Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 1 Pria Asing


__ADS_3

Cherry menangis sejadi-jadinya di sebuah ranjang besar, sendiri. Dia baru saja lulus sekolah dan ingin melanjutkan belajar di perguruan tinggi. Tapi kini mimpinya telah hancur. Ayahnya yang suka berjudi dan sedang terlilit hutang telah menikahkannya dengan seorang duda tua kaya raya. Ibunya telah lama meninggal, tak ada tempat untuknya berlindung.


Pernikahan yang sangat sederhana telah berlangsung tadi pagi, tanpa pesta. Kemudian pria itu pergi begitu saja meninggalkan Cherry.


Menurut gosip yang beredar, pria itu adalah penguasa politik dan perdagangan di negeri ini. Dia lebih suka berada di balik layar, tanpa sorotan media. Namun Cherry tak peduli tentang kebenaran dari gosip tersebut. Bahkan untuk menatap wajahnya saja ia tak mau.


Seseorang mengetuk pintu kamar, tak lama kemudian pintu terbuka. Masuklah wanita paruh baya membawa nampan berisikan makanan. Ia meletakkannya di meja di sudut kamar.


"Saya Mia, panggil saja saya di bawah bila Nyonya membutuhkan sesuatu. Ini makan malam Nyonya, Tuan tidak pulang hari ini." ucapnya.


"Terima kasih." jawab Cherry sambil mengusap air mata.


Sepeninggal Mia, Cherry masih tetap terduduk di ranjang. Meratapi nasibnya yang malang.


"Untung saja dia tak pulang." gumamnya.


Malam ini dia benar-benar tak ada nafsu makan. Hatinya hancur dan kecewa atas perbuatan ayahnya. Bagaimana bisa seorang ayah mencampakkan anak kandungnya.


***


David Chuay masih berkutat dengan berkas-berkas yang harus ditandatangani di kantor. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Sedangkan Billy, orang kepercayaan sekaligus tangan kanan David, dengan setia berdiri di belakangnya.


"Apa yang wanita itu lakukan sekarang?" tanya David.


"Tidak ada Tuan, dia hanya mengurung diri di kamar sejak pagi."


David mendengus pelan lalu berdiri dari duduknya.


"Kamu pulanglah. Aku akan menyetir sendiri." perintah David.


"Baik, Tuan"


Jalanan ibu kota yang tak pernah tidur, penuh dengan lalu lalang kendaraan. Mobil mercedez hitam melaju dengan kecepatan tinggi menuju kediaman keluarga Chuay.


David memasuki kamarnya. Dilihatnya makanan yang tersaji di meja belum tersentuh. Sedangkan perempuan yang baru saja dinikahinya tadi pagi tengah tertidur dengan pakaian pengantin masih melekat di tubuhnya.


Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, David berbaring di sisi Cherry. Tak dihiraukannya perempuan itu, dia sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga terlelap dalam tidur.


***


Cherry dihantui mimpi buruk yang membuatnya terbangun di tengah malam. Dia hampir memekik ketika menyadari seorang laki-laki berada di ranjang yang sama dengannya. Kemudian dilihatnya dengan saksama wajah pria yang tengah tertidur. Dia mencoba mengenali laki-laki itu suaminya atau bukan.


Pria ini masih muda dan tampan. Rahangnya yang kokoh membuatnya sangat mempesona, “tak mungkin dia suamiku. Apakah dia anak tiriku? Ini benar-benar gila!” batinnya.


"Keluar kamu dari sini!" Cherry menendang kaki David dengan kasar.


David terbangun dengan ekspresi marah. Dia tak pernah menduga bila Cherry seliar ini.


"Di mana sopan santunmu?!"


"Hah, kamu masih bisa menanyakan sopan santun? Harusnya aku yang bertanya padamu!" Emosi Cherry meluap-luap. Dia tidak akan mau dirinya dilecehkan di rumah ini. Sudah cukup dengan perbuatan ayahnya yang memalukan.


"Apa maksudmu?" tanya David tak mengerti.


"Aku adalah istri ayahmu! Kamu benar-benar kurang ajar! Keluar sekarang!"


David yang mendengar perkataannya spontan tertawa.


"Jadi aku anakmu?" tanya David dengan senyuman nakal.


Cherry menendangnya lagi. David sedang tak ingin membuang waktu karena ada beberapa berkas yang harus dia cek untuk pagi nanti. David meninggalkan Cherry yang merasa puas karena berhasil mengusir pria asing dari kamarnya.

__ADS_1


“Urusan kita belum selesai.” Ucap David dingin dan sukses membuat Cherry merinding ketakutan. Lalu David menghilang di balik pintu.


Hari masih gelap, Cherry tertidur kembali. Ketika telah beranjak pagi, Cherry tak menemukan sosok pria di ranjangnya.


"Dia tak akan berani kembali ke sini."


Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di kamar mandi, Cherry membuka lemari baju yang ada di kamar. Ternyata lemari itu dipenuhi baju yang sesuai dengan ukurannya. Dia tak membawa sehelai baju pun saat kemari, jadi tentu saja semua ini memang disiapkan untuknya. Kemudian dipilihnya sebuah dress selutut tanpa lengan.


"Aku harus kuat. Aku tidak boleh ditindas." ucapnya dengan teguh sebelum melangkah ke luar kamar.


"Selamat pagi, Nyonya." sapa Mia dari ruang makan. "Nyonya, ingin sarapan apa?"


"Roti selai saja." jawabnya sambil duduk di kursi.


"Apakah semua sudah sarapan? Kenapa sepi sekali." tanya Cherry.


Hening. Mia tak menjawab apa pun.


"Di rumah ini ada berapa orang?" tanyanya lagi.


