Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan

Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan
Bab 19. Bagaimana lagi.


__ADS_3

...🌷🌷🌷...


..."Halo readersku sayang..."...


..."Bantu kasih semangat othor ya...hehehe..."...


Sudah pukul sepuluh malam.


Anis masih duduk disofa diruang tamu,dirinya bingung harus berbuat apa.


Sejak tadi,mereka belum bertegur sapa sama sekali.


Mereka bahkan makan malam secara bergantian didapur.


Entah kenapa,Anis menjadi lebih takut berbicara saat mereka sudah tinggal berdua seperti saat ini.


Begitupun dengan Nata.


Awalnya dia berpikir,dengan tinggal berdua dia akan bisa dengan bebas menceramahi Anis,tapi kini mereka justru berada didalam situasi yang sangat canggung.


Apalagi Anis memang sudah berubah saat dirinya membahas tentang Ayahnya.


Nata masih berada dikamar tamu,setelah melaksanakan shalat isya tadi.


Sementara Anis sejak tadi sudah duduk disana setelah shalat isya dikamar tidur mereka.


Dia masih belum membeli ponsel,dan membuatnya seperti orang aneh yang duduk sendirian tanpa melakukan apa-apa.


Bosan dengan posisinya,dia merebahkan tubuhnya diatas sofa sambil memeluk bantal berbentuk hati didadanya.


Pikirannya terbang kembali kepanti.


Disana dia bisa langsung tertidur saat sudah berada diatas kasur.


Dan saat kesulitan untuk tidur,dia bisa diam-diam menyelinap masuk kedalam kamar adik-adiknya,lalu membacakan dongeng sepanjang malam untuk mereka.


Tapi sekarang,dia merasa semuanya berubah,dia sudah tinggal jauh dari panti asuhan,juga harus jauh dari Umi Sarrah dan Nita yang selalu membuatnya berani untuk berbicara dengan lepas.


Dia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.


Karena merasa hidupnya sudah digariskan untuk seperti itu.


...*...


Waktu terus berjalan,hingga jam dinding diatas kepala Anis menunjukkan pukul 11;30pm.


Anis tidak bisa tertidur disana,dia terus mengubah posisinya,tapi tetap saja matanya tidak bisa terpejam.


Nata yang berada dikamar tamu pun sama,sejak tadi dia hanya memainkan ponselnya meski tidak ada yang menarik.


Dia menunggu Anis masuk kedalam kamar,tapi istrinya itu tidak juga terlihat melewati kamar tamu yang berada tidak jauh dari tempat Anis duduk.


Karena malam semakin larut,akhirnya Nata memberanikan diri untuk keluar dan memanggil Anis masuk kedalam kamar.


Anis langsung bangun dan duduk saat Nata berdiri diambang pintu pemisah ruang tamu dengan ruang belakang.


..."Ayo masuk kekamar..."...


..."Saya mau tidur dikamar tamu aja pak?"...


..."Kenapa?"...


..."Saya takut ganggu bapak..."...


..."Tapi sebulan kemarin kita sudah terbiasa tidur berdua..."...


..."Itu karena dirumah Abi..."...


..."Maksud kamu?"...


..."Saya sebenarnya mau tidur ditempat lain,tapi karena disana ada Abi dan Umi,saya takut..."...


..."Jadi sekarang?"...


..."Saya mau tidur dikamar tamu pak..."...


..."I-iya,tapi kenapa harus kayak gitu?" Nata heran....

__ADS_1


..."Pak,saya tahu bapak nggak suka sama saya,saya juga tahu kemarin-kemarin bapak juga terpaksa tidur sama saya,jadi sekarang saya cuma mau tidur terpisah sama bapak..."...


..."Anis..."...


..."Kenapa pak?"...


..."Kamu maunya saya bersikap bagaimana?"...


..."Gimana apanya lagi pak?"...


..."Anis,jangan bikin saya bingung..."...


..."Saya cuma mau tidur sendiri aja pak..."...


..."Anis,tolong berhenti panggil saya dengan bapak,kita sudah sepakat untuk tidak pakai panggilan itu lagi..."...


^^^"Iya bang,kalau gitu aku pamit tidur dulu ya..."^^^


Nata menahan lengan Anis.


..."Abang,jangan bikin aku marah..."...


..."Justru kamu yang sudah bikin aku marah?"...


..."Kenapa abang?"...


..."Aku sudah bilang sama diri aku sendiri,aku akan coba nerima kamu,jadi tolong jangan berbuat aneh-aneh,kalau kamu mau diterima dengan cepat..."...


..."Malam ini aja,aku mau tidur sendiri..."...


..."Nggak..."...


Nata menarik lengan Anis menuju kamar utama mereka.


..."Abang lepas..."...


..."Nggak..."...


..."Baaang..."...


..."Tidur disini..."...


..."Tolong jangan aneh-aneh,sebulan lalu kamu masih bisa bicara meskipun tanpa disuruh,kenapa sekarang malah nggak bisa ngomong apa-apa?"...


..."Kamu pikir kita nikah untuk main-main,kamu pikir aku bukan laki-laki normal yang bisa nahan diri nggak berbuat apa-apa waktu kita tidur sama-sama..."...


