
Alicia pergi ke tempat ia bekerja seperti biasanya.
Hari ini Alicia harus mengantarkan makanan ke sebuah perusahaan.
Alicia pergi menggunakan sepeda motor khusus karyawan kafe.
Ia menatap takjub gedung pencakar langit yang tinggi dan luas itu. Ia melihat kembali kertas alamat yang ia pegang, untuk mengecek apakah ia salah tempat. Namun ternyata emang itu alamat nya.
Ia berjalan menuju pintu masuk, namun ia di halang oleh empat orang berbadan kekar mengenakan jas hitam serta kacamata bertengger di masing masing wajah pria itu.
"Tidak ada yang boleh masuk kedalam perusahaan ini, kecuali karyawan yang bekerja di perusahaan ini"
"Maaf, saya hanya ingin mengantar pesanan pemilik perusahaan ini"
"Baiklah, silahkan masuk nona"
Alicia diantar oleh salah satu pengawal yang berjaga tadi. Mereka memasuki lift, pria botak itu menekan tombol lantai 15. Alicia merasa sedikit tak nyaman, karna ini pertama kalinya ia berdua didalam lift bersama seorang pria bertubuh tinggi.
*Wajahnya datar sekali, membuat semua yang menatapnya terlihat takut* batin Alicia menundukkan kepalanya.
__ADS_1
**Ting!**
Pintu lift di buka, pria botak itu berjalan didepan Alicia keluar dari dalam lift. Dia mengetuk pintu dan kemudian membukanya.
"Tuan, pesanan anda sudah datang"
"Taruh diatas meja" suara berat dari dalam ruangan terdengar. Alicia sedikit takut, ia perlahan masuk kedalam saat pengawal itu mempersilahkan ia masuk.
Ia menatap lantai dan berjalan pelan, tak berani menatap siapa yang ada didalam ruangan tersebut.
Ia menaruh kotak makanan yang di bungkus rapi itu di atas meja dengan sedikit bergetar. Alicia semakin gugup, tubuhnya terasa dingin dan kesemutan.
Alicia menjadi semakin gugup, hingga tak sengaja menyenggol gelas berisi kopi dan akhirnya tumpah mengenai berkas berkas.
"BERANINYA KAU! LIHAT APA YANG KAU PERBUAT! KAU INGIN MATI YA!!" teriak pria itu menggelegar di seluruh ruangan, ia berdiri tegap sedikit menunduk menatap Alicia yang menundukkan kepalanya.
"Maaf tuan...saya tidak bermaksud-"
"HENTIKAN OMONG KOSONGMU INI" Alexander menangkap kasar dagu Alicia dengan salah satu tangannya, agar menatap ke wajahnya. Alexander menatap mata sayu itu tengah menahan takut.
__ADS_1
"Kau tau? Berkas itu penting, dan harus di gunakan sekarang! Dan kau telah merusak semuanya! Apa yang kau lakukan untuk menebusnya huh?" Dingin Alexander menatap datar wajah cantik berkulit putih pucat itu.
"Zayyan!"
"Iya tuan"
"Bereskan kekacauan itu"
"Baik tuan"
Alicia masih berdiri, tubuhnya bergetar tak karuan, ia menundukkan kepalanya. Alexander masih berdiri menjulang tinggi dihadapan Alicia.
Ia melepaskan dagu Alicia dengan kasar. "Kau gadis kecil yang tidak tau di untung! Beruntung kau, karna kau wanita pertama yang menginjakkan kaki di ruanganku ini!"
*Cih, siapa juga yang ingin masuk kedalam ruangan berhantu ini*
"Apa kau dengar!!" Bentaknya saat melihat Alicia melamun. Alicia menundukkan kepalanya. "Maaf tuan...."
"Hanya itu? Hanya itu untuk mengganti semua kekacauan ini? Kau pikir membuat dokumen semudah yang kau bayangkan huh?" Sinis Alexander, sebenarnya berkas itu tidak terlalu penting, Alexander hanya perlu menandatangani kerja sama dari berbagai perusahaan, dan Alicia mengacaukannya.
__ADS_1
Alexander sedikit tertarik saat menatap mata sendu Alicia, ia mencari cara untuk menjerat gadis kecil didepannya ini.
Alicia terdiam tak berani menatap mata pria itu, ia memilih untuk menatap kearah lain, daripada ia terkena masalah lagi