Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan

Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan
Bab 8. Keputusan


__ADS_3

Hari senin pagi,hari yang ditunggu-tunggu Abi Rahman tiba,dirinya menunggu diruang keluarga.


Nata dan Anis masih berada didalam kamarnya masing-masing.


Mereka berada dalam kesulitan,tapi sebenarnya bukanlah hal yang begitu merugikan mereka.


Jika memang mereka ditakdirkan berjodoh dengan jalan seperti itu.


Maka mereka seharunya bersyukur,karena tidak perlu repot-repot mencari jodoh kesana kemari.


...*...


Baik Anis maupun Nata,sudah melakukan segala cara untuk menentukan pilihannya.


Nata turun kebawah menemui Abinya.


..."Bagaimana Nata?"...


..."Abi,apa aku boleh memikirkannya lagi..."...


..."Sudah satu minggu Nata,mau berapa lama lagi,dulu Abimu ini bahkan hanya punya waktu satu hari untuk memikirkan saat akan dinikahkan dengan Umimu..."...


..."Abi,tapi aku beda sama Abi..."...


..."Nataa..."...


Nata terdiam,tatapan mata Abi Rahman membuatnya tidak bisa berkata-kata.


..."Kenapa harus seperti ini,aku bahkan tidak melakukan apa-apa..." Batin Nata....


..."Baik Abi..."...


..."Bagus kalau seperti itu,tapi Abi akan tetap bertanya pada Anis juga..."...


Nata mengangguk dengan pelan,lalu meninggalkan Abinya kembali kekamarnya.


Sepertinya hari ini dia harus izin tidak mengajar,karena hatinya cukup gelisah.


...*...


..."Assalamualaikum..."...


..."Waalaikumsalam Anis,ayo masuk,Abi sudah menunggu didalam"...


Umi Sarrah sedang menyiram tanaman dihalaman rumah saat Anis datang.


Karena Anis sudah datang,dirinya menemani gadis itu masuk kedalam.


..."Abi,ini Anis sudah datang..."...


..."Mari duduk disini Anis."...


..."Baik Abi..."...


..."Bagaimana keputusanmu Anis?"...


..."Maaf Abi,tapi saya hanya mengikuti apa kata pak Nata..."...


..."Nata sudah setuju,jadi mulai sekarang sebaiknya kalian mempersiapkan diri,dan sebaiknya kalian jangan bertemu dulu,agar warga disini tidak begitu meributkan pernikahan kalian."...


..."Baik Abi..."...


..."Kalau begitu,kembalilah mengajar seperti biasa..."...


..."Iya Abi..."...


Anis juga kembali ke panti,semua orang menatap heran kepadanya.


Karena pagi-pagi sekali dirinya sudah dipanggil kerumah keluarga Abi Rahman.


..."Kak Anis,kenapa pagi-pagi sudah dari rumah pak Nata,kakak pasti kena marah sama Umi ya?" Tanya Maryam serius....


..."Nggak sayang,kakak cuma diminta untuk ngajarin kalian dengan benar,nggak ada apa-apa kok..."...


..."Emh iya deh kak,kalau gitu ayo cepat keperpustakaan,kita belajar disana,boleh kan kak?"...


..."Boleh sayang,panggil yang lain dulu ya..."...


...*...


Anis kembali mengajar anak-anak lain di perpustakaan meski hatinya tidak tenang.


Teringat kejadian seminggu lalu yang membuatnya harus tiba-tiba menikah dengan Nata.

__ADS_1


Meski sebenarnya tidak ada yang mereka lakukan,tapi dia juga sedikit kaget saat terbangun,karena Nata memang berada persis disampingnya dan memakai selimut yang sama.


Hanya itu...


Tapi orang tua Nata sepertinya begitu takut,jika hal yang tidak diinginkan terjadi pada mereka.


...*...


..."Kak Anis,kenapa diam aja?"...


..."Eh iya,maafkan kakak ya..."...


..."Kak Anis beneran abis dimarahin sama Abi Rahman ya,sampai nggak bisa konsentrasi begitu?"...


..."Emhh nggak kok,kak Anis cuma lagi kepikiran sama ibunya kakak..."...


..."Oh ya,tapi kakak beneran baik-baik aja kan?"...


..."Iya sayang,jangan tanya lagi ya,kalau tanya lagi kakak jadi marah nanti,hehehe..."...


..."Iya kak..."...


Jawab semua anak-anak yang sedang membaca buku bersama-sama.


...*...


Selesai membaca buku,mereka keluar menuju tempat belajar dibawah pohon rindang seperti biasanya.


Anak-anak tampak riuh,ketika Nata melewati mereka.


..."Pak Nata,mau kemana?" Tanya Maryam yang selalu saja ramah pada semua orang....


..."Mau jalan-jalan sebentar,kalian belajar yang benar ya..."...


..."Iya pak,tapi kami mau diajarin sama bapak lagi..."...


..."Nanti ya,sekarang bapak lagi sibuk..."...


..."Siap pak..."...


Ada rasa penasaran didalam diri Anis,tapi jangankan untuk bertanya,menatap laki-laki itu saja dia tidak sanggup.


Dia bahkan tidak menyadari Nata yang melirik kearahnya.


Entah karena malu atau takut untuk menatap dirinya,Nata menjadi sedikit bimbang atas keputusannya,setelah melihat perubahan pada diri Anis.