..."Aku bisa jaga kamu sampai sekarang itu karena aku nggak mau melakukan sesuatu cuma karena hawa nafsu..."...


..."Jangan sampai kamu mikir aku nggak berani nyentuh kamu karena aku nggak normal."...


..."Aku cuma lagi berusaha untuk nerima kamu,aku berusaha untuk jatuh cinta sama kamu,aku juga berusaha untuk jadi suami yang pantas untuk kamu,aku jug---..."...


..."Ma-maaf..."...


..."Aku benar-benar minta maaf kalau sudah bicara keras-keras,aku minta maaf karena sudah banyak bicara,sekarang kamu tidur aja disini,aku yang tidur dikamar tamu..."...


Nata tanpa sadar terus berbicara,dan masih berniat melanjutkan ucapannya jika saja Anis tidak menggerakkan tangannya untuk menghapus air matanya yang sudah tidak bisa tertahan.


Nata segera meninggalkan Anis menuju kamar tamu dan merebahkan tubuhnya dengan keras disana.


Anis masih menyeka air matanya yang tersisa,dia tidak menduga bisa membiarkan dirinya sendiri menangis begitu saja didepan Nata.


Karena kepalanya mulai terasa berat,dia berusaha untuk tidur sendirian,meski rasa takut kini kembali menyelimutinya.


Dia akhirnya tertidur setelah sibuk bertengkar dengan isi kepalanya sendiri.


Begitupun Nata yang berada dikamar depan.


...*...


Pukul 04;40 Nata terbangun seperti biasa.


Bangun dijam seperti itu sudah menjadi kebiasaannya sejak dirinya memasuki usia remaja.


Meski sudah melaksanakan shalat malam dijam dua malam,dia tetap saja bangun subuh seperti biasanya.


Dia mengusap wajah dan menggaruk kepalanya,karena masih kesal pada dirinya sendiri yang sudah membuat Anis menjatuhkan air matanya.

__ADS_1


Dia takut jika Anis marah dan menyumpahi dirinya yang tidak-tidak.


Setelah merasa lebih baik,dia menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan bersiap menuju masjid yang berada tidak jauh dari rumahnya.


Abinya memang tidak pernah salah memilihkan rumah,pikirnya.


Karena meski tidak begitu ramai,tapi tetap saja sangat dekat dengan rumah ibadah mereka.


Dia tidak berani membangunkan Anis,karena takut jika gadis itu masih marah dan malah mengumpatnya.


Dia segera keluar dari rumah dan menguncinya dari luar.


...*...


Pukul 05;30,Anis terbangun dan langsung menuju kamar mandi,karena sudah terlambat melaksanakan ibadah subuh.


Dia takut Nata malah muncul dan memarahinya.


Tanpa menyadari Nata belum pulang dari masjid.


Setelah selesai subuhan,dia membereskan tempat tidurnya dan menuju dapur.


Tidak ada apa-apa disana.


Hanya beberapa mie instan dan telur didalam lemari.


Kulkas yang berada disana pun belum dipakai.


...Tadi malam sudah makan mie,masa sekarang makan mie lagi...Gumamnya sendirian....


Hari ini dia harus berbelanja,tapi mereka belum tahu letak pasar yang menjual sayuran.


Dia masih berdiri bingung didepan kompor saat Nata masuk kedalam rumah dan memberi salam.


..."Waalaikumsalam..." Jawab Anis pelan....


Nata yang langsung menuju dapur,menatap Anis yang sedang menimang-nimang dua bungkus mie instan ditangannya.


Anis yang seperti melupakan kejadian semalam,langsung bertanya pada Nata.


..."Dari Masjid?"...


..."Eh...Oh i-iya..." Nata malah menjawab dengan gagap....


..."Kita harus belanja,nggak ada apa-apa yang bisa dimasak disini,selain mie ini lagi..."...


..."Oh iya...mau pergi sekarang?"...


..."Nanti dulu,masih pagi sekali..."...


..."Iya,aku ganti baju dulu..."...


Nata meninggalkan Anis yang akhirnya memasak air untuk membuat kopi.


Nata kembali kedapur.


Sementara Anis membuat kopi untuknya.


..."Anis,aku minta maaf..."...


..."Nggak papa bang,aku juga minta maaf kalau sikapku bikin abang marah..."...


..."Kamu kenapa selalu berubah kayak gini?"...


..."Nggak tahu bang..."...


..."Kamu selalu bikin orang lain bingung..."...


..."Maaf bang..."...


Anis meninggalkan Nata,karena tidak ingin Nata terus membahas sesuatu yang membuatnya pusing.


Dia sendiri juga tidak mudah memahami perasaannya,dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu,hari ini dia bisa menangis hebat,besok dia sudah bisa kembali tertawa.


Dia sudah seperti itu sejak kepergian ayahnya,juga sejak ditinggal oleh ibunya,dia hampir tidak bisa memahami apa sebenarnya yang dia inginkan.


...*...

__ADS_1


...🌷🌷🌷...


...>>> Bersambung >>>...


__ADS_2