
"Apa Sayang tidak kerepotan bila harus mengantar jemput? Biar Johan yang melakukannya." ucap Cherry sambil memandangi David yang tengah memegang kemudi. Di mata Cherry, hari ini David terlihat lebih tampan dari hari-hari sebelumnya.
"Kamu tak suka?"
"Bukan, aku takut merepotkan sayang."
"Sepertinya besok aku memang tak bisa mengantarmu. Ada acara yang harus kuhadiri." ucap David.
"Mmm... aku tak tahu di mana sayang bekerja."
"Benarkah?"
"Ya."
"Apa yang kamu tahu tentang aku?" tanya David tiba-tiba.
"Aku tahu kalau sayang itu orang yang tampan dan baik hati." jawab Cherry.
"Hahaha ... bila kita tidak sedang di jalan, aku akan memakanmu." ucap David gemas, ia tahu Cherry hanya mencoba merayunya supaya ia tak marah karena Cherry tak tahu apa pun tentangnya.
"Dan sedikit pemarah." lanjut Cherry.
"Hahaha..." David meraih rambut Cherry dan mengusapnya lembut, "apa kamu ingin tahu tentang diriku?"
"Ya." jawab Cherry cepat dengan wajah penuh harap.
"Bertanyalah."
"Apa pekerjaan sayang?"
"Ehem ... aku CEO Eagle Group."
"Benarkah? Sayang pemilik mall-mall besar di negeri ini? Wah ... hebat sekali." sanjung Cherry.
David membusungkan dadanya, merasa bangga disanjung Cherry.
"Mmm ..."
"Masih ada yang ingin kamu tanyakan?"
"Itu ..."
"Katakan."
"Jangan marah, ya ..."
"Tentu."
"Mmm ... sebelum menikahiku, apakah ... apakah sayang seorang du- duda?"
"Ya."
Cherry menghela nafas panjang karena tak menyangka David hanya menjawab satu kata "ya" dengan cepat.
Hening.
Cherry tidak berani menanyakan bagaimana ia bisa menduda. Pun David, ia tak berminat menceritakan masa lalunya. Suasana menjadi canggung hingga mobil masuk ke halaman rumah keluarga Chuay.
Seperti biasa, setelah membersihkan diri mereka makan kemudian sibuk dengan urusannya masing-masing. Cherry rebahan di ranjang sambil memainkan ponselnya dan David melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. David menutup laptopnya. Matanya sudah lelah tetapi masih ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Lalu David bangkit dari duduknya dan menuju kamarnya, dilihatnya Cherry sedang berguling-guling di ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Apa yang membuatmu tertawa?" tanya David sambil mendekati Cherry.
__ADS_1
"Teman-temanku lucu sekali hahaha ... mereka menari di tengah lapangan." Cherry tertawa sambil menunjukkan sebuah video.
"Teman dari mana?"
"Teman di kampus."
"Kemarilah." Ucap David yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang.
Cherry duduk mendekat di sebelah David.
"Ceritakan tentang dirimu."
"Aku? Tak ada yang istimewa." ucap Cherry.
"Apakah kamu senang di sini?"
"Ya, aku di sini merasa jauh lebih baik. Ayahku tak akan memukulku karena mabuk dan kalah berjudi." Cherry menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan kesedihan di wajahnya.
David membelai rambut Cherry, "jangan bersedih."
"Tidak. Aku sudah melupakannya. Aku akan menyambut hariku yang lebih baik, meskipun suatu hari nanti akan ada banyak cobaan lain."
David merengkuh tubuh Cherry, "aku akan melindungimu. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi."
Cherry memeluk David erat, ada perasaan tenteram yang menyelimutinya. "Aku takut kamu yang menyakitiku kelak." ucapnya dalam hati.
Cherry melepaskan pelukannya, dilihatnya mata David yang berwarna hitam kelam, ia tak bisa tahu isi hati pria yang ada di hadapannya, "bolehkan aku bertanya?"
"Katakan."
Cherry ragu untuk menanyakannya, ia takut jawabannya akan menyakitinya. Tapi ia begitu penasaran dengan jawabannya, "apakah sayang mencintaiku?"
"Apakah itu penting?"
Kamu jangan serakah, Cherry. Harapanmu terlalu tinggi untuk mendapatkan cinta.
"Tidak, itu tidak penting." Cherry menjawab dengan lemah.
David melihat kekecewaan di mata Cherry. Entah kenapa dia tak tega melihat ekspresi itu. Sebegitu pentingkah ucapan cinta?
"Aku lelah. Aku mau tidur." ucap Cherry, kemudian ia menggeser tubuhnya lebih jauh dan merebahkan tubuhnya.
"Kamu marah?" David mendekati wajah Cherry, sangat dekat, hingga ujung hidung mereka bersentuhan.
"Ti- tidak. Aku ti- tidak marah." Tangan Cherry menahan dada David, tapi dengan cepat David meraih tangannya.
