
Menjadi anak seorang pekerja keras dan juga orang yang taat beragama.
Membuat Nata Habibi juga sulit untuk bertingkah layaknya anak remaja pada umumnya.
Nata muda saat itu,beberapa kali mendapat hukuman dari Abinya untuk membantu di panti asuhan karena sering kali ketahuan berpacaran disekolahnya.
Sampai akhirnya ketika dia memasuki bangku perkuliahan,dia menjalin hubungan yang bisa dibilang serius dengan salah satu teman kampusnya,dua tahun menjalani hubungan tanpa diketahui orang tuanya,membuatnya merasa baik-baik saja.
Namun tidak ketika beberapa teman berkunjung kerumahnya dan secara gamblang mempertanyakan hubungan Nata dengan gadis kampus yang terkenal karena kepintarannya.
Abinya yang saat itu mendengar dari balik ruang tamu,bersiap untuk memarahinya.
Teman-teman sekampusnya yang merasa keceplosan akhirnya buru-buru pamit pulang.
Nata menyadari betul bahwa Abinya akan segera mengomelinya.
Dan ternyata,bukan hanya mendapat omelan,tapi sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Nata sampai pusing dibuatnya.
Jika saja Uminya tidak segera menyabarkan suaminya,tentu saja ucapan berbeda akan terus keluar dari mulut orang tua yang sangat dihormatinya itu.
..."Putuskan dia,atau kamu harus segera menikahinya,Abi tidak peduli jika kamu tidak siap,Abi sudah katakan berkali-kali agar kamu menjauhi hal-hal seperti itu,apa kamu tidak malu dengan keadaan kamu yang sedang menempuh pendidikan Agama."...
..."Tapi Abi,aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh"...
__ADS_1
..."Tidak untuk saat ini,tapi jika kamu terus berlama-lama bersama lawan jenis,apa kamu yakin bisa menahan diri kamu?"...
Usianya 21 tahun saat itu.
Setelah mendapat tamparan keras dari Abinya,dia memutuskan gadis kampus itu,yang juga membuatnya dijauhi beberapa teman perempuannya.
Sejak saat itu,dia tidak lagi ingin menjalani hubungan pacaran dengan siapapun,dia seperti menutup dirinya dari semua teman perempuannya,daripada harus dipaksa menikah muda,pikirnya.
Meski sebenarnya tetap saja dia selalu iri dengan teman-temannya yang selalu membawa teman perempuan.
Tapi perlahan dia bisa menerima nasibnya.
Setelah menamatkan pendidikannya,dia mengajar pindah-pindah dari satu sekolah ke sekolah yang lainnya sambil mengajar anak-anak disekolah-sekolah pinggir jalan secara gratis.
Berkali-kali mengikuti ujian tes PNs,tapi selalu gagal.
Karena belum ada orang yang menggantikannya,dia bertahan disana sampai Anis lulus sekolah.
...*...
Dirumahnya,dia sering melihat Anis yang membantu Uminya.
Dia heran,karena gadis itu selalu saja menurut apapun yang Uminya perintahkan.
Meski tidak pernah memandang wajah gadis belia itu,tapi dia tahu bahwa gadis itu anak yang baik-baik.
__ADS_1
Disekolah pun,tidak pernah mendengar keributan yang menyebut namanya.
Beruntung Nata tidak pernah menganggap Anis seperti gadis-gadis pada umumnya.
Dia juga sebenarnya tidak begitu peduli jika ada seorang perempuan didekatnya.
Dia hanya sering terganggu karena Anis sering kali menampakkan diri dirumahnya.
Dia tidak tahu harus menganggap Anis apa,karena selain tinggal di panti,dia juga seperti menjadi anak asuh Uminya.
Jadi dia memutuskan untuk tidak peduli.
Sampai akhirnya mereka terkunci di salah satu ruangan panti asuhan.
Membuat Umi dan Abinya langsung meminta mereka untuk menikah secepatnya.
Hari itu Nata seperti disambar petir mendengar keputusan Abinya.
Penjelasannya sama sekali tidak berguna.
Apalagi Nata yang hari itu bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa karena Abinya sibuk menginterogasi dirinya saja.
...***...
...Silakan ikuti kisah selanjutnya di Bab berikutnya yaa.....
__ADS_1
...❤️❤️❤️...