
...🌷🌷🌷...
Seminggu setelah kejadian Anis menangis dan mengakui perasaannya.
Mereka diajak oleh Umi Sarrah untuk menginap dirumah Abinya,karena merayakan kelulusan Nita.
Umi Sarrah sengaja memilih hari sabtu agar besoknya mereka tidak perlu terburu-buru pulang.
Nata dan Anis menuju kesana setelah siang,karena Nata harus mengajar les dipagi hari.
Nata memesan taksi,karena menyadari Anis yang masih banyak diam.
Dia tau Anis pasti akan menolak jika diajak naik motor.
Mereka menunggu taksi didepan gang tanpa ada yang berani berkata-kata.
Nata sebenarnya takut,jika Anis terus bersikap seperti itu dirumah Abinya.
Baru saja Nata ingin berbicara,tapi taksi online yang dipesannya sudah tiba didepan mereka,membuat Anis buru-buru naik dan membuat Nata semakin bingung.
Diperjalanan,Anis terus memainkan ponselnya yang beberapa bulan lalu dibeli Nata untuknya.
Meski tidak begitu suka bermain ponsel,tapi kali ini,Anis sedang sibuk dengan pikirannya,sehingga membuatnya terus bolak balik memainkan benda kecil itu.
Taksi yang mereka tumpangi sudah sampai didepan rumah Abi Rahman.
Anis langsung masuk begitu saja, meninggalkan Nata yang terlihat gelisah dan ingin menyampaikan sesuatu.
..."Assalamualaikum..."...
..."Waalaikumsalam,eh Anis sudah datang,Nata mana?"...
..."Diluar Umi..."...
..."Kalian kenapa repot-repot bawa begini?"...
Umi Sarrah membuka bungkusan yang dibawa oleh Anis.
..."Nggak papa Umi,tadi bang Nata yang mau bawa buat Nita..."...
..."Nata masih tau aja apa yang disuka sama Nita,dia juga kayak gini kan sama kamu?"...
..."Iya Umi..."...
Nata mendengar percakapan Uminya dengan Anis,dan menyadari sampai saat ini dia sama sekali belum pernah memberi Anis sesuatu yang disukainya,jangankan untuk memberi,dia bahkan tidak tahu apa yang disukai istrinya.
Tapi Anis tetap menutupinya dengan berbohong pada Uminya.
Umi Sarrah menyadari kehadiran Nata dibelakang Anis.
..."Eh pak Nata,sini duduk dulu..."...
..."Iya Umi,aku lihat-lihat kekamar dulu..."...
..."Tenang aja,kamarnya bersih kok,beberapa hari sekali Umi bersihin,supaya kalau kalian datang sudah aman..."...
..."Makasih Umi..."...
Nata tetap naik kelantai atas,untuk menenangkan dirinya disana.
__ADS_1
..."Oh ya Umi sudah selesai masaknya?"...
..."Umi nggak masak sayang,kata Abi makanannya dipesan saja karena Umi sudah tidak begitu kuat untuk memasak banyak."...
..."Tapi aku sama bang Nata kan bisa bantu Umi..."...
..."Umi tau kalian juga pasti lelah,kamu harus bolak-balik kepanti lima kali seminggu,Nata juga harus mengajar kan..."...
Anis mengangguk.
Sambil menunggu makanan yang dipesan oleh Abi Rahman datang,Anis dan Umi Sarrah membersihkan ruang tamu.
...*...
Pukul setengah empat sore,semua makanan sudah siap dirumah Abi Rahman.
Mereka akan melaksanakan shalat ashar berjamaah terlebih dulu sebelum memulai acara sore itu.
Nata yang sudah turun dan sedang duduk disofa dengan wajah mengantuknya diminta oleh Abi Rahman untuk segera menuju mushola dan menjadi imam menggantikan Abinya.
Nata melangkah dengan santai menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Sementara Anis,Nita dan Uminya akan shalat dirumah.
...*...
Selesai melaksanakan ibadah sore itu,Nata memberi tahu semua penghuni panti untuk segera menuju kerumah Abi Rahman.
Anak-anak yang terlihat senang segera berlarian mengikuti langkah Nata.
Anis menyambut mereka dengan wajah yang terlihat sangat dipaksa untuk tersenyum.
...*...
Doa bersama sore itu dipimpin oleh Abi Rahman sendiri,karena Nata menolak untuk melakukannya.
Selesai berdoa,semua anak-anak panti asuhan dipersilakan untuk makan.
Sementara para pengasuh mereka duduk mengobrol bersama Abi Rahman dan Umi Sarrah.
Terlihat beberapa teman sekolah Nita yang juga diundang oleh Nita.
Mereka terlihat bahagia karena sudah berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah menengah,dan akan segera menuju bangku perkuliahan.
Ada rasa iri yang menyelinap didalam hati Anis.
Dia sendiri juga sangat ingin merasakan dunia perkuliahan,tapi dia juga menyadari keadaannya yang membuatnya menyerah untuk melakukan hal yang lain selain mengajar dipanti asuhan.
...*...
Sudah hampir senja,semua teman Nita sudah meninggalkan rumah Abi Rahman.
Anak-anak juga sudah kembali kepanti untuk mandi dan bersiap untuk kembali beribadah.
Sementara Anis dan Nita sibuk membersihkan ruang tamu.
Umi Sarrah dibantu oleh Nata sedang mencuci piring dibelakang.
..."Kak Anis kenapa?"...
__ADS_1
..."Eh kenapa Nita?"...
..."Dari tadi aku perhatiin kak Anis kayak orang musuhan sama abang...?"...
..."Emh enggak kok,kan lagi rame aja,jadinya nggak sempat ngobrol..."...
..."Heemmm iya ya..."...
Nita meragukan jawaban Anis,siapapun bisa tahu bahwa mereka sedang bertengkar atau apapun itu.
...*...
Sementara didapur,Umi Sarrah yang menyadari perubahan Anis sejak datang tadi.
Hanya bisa memberi tahu Nata untuk bersikap baik pada istrinya meski ada yang tidak disukainya.
..."Nata,jangan suka bikin istrimu sakit hati sama kamu,karena bisa bikin rezeki kamu terhambat kalau dia tidak mendoakan kamu yang baik-baik..."...
..."Iya Umi..."...
..."Jangan cuma iya-iya aja,kalau sampai istrimu marah gara-gara kamu,terus dia doakan kamu yang tidak-tidak bagaimana?"...
..."Iya Umi..."...
..."Kamu ini..."...
..."Umi kenapa sih,kok jadi kesal sama aku?"...
..."Umi tidak marah,cuma kasih tau kamu..."...
..."Iya Umi,tapi nadanya jangan keras-keras..."...
...*...
Nata keluar dari rumah untuk segera kembali kemushola.
Sementara Anis masuk kedalam kamar Nata.
Hanya tersisa lemari pakaian dan kasur didalam sana.
Selama enam bulan terakhir,mereka memang belum pernah menginap disana.
Hanya datang setiap akhir pekan mengunjungi rumah orang tuanya.
Anis sendiri,meski masih bekerja dipanti,jarang sekali mampir kesana,karena Nata sering terburu-buru saat menjemputnya.
...*...
Nata kembali kekamar setelah selesai shalat isya.
Dan melihat Anis yang duduk dilantai sambil menatap layar ponselnya.
Nata mengambil posisi yang sama disebelahnya.
Yang membuat Anis berdiri dan bersiap meninggalkannya.
...🌷🌷🌷...
...>>> Bersambung >>>...
__ADS_1