
...🌷🌷🌷...
..."Jadi aku harus bilang apa sama Umi...?"...
Nata duduk dan menatap Anis.
Anis menggeleng.
..."Anis,kalau memang kamu mau kuliah,kenapa tidak bilang sebelum kita nikah,kamu bisa jelaskan semuanya sama Umi dan Abi tentang keinginan kamu itu."...
..."Kalau saja kamu jelaskan lebih dulu,Abi juga pasti akan mempertimbangkan semuanya,tapi kenapa kamu tidak bisa bilang apa-apa?"...
..."Dulu,aku harus kuliah pakai apa bang?"...
..."Abi pasti mau mengurus semua biayanya."...
..."Tapi aku harus tau diri bang,dulu Abi sudah kasih kesempatan kursus aja aku sudah bersyukur,sekarang aku bisa mikir untuk kuliah karena uang yang dikasih ibu aku mungkin cukup untuk biaya kuliah,dan aku bisa menabung sedikit dari yang abang kasih sama aku..."...
..."Tapi Anis,kamu tahu sendiri pekerjaan aku sekarang bagaimana."...
..."Aku nggak berharap abang mau bantu aku sepenuhnya,karena uang yang dikirimkan ibu setiap bulan aku rasa cukup untuk membiayai kuliahku sampai selesai."...
..."Tapi Anis,sekarang kamu sudah punya suami,apa kata keluarga ibu kamu kalau tahu kamu masih menerima uang dari ibu kamu."...
..."Tapi kata ibu mereka nggak keberatan."...
..."Anis,apa kamu bisa menghargai aku sebagai suami kamu?"...
..."Kenapa bang?"...
..."Sekarang aku suami kamu,kepala keluargamu,aku yang berhak mengurus kamu,bukan ibu kamu."...
..."Tapi bang..."...
..."Sudah Anis,kamu tidak berhak untuk terus mengharapkan sesuatu dari ibu kamu,meskipun aku belum bisa membahagiakan kamu,tapi setidaknya kamu bisa menghargai dan menghormati aku sebagai suamimu,aku tidak melarang kamu untuk kuliah atau apapun itu,tapi kamu harus memikirkan keadaan aku juga,aku akan mengurus semuanya kalau pekerjaanku sudah lebih baik,kamu juga bisa tetap kuliah meskipun kita sudah punya anak."...
Anis berhenti makan dan meninggalkan Nata menuju kamar.
__ADS_1
Dadanya terasa sesak karena merasa hidupnya semakin serba salah.
Dia mencintai Nata,tapi melanjutkan pendidikannya juga adalah salah satu impiannya yang dulu sempat dia kubur dalam-dalam,dan ingin dicapai ketika kehidupannya membaik.
Setelah menikah,dia merasa baik-baik saja,Nata menafkahinya meski tidak banyak.
Dia juga menerima uang dari ibunya setiap bulan,meski sampai sekarang belum pernah ia gunakan.
Ketika dia memutuskan menggunakan tabungannya untuk melanjutkan kuliahnya,Nata justru menolak.
Dia tidak bisa lagi berpikir dengan baik,dan hanya bisa menangisi keadaannya.
Nata berdiri didepan pintu kamar membawa segelas air putih,karena Anis belum minum bahkan tidak menghabiskan makanannya.
Melihat Anis yang meringkuk dipinggir kasur membuatnya kalut juga.
Dia pun merasa jika Anis memang berhak melanjutkan pendidikannya,tapi bukan berarti harus mengharapkan pemberian ibunya.
Pekerjaannya saat ini,hanya cukup untuk mereka makan setiap bulan,dia juga malu jika harus meminta bantuan dari Abinya.
Dia mengacak rambutnya lalu menghampiri Anis yang suara tangisnya semakin keras.
Nata menarik Anis kedalam pelukannya,dan menenangkannya dengan mengelus rambut hitam istrinya.
..."Aku minta maaf Anis..."...
..."Tapi tolong pikirkan lagi semuanya dengan baik,apa masih pantas kamu berharap pada ibu kamu,sementara kamu memiliki suami."...
..."Aku malu kalau mereka semua sampai tahu aku seperti tidak berguna sebagai seorang suami."...
..."Aku mau kamu melanjutkan pendidikanmu karena aku,bukan karena orang lain."...
..."Itu saja,jadi tolong jangan salah paham."...
..."Uang dari ibu kamu,bisa kamu simpan untuk apa saja,asal jangan untuk membiayai hidup kamu sendiri,itu akan membuat aku merasa tidak dibutuhkan."...
..."Sekarang istirahat saja,besok aku akan membicarakan tentang keinginan kamu dengan Umi."...
__ADS_1
Nata mengangkat wajah Anis dan meminta gadis itu menatapnya.
Meski dengan air mata yang masih terus membasahi wajahnya,Anis memberanikan diri melihat wajah Nata.
Anis tahu,Nata sudah marah tentang pil miliknya,kini ditambah dengan keputusannya,pastilah membuat Nata semakin bingung.
Nata memberikan Anis segelas air yang tadi dibawanya.
Anis menerimanya dengan tangan gemetar.
Yang akhirnya dibantu oleh Nata.
Anis menghabiskan air putihnya.
Lalu menyeka air matanya yang masih terjatuh meski sudah ditahan.
..."Anis,aku sudah cukup bingung sejak kemarin,jadi tolong jangan terus bersikap seperti ini,aku tidak akan memberi tahu Umi tentang pil itu,tapi tentang kuliahmu,aku rasa aku tidak bisa menyembunyikannya dari Umi."...
..."Anis,mulai hari ini,katakan semua dengan jujur jika ada sesuatu yang kamu sembunyikan sendiri."...
..."Aku tidak suka kalau kamu menyimpan sesuatu sendirian,seperti halnya pil itu."...
..."Tidak peduli bagaimanapun perasaanku saat ini,aku tetap suami kamu,aku tidak akan diam saja jika ada sesuatu yang tidak aku sukai."...
Anis sama sekali tidak menjawab.
Dia akhirnya selalu kalah dari suaminya.
Jika tidak kalah,diapun tetap harus mengalah.
Kehidupannya sudah bergantung pada Nata dan keluarganya,yang membuatnya sulit untuk menentukan semuanya sendirian.
...🌷🌷🌷...
...----------------...
...>>> Bersambung >>>...
__ADS_1