setelah menyalami Anis,meski tanpa mengatakan apa-apa.
Anis yang merasa kepalanya berat setelah menangis lama,memilih untuk tidak kepanti.
Dan memberi kabar pada ibu Lastri,bahwa dirinya sedang tidak enak badan.
Anis memilih membereskan rumah agar tidak larut dalam kegelisahan.
Setelah hampir siang,dia menerima telepon dari Umi Sarrah yang menanyakan dirinya,karena tidak mengajar.
..."Kamu sakit lagi Anis...?"...
..."Emh nggak Umi,cuma lagi sakit kepala sedikit,ini lagi beres-beres rumah juga..."...
..."Oh iya,Umi kira kamu demam lagi,karena kata bu Lastri kamu lagi tidak enak badan,ya sudah istirahat aja dulu,jangan suka memaksakan diri,supaya tidak sakit..."...
..."Baik Umi,terima kasih..."...
Sambungan telepon terputus.
Dia juga menerima pesan dari Nata.
..."*Kamu tidak kepanti?"...
..."Nggak bang..."...
..."Kenapa?"...
Nata tidak membalas lagi.
Anis melanjutkan pekerjaannya,menjemur pakaian dibelakang rumah.
Ketika semua sudah selesai,Anis menghempaskan tubuhnya diatas sofa.
Dia membuka tasnya yang sejak tadi malam masih berada di meja ruang tamu.
Pil miliknya juga masih berada disana.
Karena kesal,dia meremas pil berukuran mini itu sehingga semuanya terhambur kelantai.
..."Aku belum mau punya anak,aku mau kuliah,aku juga takut nggak bisa ngurus anak aku,aku takut jadi jahat kayak ibu aku..."...
Anis memunguti pil yang tergelatak didekat kakinya sambil menangis.
Dia tidak ingin memiliki anak secepat itu karena ingin melanjutkan sekolahnya,tapi sepertinya dia harus mengubur lagi mimpinya karena keluarga Nata menginginkan seorang anak darinya.
Dia juga menyadari pekerjaan Nata yang tidak mungkin bisa membiayai kuliahnya.
Jika saja dia tidak memikirkan adik-adiknya,dia pasti sudah memilih bekerja ditempat lain dan mendapatkan gaji.
Karena tidak ingin menutupi keinginannya itu,dia memutuskan mengirimkan pesan pada Nata,karena alasannya untuk tidak memiliki anak masih tersisa satu lagi yang belum dia jelaskan.
__ADS_1
..."Abang,aku mau kuliah..."...
..."Aku juga mau kayak perempuan lain yang punya pendidikan bagus,tapi kalau aku punya anak,aku nggak akan bisa kuliah lagi..."...
..."Aku tau,abang nggak peduli soal pendidikanku,tapi setidaknya abang bisa kasih aku waktu lagi,untuk memikirkan semuanya..."...
..."Kita bicara dirumah..." Balas Nata....
Setelah membaca pesan Nata,Anis memilih berbaring disana dan menatap pil yang dia kembalikan keatas meja.
Karena kepalanya terasa semakin berat,dia tertidur sambil memegang ponselnya.
...*...
Pukul satu siang,Anis terbangun karena Nata mengelus rambutnya.
Dia tertidur selama satu jam lebih,dia belum makan siang bahkan shalat dzuhur.
..."Abang sudah pulang...?"...
Nata mengangguk.
..."Aku mau shalat dulu,tadi aku ketiduran disini..."...
Nata berdiri setelah lama berjongkok memperhatikan Anis yang sedang tidur tadi.
Anis meninggalkan Nata menuju dapur.
Karena merasa lapar,dia buru-buru melaksanakan ibadahnya yang sudah terlambat.
Lalu kembali kedapur dan mengambil sedikit makanan.
..."Kamu belum makan?"...
Nata yang masuk kedapur untuk membuang pil milik Anis kedalam kantong sampah,melihat Anis yang sedang bersiap untuk makan.
Anis mengangguk tanpa melihat kearah Nata.
Matanya yang sembab membuatnya malu ditatap oleh suaminya.
..."Abang sudah makan?"...
..."Sudah..."...
..."Kenapa hari ini pulang cepat..."...
..."Ini hari Jumat,biasanya lebih cepat,tapi karena shalat jumat disekolah,jadi lebih lambat..."...
Anis mengangguk lagi,meski berusaha mengajak berbicara,tapi dia sama sekali tidak berani menatap Nata.
...🌷🌷🌷...
...>>> Bersambung >>>...
__ADS_1