"Delapan orang." jawabnya sambil mengulurkan beberapa helai roti di hadapanku.


"Aku masih muda, bisakah kau tidak memanggilku nyonya?"


"Tapi --"


Mia tak melanjutkan perkataannya. Cherry pun tak mencoba untuk mendesaknya.


“Biarlah, toh aku tak tahu seberapa lama aku tinggal di sini. Mungkin besok aku sudah tak di rumah ini lagi.” Batinnya.


Setelah sarapan, Cherry mengecek emailnya lewat ponsel. Betapa senangnya saat dia menerima pemberitahuan bahwa dia telah diterima di universitas S. Di situ tertera pula untuk segera melakukan daftar ulang dan membayar sejumlah uang. Saat ini Cherry tak mempunyai sepeser pun, bagaimana dia bisa membayarnya.


"Apakah hari ini suamiku akan pulang?" tanyaku pada Mia.


Huh, aku tidak bisa mendapatkan informasi apa-apa dari Mia.


Cherry merasa bosan berada di dalam rumah. Dia berkeliling menjelajahi rumah dan terkejut mengetahui betapa besar rumah ini. Rumah bercat putih dengan desain Eropa yang megah, samping kiri rumah terdapat taman bunga, samping kanan merupakan garasi yang bisa menampung sepuluh buah mobil, lalu di bagian belakang terdapat bangunan tambahan yang tampak seperti rumah tinggal. Sepertinya rumah itu diperuntukkan bagi para pegawai yang tinggal di rumah ini.


"Rumah untuk pegawainya saja jauh lebih besar dari rumahku." gerutu Cherry.


***


David Chuay tengah tak fokus dengan lembaran-lembaran kertas di mejanya.


"Sedang apa dia sekarang?"


"Nyonya berkeliling rumah. Dia menanyakan apakah Tuan pulang hari ini."


"Batalkan semua janjiku hari ini. Aku mau pulang sekarang."


"Baik, Tuan." Billy dengan sigap mengikuti perintah atasannya.


***


"Selamat malam Tuan, apakah Anda ingin makan?" tanya Mia. Kedatangan David tepat di saat Cherry sedang makan sendiri.


Cherry salah tingkah melihat kedatangan David, apalagi saat dia dengan santai duduk di hadapannya.


"Mau apa kamu?" tanya Cherry tak suka.


"Tentu saja makan."

__ADS_1


"Jangan duduk di sana, pergi!" ucap Cherry yang tersulut kemarahan mengingat kejadian semalam.


"Nyo --." Kalimat Mia tertahan oleh instruksi dari David yang menyuruhnya untuk diam.


Karena tak mendapat respon, Cherry memutuskan dirinya yang akan pergi meninggalkan meja makan.


"Tetap di sana, temani aku makan." perintahnya dengan suara datar.


"Huh." Cherry mendengus sebal, tak mampu melawan perintah. Dia duduk lagi di kursi.


"Ada apa kamu mencari ayahku?" Tanya David sambil menikmati makan malamnya.


Wajah Cherry berubah merah padam, antara malu dan marah.


"Di mana ayahmu?" tanya Cherry.


"Huh." Lagi-lagi Cherry mendengus kesal karena merasa diabaikan.


Setelah makan, David meninggalkan Cherry tanpa berkata apa pun. Dia pergi ke ruang kerjanya.


"Tok-tok-tok." Tak lama kemudian Cherry mengetuk pintu dengan ragu.


"Boleh aku masuk?" Karena tak mendapat sambutan apa pun, Cherry langsung memasuki ruang kerja David.


"Aku ingin bicara."


"Katakan." David mengalihkan pandangan dari laptopnya.


"Aku mau bertemu ayahmu. Aku ingin melanjutkan kuliah."


"Siapa yang mengizinkanmu?" sambut David dingin.


Cherry meremas ujung dressnya. "Aku mohon."


"Kenapa kamu ingin kuliah?"


"Aku ingin menjadi seorang desainer."


"Nanti kusampaikan." ucapnya sambil melihat kembali ke arah laptop.


"Baiklah, terima kasih." Cherry meninggalkan ruangan.


"Mari kita bermain-main." ucap David sambil tersenyum.


***


Lagi-lagi Cherry mengalami mimpi buruk dan terbangun tengah malam. Saat membuka mata, dia melihat David berbaring di sampingnya dan tengah menatapnya.


"Mau apa kamu?" tanya Cherry terlonjak kaget.


"Jangan macam-macam kamu, aku akan teriak."


"Teriaklah, tidak akan ada yang berani masuk." David berkata dengan santai.


Cherry ketakutan. Tenaga pria yang mencengkeramnya begitu kuat. Meskipun begitu, dia masih mencoba melepaskan diri, kakinya menendang-nendang tubuh David.


"Kamu sungguh bersemangat." ucapnya sambil menahan kaki Cherry supaya tak bisa lagi menendang.


Malam itu, David berhasil mengambil sesuatu yang sangat berharga dari Cherry, dengan paksa.


Setelahnya, Cherry terus saja menangis dengan posisi tidur memunggungi pria yang telah merenggut apa yang selalu ia jaga selama ini. Saat ini dia merasa tak punya harga diri lagi.

__ADS_1


Sedangkan David, dia masih tak habis pikir dengan apa yang barusan dia lakukan, berakting seakan-akan dia tengah memaksa seorang gadis untuk melakukannya. Tapi permainan ini membuat David senang karena dia memilih istri yang masih gadis, dia adalah yang pertama bagi Cherry.


Bila saja Cherry mengetahui bahwa David suaminya, tentu hal seperti ini tak akan terjadi.


__ADS_2