
keesokan harinya.
Alicia sudah menyiapkan sarapan, tampak Alexander dari tangga dengan wanita yang merangkul lengannya. Alicia segera memasang wajah biasa saja seolah tidak terjadi apa apa.
Alicia tersenyum manis kearah mereka. "selamat pagi tuan, dan nyonya" meski tidak ada sahutan sama sekali, Alicia tetap tersenyum. Alicia segera menghindar.
"sayang kamu mau makan apa? mau aku suapi"
"tentu, tapi aku bisa makan sendiri"
"baiklah"
Alicia sempat berhenti sebentar saat mendengar percakapan mereka, namun ia segera pergi keluar mension untuk kembali bekerja. Alicia dengan cepat melangkahkan kakinya keluar gerbang, dan memasuki taksi.
didalam taksi ia mulai meneteskan air mata, apa yang akan terjadi dengan nya dimasa depan. siapa yang mau menerima dirinya saat perpisahan ini terjadi.
"bolehkah aku mencintaimu...."
__ADS_1
Alicia menangis, merasakan sesak didada, ia sedikit memukulnya, ia merasakan rasa sakit yang luar biasa, lebih sakit dari pada saat ia baru pertama kali menikah dengan Alexander.
"pak, kita tidak jadi ke alamat ini ya, kita ke alamat ini saja" ucap Alicia baru ingat jika hari ini acara pernikahan kakak nya. ia melihat pesta itu begitu meriah, berbeda dengan pernikahan nya, yang dilakukan secara sederhana, hanya tanda tangan dan pendeta.
Alicia langsung di suruh untuk masuk kedalam. ibu angkatnya mendekati nya. "jangan katakan apapun karna selama ini kau jarang terlihat, dan ingat! jangan mengacaukan acara pernikahan ini"
"ibu tenang saja, aku tidak akan mengacaukan nya"ucap Alicia tersenyum miris.
"Bagus" ibu angkat Alicia pun segera pergi berlalu, Alicia duduk menatap acara itu dimulai, mulai dari pengucapan janji suci hingga acara resepsi dilangsungkan.
diantara ribuan orang yang bersinar, hanya dirinyalah yang terlihat redup. dipikirannya saat ini hanyalah tertuju pada Alexander. ia terlalu banyak melamun hingga tidak memperdulikan seseorang di sekitar nya.
Alicia menoleh kearah sumber suara, terlihat seorang pria berwajah tampan mengenakan pakaian berjas serta dasi, membuat ia semakin terpikat. namun tentu saja jauh berbeda dengan Alexander.
"kau siapa..?" tanya Alicia merasa bingung dengan pria didepannya ini. "kau tega sekali melupakan aku, apa kau lupa pada kakak seniormu yang menjadi idola di SMA dulu"
Alicia berusaha menerka nerka, ia pun baru mengingatnya. "kak Daniel" ucap Alicia. "Yap, benar sekali"
__ADS_1
Alicia tersenyum, ia merasa pria itu tidak pernah berubah, meski ia seorang pria idaman di sekolah, namun pria itu malah lebih memilihnya, dengan alasan berbeda dari yang lain.
"kenapa kakak ada disini?”
"eumm....apa ya..." tampak pria itu sedang berfikir fikir sesuatu.
"tentu saja untuk menghampiri bunga mawar yang hampir terlihat layu dari bunga matahari yang lain"
Alicia tertawa kecil, merasa lucu dengan gombalan pria itu, meski tidak mampu menembus hatinya. "kenapa kau terlihat sedih sekali tadi?”
"ohh tidak ada, aku hanya bingung mau makan apa"
Daniel tertawa renyah, mendengar jawaban Alicia yang menurutnya tak masuk akal, adakah orang yang bingung ingin makan apa namun wajahnya terlihat sedih.
"Alicia,aku sedang ada urusan, ini nomor ponselku, kalau kau mau, hubungi saja aku" ucap Daniel setelah melihat jam tangannya.
Alicia menatap punggung pria itu perlahan menjauh, Alicia memutuskan untuk kembali ke Mension, sebelum Alexander mencarinya. "tidak mungkin dia mencariku, dia pasti sedang sibuk dengan kekasihnya" Alicia benar benar merindukan Alexander yang memeluknya.
__ADS_1
Namun sekarang ia dan Alexander seperti perpaduan antara langit dan bumi, terlihat seperti dekat, namun terllau tinggi untuk di gapai