
Alicia menatap jalanan kota dari atas balkon. ia menatap langit biru di Sertqi kicauan burung yang terbang bebas. "Anna....tolong aku...." Alicia menatap pedih kearah depan, pandangannya kosong. sebegitu sukanya orang orang memperlakukan dirinya dengan hina.
Alicia merasa dirinya begitu tidak penting. dari dulu ia selalu mementingkan kepentingan orang lain. saat masih tinggal dengan keluarga angkatnya, Alicia selalu di perlakukan semena mena, namun Alicia hanya diam, karna dia sangat berterimakasih, sudah mau mengangkatnya dari panti asuhan.
Alicia juga tetap diam, saat ibunya itu selalu mementingkan kakak angkat nya. kadang, jika ada acara acara penting keluarga, kedua kakaknya itu akan dibelikan baju baru, sementara dirinya tidak, melainkan pakaian bekas kakaknya. Alicia menerimanya dengan senyuman merekah, dia bahagia, meski pakaian bekas, setidaknya Dimata Alicia terlihat indah.
saat ada acara penting untuk khusus keluarganya saja, semua keluarga Alicia akan berkumpul, dari keluarga jauh, hingga keluarga dekat, namun Alicia di asingkan, dia sengaja di buat sibuk agar tidak ikut berkumpul di ruang makan bersama keluarganya. bahkan, terang terangan ibu angkatnya menyuruhnya untuk makan di ruang pelayan saja.
Alicia menerimanya dengan tersenyum, meski hatinya ingin sekali ikut berkumpul bersama mereka.
Alicia ingin sekali tertawa dan bercanda seperti mereka, namun Alicia sadar, jika dirinya disana bukan siapa siapa.
__ADS_1
Alicia pun hanya ikut dan menurut saja, daripada ia terkena masalah. saat Alicia beranjak dewasa, Alicia mulai dipaksa untuk bekerja keras, ibu angkatnya awalnya membantu Alicia membayar uang pendaftaran masuk sekolah SMA.
namun setelah itu Alicia di lepas, Alicia banting tulang untuk mencari biaya sekolahnya. kadang jika Alicia tidak mampu membayar uang SPP setiap bukan sekali, Alicia akan di maki dan dihina. Alicia bahkan rela bekerja setelah pulang sekolah sampai larut malam, tanpa kenal rasa lelah.
Alicia hanya mampu menerima ujian itu semua dari yang maha kuasa. ia pasrah pada kehidupannya, ia berusaha menjalaninya dengan tabah. Alicia merasa dirinya sampah tak berguna di mata mereka, tapi bagi Alicia, dirinya yang terhebat, karna dia mampu menahan beban berat itu semua.
tapi berbeda saat menikah dengan Alexander, Alicia baru kali ini merasa sangat tertekan, ia merasa sangat lelah menghadapi sikap suaminya yang sering kali berubah, kadang membuatnya bersikap lembut, kadang bersikap kasar dan dingin.
malam harinya.
dengan langkah tegap ia berjalan menuju ruang makan, karna biasanya Alicia ada disana.
__ADS_1
benar saja, ia melihat Alicia tengah membuat makan malam untuk nya. ia mendekatinya, ia menarik kasar tangan Alicia dan menekannya di dinding.
"Akhh...tu-tuan...."
"kemana saja kau"
"ak-aku membuat makan malam tuan..."
"apa kau lupa dengan tugas mu lagi! apa perlu sekarang asisten Zayyan membacanya untukmu, agar mau membuka telingamu yang tuli itu lebar lebar!"
"maaf, aku lupa waktu.....aku...aku tidak sempat menyambut mu pulang....maafkan aku...." lirih Alicia menahan sakit di punggungnya. Alexander menatap tajam wajah cantik Alicia, kemudian ia menghempaskan kasar tubuh kecil itu.
__ADS_1
"siapkan makan malam ku dengan cepat! aku tidak butuh gadis siput seperti mu"
Alexander pun pergi meninggalkan ruang makan, ia berjalan dengan cepat memasuki lift. Alicia menatap punggung kekar itu perlahan menjauh dan menghilang. ia berusaha untuk tidak menangis, karna ia melihat banyak pelayan, Alicia takut membuat mereka sibuk memperhatikan dirinya, ia pun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya.