
...🌷🌷🌷...
Setengah tahun setelah menikah.
Kehidupan Nata dan Anis masih sama seperti biasanya.
Mereka masih seperti dua orang bersaudara yang tinggal berdua tanpa orang tua.
Nata benar-benar belum siap sama sekali menyentuh istrinya,Anis.
Sementara Anis masih saja menyimpan perasaannya sendirian pada Nata.
Meski sering merasa kesal,tapi Anis tetap menghargai Nata sebagai suaminya.
Tapi enam bulan ini,Anis merasa sangat lelah bersandiwara didepan semua orang.
Hidupnya yang terlihat sempurna dengan memiliki suami seperti Nata,dan mertua yang sangat menyayanginya,tidaklah membuat Anis bahagia sepenuhnya,justru dia merasa semakin haus akan perhatian dan kasih sayang yang selama beberapa tahun tidak lagi dia dapatkan dari orang yang dia cintai,yaitu Ayahnya.
Dia berharap Nata bisa menggantikan sosok ayahnya.
Tapi nyatanya sampai enam bulan lamanya,Nata hanya menjadi suami dan imam yang sama sekali belum pernah memberi Anis sedikit perhatian yang berbeda.
Entah apa yang sedang mengganjal didalam dada Nata sehingga masih belum menerima Anis.
...*...
Angin bertiup kencang saat adzan maghrib berkumandang.
Nata yang bersiap menuju kemasjid,berhenti melangkah,karena Anis menahan lengannya ketika dirinya berada didepan pintu.
..."Kenapa Anis?"...
..."Aku takut kalau nanti hujan,terus aku sendirian disini..."...
..."Tapi biasanya kamu juga sendirian..."...
..."Kalau siang nggak papa,kalau malam aku takut..."...
..."Tapi aku harus kemasjid..."...
..."Hari ini shalat dirumah aja..."...
..."Anis,maghrib cuma sebentar,nanti selesai shalat aku langsung pulang..."...
..."Dirumah aja..."...
..."Anis___!"...
..."Kapan abang mau dengarin aku,kapan abang mau nurutin aku,kapan abang peduli sama aku..." Anis membanting buku yang sejak tadi dibaca dan dibawanya saat mengejar Nata kedepan pintu....
Isi buku kusam itu terlepas dari sampulnya,dan beberapa lembar berserakan didepan Nata.
Adzan maghrib sudah selesai,dan hujan pun tiba-tiba turun dengan derasnya.
Sederas air mata Anis yang menangis terisak didalam kamarnya.
Nata buru-buru memungut lembaran yang terhambur didekat kakinya.
Dan menyimpannya kemeja,lalu masuk kedalam kamar tamu dan melaksanakan ibadah shalat maghrib sendirian.
__ADS_1
Sementara Anis hanya memeluk mukena yang tadi dipegangnya sambil terus menangis disana.
Tapi karena takut melewatkan waktu beribadahnya,dia berdiri dan kembali mengambil wudhu lalu kembali kekamarnya.
...*...
Selesai shalat,mereka sama-sama berdiam diri ditempatnya masing-masing.
Sampai akhirnya Nata memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar tidurnya.
Anis yang masih mengenakan mukena, duduk diatas sajadah dan menyandarkan kepalanya dipinggir kasur.
Dia menangis lagi meski tidak bersuara.
..."Anis..."...
Suara Nata yang muncul didepan pintu kamar sama sekali tidak menganggu Anis.
Membuat Nata memutuskan langsung duduk didepan Anis.
Nata tercengang melihat wajah Anis yang sudah sembab dan masih dipenuhi air mata.
..."Anis...Aku minta maaf..."...
Anis menenggelamkan wajahnya kedalam lipatan kedua tangannya.
..."Anis..."...
Nata mendekatinya dan merengkuh bahu gadis itu.
..."Aku minta maaf..."...
..."A-aku mau pisah..." Sahut Anis terbata....
..."Anis..."...
..."Tapi kenapa?"...
..."Karena Abang nggak bisa nerima aku,abang nggak bisa ngerti perasaan aku sedikit aja..."...
..."Tapi Anis,aku juga sudah berusaha..."...
..."Nggak,abang nggak pernah berusaha nerima aku,abang cuma selalu berusaha untuk jauhin aku..."...
..."Anis,tapi aku sudah bilang semuanya butuh waktu..."...
..."Butuh waktu berapa lama lagi bang,ini sudah enam bulan..."...
..."Anis,tapi enam bulan masih terlalu sebentar..."...
..."Aku mau kita pisah aja..."...
..."Anis,jaga bicaramu..."...
..."Aku mau pisah,aku mau pisah,aku mau pisah,aku mau kita pisah---"...
Nata yang belum bisa menerima Anis,tapi juga tidak bisa berpisah begitu saja,berusaha menenangkan Anis yang sudah terlihat kelelahan karena terus menangis sambil memukuli dirinya.
Nata memegang kedua tangan Anis dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Anis terisak didadanya.
Nata yang belum pernah menghadapi Anis seperti itu,hanya bisa terus memeluknya tanpa bisa mengucapkan apa-apa lagi.
Anis sudah terlihat tenang.
Mukena yang dikenakannya menjadi berantakan.
Karena terus memberontak saat Nata berusaha menenangkannya tadi.
Nata belum melepaskan Anis dari pelukannya.
Lalu kembali memberanikan diri untuk berucap.
..."Anis,aku mungkin belum bisa menerima kamu,atau lebih tepatnya aku takut untuk menerima kamu,tapi aku juga tidak mau kita berpisah..."...
..."Aku takut kalau semuanya terlalu cepat,aku malah menyakiti kamu,tapi aku juga takut kalau kita berpisah,aku malah mengharapkan kamu..."...
..."Aku juga bingung harus apa,aku juga bingung karena harus pura-pura semuanya berjalan normal,tapi kita malah membohongi Abi dan Umi..."...
..."Aku juga bingung harus butuh waktu berapa lama lagi sampai aku bisa benar-benar jadi suami yang baik untuk kamu..."...
..."Selama ini,bukan kamu yang salah,cuma aku yang terlalu keras kepala,berusaha memikirkan semuanya sendirian,tapi malah menyakiti kamu."...
..."Anis,aku mau tanya sama kamu..."...
..."Apa kamu suka sama aku?"...
...Anis yang mendengarkan setiap ucapan Nata,bingung saat harus menjawab pertanyaan Nata....
..."Anis,aku tau kamu dengar aku..."...
..."Aku tanya sekali lagi,besok aku nggak akan tanya lagi..."...
..."Apa kamu suka sama aku?"...
..."Kamu nggak akan kayak gini kalau kamu nggak suka kan?"...
...Anis mengangguk......
Dugaannya tidak salah,Anis menyukainya...
..."Sejak kapan?"...
Anis menggeleng...
Nata memikirkan satu hal.
Jika gadis ini saja tidak tau kapan perasaannya tumbuh.
Lalu bagaimana dengan dirinya,entah kapan dia bisa menyadari perasaannya sendiri.
Karena tidak tahu harus berkata apa lagi,Nata melepas pelukannya dari Anis.
..."Anis,aku benar-benar minta maaf,tapi tolong kasih aku waktu sebentar lagi..."...
Anis mengangguk...
..."Terima kasih..."...
__ADS_1
...🌷🌷🌷...
...>>> Bersambung >>>...