
Alicia diantar pulang oleh pengawal Alexander, sesampainya dirumah, semua pelayan sudah berada didalam kamar pribadi Alexander.
"maaf nona, tuan Alexander memerintahkan kami untuk membantu anda bersiap siap malam ini, dia menyuruh kami untuk merias anda secantik mungkin"
"tunggu...kenapa harus sebanyak ini....aku bisa melakukan nya sendiri, tidak akan lama"
"tapi nona, perintah tuan Alexander tidak bisa dibantah, tuan berpesan, jika anda membantah, maka. tuan akan pulang dan menemui anda"
Alicia tak berbau menjawab, ia hanya bisa menghela nafas dengan pasrah. Alicia di rawat dengan baik, mengenakan semua barang mahal.
malam pun tiba.
Alicia menatap dirinya di pantulan cermin, ini bukanlah dirinya yang seperti biasanya, yang kumuh, dan jarang merawat diri. Alicia tidak percaya menatap wajahnya di pantulan kaca, ia merasa jika dirinya sedang berada di dimensi lain.
"nona, tuan Alexander menunggu anda didepan mension"
Alicia seketika menjadi gugup, ia menundukkan kepalanya. "apa aku pantas berada di sisi tuan Alexander....aku rasa, aku tidak pantas berada disisinya, aku dan dia beda jauh, dia seorang pria yang cukup di segani oleh kalangan atas, sementara aku...aku hanyalah gadis miskin yang direndahkan...."
__ADS_1
entah kapan, perasaan ini muncul didalam hati Alicia. ia mulai merasa nyaman didekat Alexander, mungkin Alexander benar, ia gadis bodoh yang mudah jatuh hati. tapi Alicia jujur, saat berada didekat Alexander, Alicia merasa dilindungi meski akhirnya disakiti.
Alicia berdiri di samping limusin mewah itu. ia tak berani masuk kedalam, jadi ia hanya berdiri dan diam. tak lama pintu kaca mobil terbuka, terdengar suara dingin dari Alexander. "apa kau ingin berdiri terus disana!"
"ti-tidak tuan..."
Alicia segera masuk, ia duduk disamping suaminya, ia menatap kearah jendela mobil. dan mobil pun berangkat menuju suatu tempat.
tak lama mobil mewah itu sampai di sebuah rumah megah. meski tidak semewah mension Alexander, namun mewah itu terlihat seperti istana. Alexander turun dari mobil, Alicia masih berada didalam, ia bingung menatap rumah mewah itu dari dalam.
"apa kau akan diam terus seperti itu huh?" ucap Alexander kesal, karna sedari tadi Alicia hanya mematung.
"Alexander... akhirnya kamu pulang juga, mama sangat merindukan mu, papa juga merindukan mu" ucap wanita itu memeluk erat sang putra.
*sepertinya ini ibu kandung tuan Alexander* batin Alicia menunjukkan senyum manisnya. wanita paruh baya itu menatap Alicia dengan bingung, ia melihat Alicia dari sudut kaki hingga kepala, semuanya serba mewah.
"Alex...siapa dia"
__ADS_1
"dia istriku"
"apa? kenapa kamu menikah tanpa sepengetahuan mama dan papa! apa kamu lupa jika orang tua mu masih hidup!!" ucap mama Alexander kesal.
"dia hanya istri sementara" ucap Alexander blak blakan tanpa memikirkan perasaan Alicia. "ohh baguslah kalau begitu, malam ini mama ingin mempertemukan mu dengan calon istrimu, Ayo masuk, dia sudah menunggu di meja makan bersama papa kamu dan adik kamu"
Alexander hanya berdehem dan berjalan menuju meja makan, tanpa memperdulikan Alicia. gadis itu merasa bingung, jadi dia memutuskan untuk mengikuti langkah kaki suaminya.
namun tiba tiba tangan Alicia ditarik oleh mama Alexander. "siapa nama mu"
"nama saya....Alicia nyonya" ucapnya sambil tersenyum manis.
wanita itu memandang rendah Alicia. karna biasanya, gadis polos bersuara halus dan sopan santun hanyalah gadis miskin biasa. "apa pekerjaan kamu semasa lajang"
"saya...hanya karyawan yang bekerja di kafe" ucap Alicia masih menunjukkan senyumnya, meski didalam hati tengah menahan rasa malu.
"cihh, benar dugaanku, kamu hanyalah gadis miskin, tapi tidak apa apa, sebentar lagi Alexander akan mencerahkan mu...dan ingat satu hal! malam ini Alexander akan bertemu dengan calon istrinya, jadi ja gan coba coba untuk merusak suasana!"
__ADS_1
"tidak perlu khawatir nyonya,saya tidak akan mengganggu urusan pribadi tuan Alexander" ucap Alicia masih menunjukkan senyum tulusnya, meski didalam tengah menahan rasa sakit hati.
"baguslah kalau kau sadar, gadis murahan dan miskin sepertimu tidak pantas berada disamping putraku"