
Alicia menundukkan kepalanya, berusaha menahan rasa ingin menangis, hatinya seperti di hujam batu besar. ia lebih memilih di siksa secara fisik oleh keluarga angkatnya, daripada disiksa secara batin oleh keluarga suaminya. Alicia merasa tak pantas menginjakkan kakinya di rumah ini.
rasa minder kembali menyelimuti dirinya. ia berjalan mendekat kearah meja makan, dari kejauhan, ia sudah melihat, Alexander berbincang bincang dengan seorang wanita cantik yang di duga calon istri suaminya.
*ya Tuhan, berilah kesabaran yang kuat untuk menghadapi masalah ini*
Alicia bingung harus melakukan apa, namun suara kasar ibu mertuanya sedikit membuatnya terkejut. "apa lagi yang kau lihat, cepat sajikan makan malamnya" kasar mama Alexander membuat Alicia gugup dan segera membantu para pelayan menyajikan makanan.
Alicia menatap suaminya, pria itu tidak merespon apapun, justru malah tidak perduli sama sekali, ia masih mengobrol biasa dengan wanita cantik disamping nya.
"ma, dia siapa" tanya ayah Alexander pada istrinya. "dia istri Alexander, hanya istri sementara, jangan di perdulikan"
"apa! apa mama sudah gila! membiarkan anak itu bersikap sekenanya seperti itu! apa mama tidak memikirkan perasaan istrinya!" ucap ayah Alexander merasa pusing dengan tingkah laku kejam istrinya dan putranya pada seorang gadis lugu dan pendiam seperti Alicia. selalu menurut apapun yang di suruh oleh orang di sekitarnya.
"pa, sudah cukup Alexander jarang pulang karna selalu berantem sama papa, jadi mending sekarang biarkan Alexander melakukan sesuka hatinya"
__ADS_1
"terserah padamu, aku harap kalian tidak akan menyesal dengan sikap kejam kalian"
"Aurora...Ayo makan yang banyak, agar nanti kamu bisa memberikan ANAK yang banyak untuk calon suamimu" ucap Marga pada calon menantunya, sengaja menekan kata 'anak' untuk memanas manasi Alicia.
namun gadis kecil itu hanya menunduk kan kepalanya, tak berkata apapun. Alexander menatap istri kecilnya, ingin tau seperti apa reaksi Alicia, namun ternyata gadis itu bersikap biasa biasa saja, entah kenapa ada perasaan amarah dan ingin cepat pulang untuk menghukum Alicia.
"apa lagi yang kau tunggu, cepat siapkan makan malam untuk calon menantuku" ucap Marga dengan sinis pada menantunya.
Alicia segera menurut, ia menyiapkan makanan untuk Aurora, saat hendak mengambilkan makanan untuk suaminya, tiba tiba Aurora mengambilnya dari tangan Alicia.
Alicia hanya mengangguk dan tersenyum, ia kemudian duduk di sebrang Alexander dan wanita itu, tepatnya di samping ibu mertuanya.
"ingat! jangan mengacaukan mereka" bisik nya pada sang menantu pelan, Alicia hanya menundukkan kepalanya, dan mengangguk kecil.
tampak Alexander bersikap biasa saja, berbeda dengan Aurora, wanita itu berusaha menarik perhatian Alexander padanya, namun Alexander justru malah menatap tajam istri kecilnya itu.
__ADS_1
Aurora berusaha mengajak Alexander berbincang bincang, sesekali pria itu menyahutinya. Alicia hanya diam dan memakan makanannya, tangannya sedikit bergetar ia hanya memainkan makanan nya.
"ma bolehkah Aurora bertanya..." ucap wanita cantik itu kini bertanya.
"tentu saja, kamu mau tanya apa sayang"
"siapa gadis disamping mama, aku baru melihatnya" ucap Aurora merasa tak nyaman, karna calon suaminya selalu menatap gadis itu.
"oh ini hanyalah pelayan pribadi Alexander, jangan terlalu dipikirkan"
Aurora merasa curiga, namun ia menutupinya dengan senyuman. Alicia tersenyum manis ia menatap sesekali kearah suaminya,melihat bagaimana reaksi suaminya, namun ternyata pria itu sama sekali tidak berniat membelanya, pria itu justru sibuk dengan ponselnya.
Alicia merasa dirinya sekarang bukanlah siapa siapa didunia ini.
ia ingin pergi menjauh dari orang orang besar ini, rasanya sangat menyakitkan, ia lama lama tidak sanggup bertahan disamping orang orang kalangan atas.
__ADS_1