Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan

Menikah Dengan Gadis Panti Asuhan
Bab 5. Aku ingin bahagia.


__ADS_3

Mereka sampai dipanti asuhan.


Umi Sarrah membangunkan Anis.


Mata Anis membengkak,karena menangis lama.


Kepalanya terasa berat dan sakit.


..."Anis,masuklah kedalam,istirahatlah dulu,semoga kamu bisa tegar menghadapi semuanya..."...


..."Baik Umi."...


..."Keluarlah untuk makan setelah kamu merasa lebih baik,adik-adikmu sepertinya mengkhawatirkanmu."...


..."Iya Umi..."...


Anis melangkahkan kakinya masuk kedalam panti,dan menuju kamarnya.


Adik-adiknya hanya menatap dalam diam,begitu pula dengan para pengasuh yang lain.


..."Kakak kasihan sekali,baru kali aku melihat dia seperti itu..." Ucap Maryam,salah satu adiknya....


..."Anak-anak,kalian jangan ganggu kak Anis dulu ya,biarkan dia tenang dulu,setelah ini dia pasti akan lebih baik lagi..." Pesan Ibu Lastri....


..."Oh ya,saat kak Anis keluar nanti,jangan ada yang bertanya apapun tentangnya hari ini,dia pasti akan kembali merasa sedih kalau kalian banyak bertanya,kalian paham!" Pesan ibu pengasuh lainnya....


..."Baik bu..." Jawab mereka serentak....


Sementara didalam kamarnya,Anis menatap lekat foto keluarganya saat dia berumur tujuh tahun.


Mereka tampak bahagia disana.


Air matanya kembali mengalir deras,membayangkan kehidupannya kini,dia benar-benar seperti anak gadis sebatang kara yang hidupnya dihabiskan didalam panti ini.


Puas menangis,Anis memasukkan foto keluarganya kedalam kotak kecil,dimana dia selalu menyimpan barang milik ayah dan ibunya dan bisa dia kenang.


Setelahnya,dia merebahkan tubuh diatas kasurnya.


Dia menyesali sedikit tentang hidupnya,tapi juga merasa bersyukur karena Umi Sarrah dan keluarganya begitu menyayangi dirinya.


..."Aku ingin bahagia..." Desisnya perlahan sebelum tertidur....


Dia tertidur lama dan melewatkan makan siangnya.


Tanpa ada yang berani mengganggu untuk membangunkannya.


Sore hari,dia terbangun dan merasakan kepalanya semakin sakit,


Karena tidak tahan,akhirnya dia bersiap keluar untuk mencari makanan didapur,tapi saat membuka pintu kamarnya,ada makanan yang diletakkan disana.


Suasana panti sudah sepi,karena anak-anak yang lain mungkin sudah masuk kedalam kamarnya.


Dia mengangkat nampan yang berisi nasi dan beberapa lauk yang berbeda dari biasanya.


Entah siapa yang meletakkannya begitu saja disana.


Anis memakannya dengan pelan,dan sedikit dengan paksaan,karena dirinya sama sekali tidak merasa lapar,tapi karena ingin meminum obat,dia harus mengisi perutnya terlebih dulu.


Selesai makan,dia mencari obat penghilang nyeri dikotak obat miliknya.


Dia menemukan obat sakit kepala yang hanya tersisa satu.


Setelah meminum obatnya,dia membereskan sisa makanannya dan keluar menuju dapur.

__ADS_1


Saat bersiap untuk mencuci piringnya.


Ibu Lastri muncul dan memberi tahu dirinya agar mengembalikan nampan itu kerumah Umi Sarrah.


..."Anis,kamu sudah lebih baik nak?"...


..."Iya bu,aku cuma lagi sakit kepala sedikit,tapi sudah minum obat..."...


..."Baiklah,Oh ya,setelah dicuci,tolong kembalikan nampan dan piringnya kerumah Umi Sarrah ya..."...


..."Kenapa bu?"...


..."Makanan itu dari Umi,tadi anaknya yang mengantarkan kedepan kamarmu..."...


..."Nita bu?"...


..."Bukan nak,tapi Nata..."...


..."Nata?"...


..."Iya Anis,mungkin karena disuruh sama Umi Sarrah,dan Nita juga mungkin sedang tidak ada dirumahnya."...


..."Oh iya bu,terima kasih sudah memberi tahu."...


..."Ya sudah,ibu tinggal dulu ya..."...


..."Iya bu..."...


Anis mencuci piringnya,kemudian mengeringkannya sebentar,dan meninggalkan dapur untuk membawanya kerumah Umi Sarrah.


..."Assalamualaikum Umi..."...


..."Waalaikumsalam Anis,kamu sudah merasa enakan nak?"...


..."Iya Umi,terima kasih karena Umi sudah repot-repot mengantarkan makanan untuk saya..."...


..."Maafkan saya Umi,karena sudah membuat semuanya khawatir..."...


..."Tidak apa nak,ya sudah sini masuk dulu..."...


..."Tidak usah Umi,saya mau istirahat dulu,besok pagi sebelum mengajar saya akan datang..."...


..."Baiklah Anis..."...


Setelah meletakkan peralatan makan milik keluarga Umi Sarrah,Anis segera bergegas keluar dari sana karena tidak ingin Nata melihat dirinya yang masih begitu menyedihkan.


..."Kalau gitu saya permisi ya Umi..."...


..."Iya Anis..."...


Anis kembali kekamarnya.


Bias cahaya senja mulai menutupi awan sore,Anis menatap langit jingga dari jendela.


Hatinya masih terasa perih,kenapa harus dirinya yang merasakan semua rasa sakit sendirian.


Dia membiarkan jendela kamarnya terbuka sambil menikmati senja.


Tapi panggilan untuk menjalankan ibadah bagi mereka sayup-sayup sudah terdengar,membuatnya buru-buru menutup jendela kaca kecil didepannya itu.


Dia beranjak berdiri,menuju musholla kecil yang dibangun khusus untuk penghuni panti asuhan.


Setiap hari mereka melaksanakan ibadah disana.

__ADS_1


Hari ini pun tampak berbeda dari biasanya,karena Nata menggantikan Abinya menjadi imam bagi mereka.


Suara merdunya saat melantunkan ayat-ayat suci membuat Anis bergetar.


Dia kembali merasa lebih baik,setelah menjalankan shalat magrib bersama adik-adiknya yang di imami oleh Nata,laki-laki dewasa yang sudah lama dia sukai diam-diam.


Selesai berdoa,Anis memilih duduk dipojok kiri mushola,memandangi anak-anak yang sedang membaca dan menghapal kembali hapalan mereka.


Dia memilih duduk disana,karena para pengasuh yang lain memintanya untuk mengawasi anak-anak sementara mereka kembali menyiapkan makan malam.


Anis sudah kembali tersenyum,yang membuat adik-adiknya berani mendekatinya tanpa ragu.


..."Kak Anis,besok kakak sudah bisa ngajarin kami lagi kan?" Tanya Maryam yang dianggap pemimpin oleh anak-anak lain,karena kepintarannya setara dengan Anis....


..."Iya adik-adikku yang baik,terima kasih sudah mau nungguin kakak ya..."...


..."Karena cuma kak Anis yang bisa ngajarin kita bahasa Inggris,heheh..."...


..."Kalian bisa saja,kan kalian bisa belajar sama Maryam,dia kan juga pintar..."...


..."Tapi Maryam suka nyebelin kak,dia suka marah-marah kalau ngajarin kita,nggak kayak kak Anis,hehehe..."...


Maryam sampai manyun mendengar teman-temannya mengeluhkan sikapnya.


..."Anak-anak nggak boleh kayak gitu ya,Maryam itu sebenarnya sama kayak kakak,kak Anis juga suka marah-marah kalau kalian nggak mau berhenti main waktu lagi belajar,tapi sayang,marah-marahnya dalam hati aja..."...


..."Jadi selama ini Kak Anis juga suka ngomel-ngomel dong..."...


..."Suka dong,makanya kalian jangan bandel ya..."...


..."Iya deh kak,iya..."...


Dibagian depan,Nata yang duduk bersama anak laki-laki, mendengarkan Anis yang terdengar sudah lebih ceria,padahal tadi siang,melihat wajahnya saja sudah membuat semua orang ingin ikut menangis saja.


..."Dia pintar menyembunyikan kesedihannya,tapi apakah itu tidak membuatnya merasa sesak..." Batin Nata yang merasa tidak bisa dibohongi oleh Anis....


Tapi anak-anak yang masih polos itu,begitu mudahnya percaya pada kakak perempuan tertuanya itu.


..."Anak-anak,kalian bisa melanjutkan hapalan kalian,sambil menunggu shalat isya..."...


..."Baik pak Guru..."...


Nata masih duduk disana membaca buku yang tersedia didalam rak,sambil menunggu Abinya tiba.


Begitu pun yang dilakukan Anis dibagian belakang.


Sampai tiba waktu isya,Abi Rahman belum juga tiba,membuat Nata kembali menjadi imam bagi anak-anak juga beberapa pengasuh disana.


Anis benar-benar merasa berbeda saat Nata mengimami mereka,ada rasa ingin memiliki Nata dan menjadikan imamnya sendiri,tapi semua itu sama sulitnya seperti menggapai bulan diatas sana.


...*...


Mereka kembali kedalam kamar masing-masing.


Anis berdiri diluar mushola menatap punggung Nata yang berlalu meninggalkan mereka.


..."Manis sekali dia..."...


..."Andai aku bisa menikah dengannya,mungkinkah aku akan bahagia..."...


Batinnya sambil menunduk menatap rumput kecil yang diinjaknya.


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


..."Bersambung ya..."...


..."Mohon bantu likenya untuk cerita ini ya..."...


__ADS_2