"Kamu sangat menggemaskan saat marah."
Cherry memalingkan wajahnya ke samping, ia merasa David akan menindasnya.
"Aku mencintaimu." bisik David, tepat di dekat cuping telinga Cherry.
Cherry seperti tak percaya mendengarnya, lalu ia menatap wajah David, "apa?"
"Aku mencintaimu. Cherry Plum, kamu milikku."
David mencium Cherry lembut, Cherry menyambutnya dengan bahagia. Air mata menetes dari ujung mata Cherry, ia pikir ini adalah mimpi. Bahkan dalam mimpi pun ia bisa sebahagia ini.
Cherry membelai pipi David, baru kali ini dia berani menyentuhnya, "apakah aku bermimpi? Ini mimpi yang indah."
David mencium leher Cherry, menyesapnya hingga meninggalkan warna merah, "ini adalah tanda cinta. Kamu tidak sedang bermimpi, sayang."
"Beri aku cinta sebanyak mungkin." ucap Cherry.
__ADS_1
"Dengan senang hati." David kembali mencium Cherry. Ia memperlakukannya dengan lembut dan penuh cinta. Ya, penuh tanda cinta di seluruh tubuh Cherry.
Cherry kelelahan menghadapi David, hingga akhirnya ia tertidur. David menutupi tubuhnya dengan selimut. Dikecupnya kening Cherry, "aku akan melindungimu."
***
Pagi ini cuaca cerah, Cherry masih berada di dalam selimutnya.
"Bangunlah, pemalas." David mencium leher Cherry.
"Ah ..." Cherry mendesah kegelian, "sebentar, aku lelah sekali."
"Apa yang kamu lakukan sampai kelelahan?" goda David.
"Aku bermimpi sangat panjang." ucap Cherry. Beberapa detik kemudian mata Cherry terbuka dengan lebar, ia tersadar bahwa David telah bangun mendahuluinya. Buru-buru ia duduk karena melihat David telah memakai baju kerjanya.
"Ah, maafkan aku. Aku kesiangan."
Cherry menatap dirinya, ia baru menyadari saat ini bahwa tubuhnya tak memakai apa pun. Buru-buru ditarik selimutnya hingga menutupi lehernya.
"Hmmm ... apa yang telah kamu lakukan hingga membuatmu kesiangan?" David duduk di ranjang dan menatap tubuh Cherry, selimutnya tersingkap.
Wajah Cherry bersemu merah karena malu, ia tidak mungkin menceritakan mimpinya. Ia mengintip sesuatu di balik selimutnya, "hah?!"
David mencium kening Cherry, "Kamu tidak bermimpi. Aku benar-benar meninggalkan tanda cinta di seluruh tubuhmu."
Cherry menutupi wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Sayang, aku tak bisa mengantarmu pagi ini. Tak apa kan?" David membelai rambut Cherry, "pagi ini aku harus berangkat ke luar kota."
Cherry membuka tangan dari wajahnya, "ya, tentu saja."
"Aku harus pergi sekarang."
"Ya, hati-hati di jalan."
"Beri aku ciuman." David mendekatkan wajahnya.
Cherry mengerutkan alisnya, "Aku belum gosok gigi."
"Aku menyukainya."
Cherry mengecup bibir David, "pergilah sayang, jangan sampai terlambat."
"Aku berangkat."
"Bye ..." Cherry melambaikan tangannya.
Cherry masih terduduk di ranjang, seperti tak percaya dengan apa yang ia alami, "ini bukan mimpi. Dia menyatakan cinta!" pekik Cherry.
Sepanjang pagi ini Cherry terlihat sangat ceria. Ia mengenakan sebuah dress selutut berwarna pink yang menunjukkan suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga.
"Kita sudah sampai, Nyonya." ucap Johan tepat di depan pintu gerbang kampus. Karena masih pagi, suasana kampus belum ramai. Cherry tak keberatan Johan menghentikan mobilnya di sini.
"Johan, Hari ini aku pulang jam dua siang."
"Baik, Nyonya. Saya akan menjemput tepat waktu."
"Terima kasih." Cherry keluar dari mobil dan memasuki gerbang kampus.
Tanpa ada yang menyadari, Sandra terus memperhatikan mobil yang telah mengantar Cherry. Sedari pagi menunggu kedatangannya. Awalnya dia berencana untuk menyapa Billy -ia masih mengira David bernama Billy-, tapi ia tidak melakukannya karena ia melihat plat nomornya berbeda, meskipun mobil memiliki model yang sekilas sama.
"Cherry diantarkan mobil yang berbeda. Apakah dia-- ah kupikir dia gadis yang terlihat polos, ternyata-- siapa yang sangka. Jadi begitu ya, tak heran bila dia bisa mengenakan pakaian mahal dan barang-barang mewah setiap hari." Sandra membuat kesimpulannya sendiri.
__ADS_1