
Alicia merasa dirinya semakin kecil, tak ada kesempatan untuk membela dirinya dihadapan pria berkuasa ini.
hanya rasa sakit yang ditahan, agar air matanya tidak terjatuh dan pria ini semakin senang membuatnya tersiksa.
"jika kau mengulangi kesalahan mu....maka kau harus menerima hukumanmu, dan itu akan membuatmu tidak akan pernah melupakan hukuman itu"
Alexander melepaskan Alicia, gadis itu segera berdiri dan menundukkan kepalanya, Alexander langsung pergi ke kantor diikuti asisten nya, karna mood nya sudah rusak, ia tidak enak makan.
"maafkan tuan nona" ucap pak jon merasa tidak enak pada nona nya,atas perilaku kasar tuannya.
"tidak apa apa pak, saya pantas mendapatkan itu, seseorang sepertiku tidak berhak mendapatkan kehormatan" ucap Alicia tersenyum tulus dan kemudian berjalan meninggalkan ruang makan.
air matanya jatuh saat berjalan menuju kamar, ia menatap kedua tangannya, terlihat tangannya yang kasar, dan berwarna putih pucat.
"apa yang harus aku lakukan sekarang, aku merasa sesak disini, kenapa aku harus terjerat dengan pria kejam seperti dia, apakah kalian semua suka melihat aku menderita....tidakkah kalian memberiku satu hari saja rasa kebahagiaan" lirih Alicia sembari menyusun ranjang yang terlihat berantakan itu.
di perusahaan Alexander.
pria tampan itu kini duduk di kursi kebanggaan nya. ia menatap angkuh dokumen di hadapannya itu. "bagaimana"
"beres tuan, mereka bahkan mengatakan bahwa mereka tidak butuh nona Alicia lagi, mereka berkata terserah apa yang ingin kau lakukan pada gadis itu"
__ADS_1
"Bagus, aku yang berhak melakukan apapun pada gadis itu"
"sekarang, suruh dia membawakan makan siang ku, aku ingin 10 menit harus sudah sampai disini"
"baik tuan"
asisten Zayyan menghubungi kepala pelayan Mension, pak jon, dan mengatakan semua yang diinginkan Alexander.
"nona, tuan meminta anda untuk mengantarkan makan siangnya ke kantor dalam waktu 10 menit"
"apa? tapi saya belum bersiap siap..."
"sebaiknya jangan dulu nona, anda tidak ingin melihat tuan muda marah kan"
Alicia segera memasukkan semua makanan yang ada kedalam kotak makanan, tak lama pengawal menjemputnya, Alicia pun diantar menuju perusahaan Alexander.
Alicia dipersilahkan masuk kedalam gedung pencakar langit itu, Alicia menelan ludahnya dengan kasar, ia menjadi ingat beberapa hari yang lalu, tentang masalah yang dimulai berawal dari sini.
Alicia hanya mengenakan dress setinggi lutut dengan motif berbunga bunga kecil. mungkin tidak terlihat pakaian mahal Dimata karyawan sana, jadi banyak para karyawan memandang dirinya rendah, terutama gadis cantik nan seksi berambut kuning.
"biarkan aku saja yang mengantarkan makan siang tuan Alex...kau hanya pelayan dimensionnya kan? jadi kau tidak boleh masuk, karna aku sekretaris disini" jawab Isabel dengan angkuh, menatap Alicia sinis.
__ADS_1
"tapi nona-"
"nona Alicia...tuan menunggu anda didalam" ucap dingin asisten Zayyan membuat sekretaris Isabel menundukkan kepalanya.
Alicia dengan senang hati menyusul asisten Zayyan, ia berjalan pelan sembari menundukkan kepalanya, tak berani menatap orang orang besar disekitar ini, bahkan sesekali ia mendengar bisikan-bisikan negatif tentang dirinya.
ada yang mengatakan ia wanita tidak tahu malu, berani menggoda bos mereka,namun semua itu Alicia pendam, ia terbiasa dengan cibiran cibiran orang orang kalangan atas, karna itu sudah makanannya sehari hari.
*tok...tok*
"tuan..." Syarah lembur dan rendah itu memanggil pria bermulut tajam yang tengah duduk di kursi besar. pria itu duduk membelakangi Alicia. kemudian pria itu memutar kursinya hingga sekarang menatap istri kecilnya itu.
"apakah pak jon tidak memberitahumu, jika harus sampai disini 10 menit"
Alicia tersenyum sejenak, kemudian menundukkan kepalanya. "maaf tuan....tadi ada sesuatu yang menghalangi jalan saya"
"apa aku terlihat perduli? jika aku menyuruhmu untuk datang 10 menit, maka kau harus datang 10 menit!" ucap Alexander dengan kasar, ia kini berdiri mendekati Alicia yang menundukkan kepalanya. Alexander mencengkram kasar dagu Alicia agar menatap kearahnya.
"tatap mataku saat aku berbicara bodoh!" ucapnya dengan gigi saling mengatur, otot otot rahangnya mengeras, Alexander sangat alergi pada wanita miskin, jadi menurutnya, ia tak salah membenci Alicia.
"maaf tuan...aku-" belum sempat menyelesaikan perkataannya, Alexander sudah menghempaskan kasar dagu Alicia, hingga gadis itu menoleh kesamping.
__ADS_1
"apa aku butuh jawabanmu? JAWAB!" bentaknya membuat Alicia ketakutan. Alicia menggeleng kan kepalanya dengan cepat.