
Alexander kembali ke kursinya. ia menyuruh Alicia untuk mendekat, kemudian ia melemparkan lap pada Alicia, hingga kain lap itu terkena wajahnya.
"bersihkan sepatuku!" dinginnya. Alicia sempat bingung, sepatu mana yang dimaksud suaminya, namun Alexander membentaknya kembali. "apa kau tuli? bersihkan sepatuku, cepat lah! kenapa kau seperti siput!"
Alicia mengangguk cepat, ia mendekati suaminya. "sepatu mana yang harus saya bersihkan tuan" Alicia berkata dengan nada halus.
"apa matamu itu tidak bisa di gunakan? pantas saja orang tua angkat mu itu benci padamu, karna kau itu bodoh! tidak bisa melakukan pekerjaan dengan benar!"
lagi lagi rasa sakit yang dirasakan Alicia, namun Alicia kembali memendamnya, ia telan semua rasa sakit itu. "duduk dibawah!"
"kenapa saya harus duduk dibawah tuan..."
"apa aku mengizinkan mu untuk menjawab pertanyaan ku? aku bilang duduk DIBAWAH!" ucapnya dengan penuh penekanan saat kata kata terakhir.
Alicia menurut, ia duduk di lantai, kemudian Alexander dengan Arogant menaikkan kakinya di atas paha Alicia. "lap hingga bersih, jika masih kotor sedikit saja,terima hukuman mu" sinis Alexander merendahkan istrinya.
Alicia hanya diam dan menurut, ia tidak bisa melawan, ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan, ini mungkin bukan penghinaan yang pertama, tetapi tetap saja hatinya sakit. seorang gadis miskin seperti dia, tidak pernah dihargai. apa karna dia seorang anak panti asuhan yang diangkat oleh keluarga terpandang di kota, namun berakhir menjadi pelayan tanpa sepengetahuan orang orang.
yang orang orang tau, Alicia gadis yang beruntung, sehingga banyak teman teman yang mencibir nya, kecuali Anna sahabat nya.
tangan kecil itu mengusap sepatu pria itu hingga bersih. gadis itu hanya diam dan patuh, ia sangat direndahkan sekarang.
bahkan saat sekretaris yang tadi menghina Alicia semakin menjadi jadi. ia menatap Alicia dengan senyuman mengejek.
__ADS_1
"sayang..." panggilnya dengan suara menggoda kepada Alexander. pria tampan itu tersenyum menawan, ia membiarkan wanita murahan itu duduk di pangkuan nya, dengan Alicia yang masih mengusap sepatu suaminya.
Alicia hanya diam, tangannya bergetar, ia tak pernah merasakan rasa sakit hati yang luar biasa seperti ini. hari ini dia benar benar merasa direndahkan.
"tuan...sepatunya sudah bersih, apa saya boleh pulang.." suara halus itu terdengar sangat pelan dan sopan. namun lagi lagi tidak dihargai, Alexander menatapnya sinis. "siapa yang menyuruhmu untuk berbicara, huh? pergi dan buatkan aku coklat panas!"
Alicia menundukkan kepalanya, ia berjalan keluar ruangan. "boleh antarkan saya ke ruang dapur untuk membuatkan tuan Alex coklat panas" tanya Alicia pada asisten zayyan yang berdiri tak jauh dari depan pintu.
"baik nona"
asisten Zayyan mengantar kan Alicia hingga ruangan pantry. "saya kembali nona, jika butuh apa apa, disini ada office girl"
"baiklah, terimakasih" ucap Alicia tersenyum tulus, membuat asisten Zayyan sedikit terpaku. bagaimana bisa seorang gadis cantik, dan baik hati seperti Alicia sangat direndahkan oleh tuannya.
Alicia menahan tangisnya. "terimalah Alicia! kau memang pantas mendapatkan semua ini! kau hanyalah gadis miskin yang tidak tau di untung" gumamnya kecil, menyemangati dirinya.
Alicia kembali ke ruangan suaminya. ia masih melihat Alexander bersama sekretaris nya yang seksi itu. "ini minuman mu tuan"
Alexander tidak memperdulikan keberadaan nya, Alicia mengambil kain lap yang ia gunakan tadi, dan menaruhnya di tempat semula, saat ia ingin membuka pintu ruangan, Alexander menghentikan langkahnya.
"tunggu!"
Alexander menyuruh sekretaris Isabel untuk kembali ke ruangannya.
__ADS_1
setelah kepergian Isabel, Alexander mendekati gadis bertubuh kecil dan kurus itu yang tengah menundukkan kepalanya.
ia mencengkram pergelangan tangan Alicia dengan kasar, membuat sang pemilik kembali meringis kesakitan.
"tuan...."
"DIAM! APA AKU MENYURUHMU BERBICARA! HUH!" bentak Alexander keras, membuat Alicia ketakutan. "sudah aku katakan, kau tidak boleh pulang sebelum aku menyuruhmu pulang! kenapa kau itu tuli!"
Alicia lagi lagi hanya bisa diam, ia menatap lantai dengan menahan air matanya, agar tidak jatuh.
"kau hanyalah gadis miskin! kau tidak berhak untuk menolak setiap perintah ku! dan ingat, semua perkataan ku adalah perintah yang harus kamu kerjakan"
Alicia dengan berani menatap wajah tampan suaminya, ia sedikit mendongak saat menatap mata biru tajam itu.
ia tersenyum tulus, matanya menatap sendu kearah pria itu.
"aku tau tuan, gadis seperti saya memang tidak berhak untuk membantah setiap perkataan anda....tetapi, haruskah Anda memperjelas status saya? tidakkah anda merasa kasihan sedikit saja kepada saya, saya tidak butuh di hargai tuan, cukup perlakukan saya dengan baik, saya sudah merasa sangat dihargai" ucapnya dengan nada halus, terdengar sedikit gemetar, namun Alexander justru tidak perduli.
Alexander justru marah, ia mencengkram kasar rambut panjang Alicia , membuat Alicia menahan rasa sakit.
"aku benci gadis miskin sepertimu! aku berharap, setelah kita bercerai nanti, aku tidak akan melihat wajah bodohmu yang murahan itu"
Alexander melepaskan cengkraman nya. ia menatap rendah Alicia. "pulanglah, persiapkan dirimu sebaik mungkin, kau harus melakukan tugas baru yang aku perintahkan"
__ADS_1