Bagaimana dia bisa menikahi gadis itu,jika tanpa ada rasa cinta didalam hati mereka.


Nata terus berjalan kaki sampai diujung jalan,semua orang tampak mengenalinya.


Dia sebenarnya tidak nyaman,tapi karena berniat menjernihkan pikirannya dipagi hari ini,dia memutuskan untuk berjalan-jalan disana,dan menyapa semua orang yang melihatnya.


Karena lelah berjalan,dirinya mampir disalah satu kedai yang menjual minuman dingin.


Dia membeli satu botol,dan meminumnya disana.


Dan karena tidak punya tujuan,dia akhirnya kembali berjalan untuk pulang.


...*...


Suasana sudah sepi di bawah pohon yang tadi ramai oleh anak-anak panti,mungkin sedang belajar didalam,atau sedang beristirahat.


Nata singgah untuk melihat-lihat keadaan disana.


Pandangannya tertuju pada Anis yang sedang duduk dibawah pohon sambil memainkan ujung jilbabnya.


Jika saja bisa,dia ingin bertanya pada gadis itu tentang perjodohan mereka.


Tapi demi menjaga diri dari dugaan orang lain,dia mengurungkan niatnya.


Biarlah semuanya berjalan seperti air mengalir, Pikirnya.


Nata pergi dari sana,kembali ke rumahnya.


..."Nata,darimana saja kamu ini?"...


..."Jalan-jalan Umi..."...


..."Kenapa tidak mengajar?"...


..."Maaf Umi,tapi aku lagi pusing..."...


..."Karena keputusan Abimu?"...

__ADS_1


Nata tidak menjawab,dan hanya berlalu meninggalkan Uminya yang sedang berada diteras rumah.


Didalam rumah,kembali dia bertemu Abinya.


..."Nata..."...


..."Iya Bi..."...


..."Pernikahanmu akan dilangsungkan awal tahun depan..."...


..."Baik Abi..."...


..."Persiapkan dirimu dari sekarang,dan jangan menemui Anis sampai waktu pernikahan kalian tiba."...


Nata mengangguk,dan duduk dikursi didepan Abinya.


..."Abi,apa menikah karena perjodohan itu akan membuat orang bahagia?"...


..."Nata,apa kamu masih ragu?"...


..."Maaf Abi,tapi aku takut tidak bisa membahagiakan istriku nanti..."...


..."Nata,semua orang akan bahagia jika merasa dirinya pantas untuk bahagia,kamu tidak perlu ragu pada keputusanmu jika kamu sudah meminta bantuan pada yang maha mengetahui..."...


..."Tapi Abi,aku tidak punya perasaan apa-apa pada Anis?"...


..."Abi tahu,dulu Abi bahkan kesulitan untuk mencintai Umimu karena sikapnya yang kekanakan,tapi seiring berjalannya waktu,Abi malah takut jika Umi jauh-jauh dari Abi,dan setelah itu,lahirlah kamu dan adikmu,Abi menjadi semakin menyayangi Umi karena tidak pernah mengeluh merawat kalian,Abi percaya kamu pasti bisa mencintai Anis..."...


..."Lalu bagaimana dengan Anis,Abi?"...


..."Abi rasa,dia tidak akan kesulitan,bisa saja dia sudah jatuh cinta lebih dulu sama kamu,Nata?"...


..."Bagaimana Abi bisa yakin?"...


..."Abi pernah melihat dia sedang memandangi kamu,meskipun Abi juga tidak tahu apa maksudnya,tapi Abi percaya dia akan menyukaimu..."...


..."Yang benar saja Abi,Anis mungkin saja memandangi semua orang seperti itu..."...


..."Hahaha,kamu benar juga Nata,tapi percaya saja pada Abi,semuanya akan baik-baik saja..."...


..."Abi,menikah itu kan ibadah,tapi kalau ibadahnya dipaksa,apa bisa mendapat pahala?"...


..."Nata,jadi kamu menganggap pernikahanmu ini terpaksa?"...


..."Tidak juga Abi,karena aku juga bisa saja menolak,meskipun aku tahu Abi akan marah..."...


..."Lalu kenapa tidak menolak saja?"...


..."Aku juga ingin mencoba..."...


..."Nata,kamu jangan berpikir untuk mempermainkan sebuah pernikahan,jika sudah menikah,kamu harus menjalankan tugasmu sebagai kepala rumah tangga dan juga pemimpin bagi keluargamu,tidak ada istilah coba-coba untuk menikah."...


..."Aku tahu Abi..."...


..."Lalu apa maksudmu dengan kata mencoba?"...


..."Mencoba mencintai,Abi..."...


..."Yang benar saja kamu ini..."...


..."Maaf Abi,aku naik dulu..."...


..."Jangan lupa,persiapkan dirimu..."...


"Baik Abi,oh ya,aku mau tanya satu lagi,Abi..."


..."Apa itu?"...


..."Bagaimana aku menafkahi Anis nanti,karena pekerjaanku sekarang masih sebagai guru yang tidak mengajar setiap hari."...


..."Tenang saja Nata,setelah menikah insya Allah rejekimu akan terus ditambah."...


..."Baik Abi..."...


Nata kembali kekamarnya.


Sebulan lagi.


Dia akan menjadi seorang suami untuk Anis.


Gadis dari panti Asuhan yang kini sudah menjadi gadis dewasa.


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


^^^"Bersambung..."^^^


__ADS_2