Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 13 Gosip


__ADS_3

Gosip berembus lebih cepat dari kecepatan cahaya. Siang ini sudah tersebar kabar bahwa Cherry adalah simpanan pria-pria kaya.


"Ternyata begitu ya, pantas saja dia selalu memakai baju mahal. Ssst ... dia lewat."


Cherry mendengar percakapan teman-teman satu kampusnya. Ia sudah mengira bahwa suatu saat hal ini akan terjadi. Tapi ia tak berharap gosipnya akan menyebar secepat ini.


"Jangan hiraukan perkataan mereka." ucap Sandra yang berjalan di samping Cherry.


"Tentu saja." Cherry berkata dengan nada datar.


"Cherry, aku harus ke ruang administrasi."


"Baiklah, aku akan pulang."


"Oke, bye ..."


"Bye ..."


Cherry berjalan sendirian menuju arah pintu gerbang.


"Cherry!" Seseorang memanggilnya.


Cherry menghentikan langkahnya untuk melihat siapa yang memanggilnya, "Alan." Cherry mengacuhkannya dan kembali melangkahkan kakinya.


Alan berlari mengejar Cherry yang terus berjalan hingga sejajar dengan langkahnya, "hei, aku ingin mengajakmu makan siang."


"Aku mau pulang." jawab Cherry tanpa menghentikan langkahnya.


"Ayolah, berapa hargamu?"


Cherry terkejut, langkahnya terhenti.


"Katakan saja." ucap Alex.


Cherry melihat Johan telah berdiri menunggunya di luar pagar. Ia memilih tak menghiraukan Alex dan meninggalkannya begitu saja.


Alex berlari mengejar Cherry lalu berkata "Jangan jual mahal, semua orang di sini tahu kalau kamu simpanan om-om."


"Plak!" Sebuah tamparan melayang ke pipi Alex. Cherry sudah tidak bisa menahan diri.


Alex meringis memegang pipinya, "beraninya kamu!" Tangan kanannya melayang hendak membalas tamparan.


Tanpa diduga seseorang menahan tangan Alex dan menghempaskannya.


"Siapa kamu?" Alex mencoba melawan.


"Johan, tak perlu meladeninya. Mari kita pergi."


"Oh, ini salah satu sugar daddymu?" ejek Johan.


Johan nampak menahan emosi mendengar penghinaan Alex, "Nyonya, saya bolehkah saya memukulnya sekarang?"


Cherry khawatir ada perkelahian dan menimbulkan keramaian di kampus. Ia tak mau mendapatkan masalah, "tidak perlu, kita pulang saja."


"Kamu memanggilnya apa? Nyonya? Jadi kamu adalah budak Cherry? Hahaha ini lucu sekali." Alex menertawakan Johan.


Cherry tidak terima mendengar Johan dihina, "kamu bisa memukulnya sekarang. Jangan sampai kalah darinya." ucap Cherry pada Johan.


"Tenang saja, Nyonya." Johan menyeringai pada Alex.


"Buk!" Dengan cepat dan tepat, Johan memukul wajah Alex hingga ia tersungkur di tanah.


"Ukh ..." Alex meringis kesakitan.


Kejadian ini menyebabkan mereka menjadi pusat perhatian. Para mahasiswa yang kebetulan lewat menghentikan langkahnya.


"Johan, kita pergi." Cherry berjalan menuju mobil, tak menghiraukan orang-orang yang mulai membicarakannya. Johan mengikutinya dari belakang.


"Nyonya, saya bisa menghabisinya tadi." ucap Johan sambil mengemudikan mobil.

__ADS_1


"Kamu ingin masuk penjara?"


"Saya tidak peduli, dia telah menghina Anda."


"Johan, aku tidak menginginkan itu. Tapi kamu hebat sekali, apakah kamu bisa bela diri?"


"Nyonya bisa mengandalkan saya."


"Laki-laki itu hanya tahu bagaimana menyakiti wanita. lain kali pukul dia lebih keras"


"Siap, Nyonya."


***


"Kling." Sebuah pesan dari Johan masuk ke ponsel Billy.


Billy membacanya. Johan menceritakan apa yang baru saja terjadi di kampus Cherry.


Saat ini sedang ada rapat pemegang saham. Billy tidak berniat melaporkan kejadian itu pada Tuannya. Ia merasa masalah ini tidaklah darurat. Ia bisa melaporkannya nanti setelah rapat berakhir beberapa jam lagi.


"Apa apa?" tanya David setelah rapat berakhir.


Billy menceritakan apa yang terjadi tadi siang sesuai laporan Johan.


"Kenapa baru kamu katakan sekarang?"


"Maafkan saya, Tuan."


"Dengar, mulai sekarang istriku adalah prioritas utama. Mengerti?"


"Baik, Tuan."


"Aku pulang sekarang. Kamu tetap di sini."


"Baik, Tuan."


Hari masih sore, matahari baru akan masuk ke peraduannya. Johan yang tengah berada di halaman menyambut kedatangan tuannya.


David keluar mobil dengan wajah yang tidak bersahabat, "Johan, aku mau informasi laki-laki yang mengganggu Cherry hari ini."


"Baik, Tuan." Johan bukan sembarang sopir pribadi David. Selain menguasai ilmu bela diri, dia juga mantan anggota gangster dengan jabatan tinggi waktu itu. Karena suatu hal, ia memilih mengabdikan diri pada keluarga Chuay. Untuk mendapatkan informasi seseorang sampai ke akar-akarnya bukanlah hal yang sulit baginya.


David melihat Cherry sedang duduk menikmati teh di ruang makan.


"Sayang sudah pulang." Cherry berdiri menyambut David.


David mendekati Cherry dan memeluknya erat, "apa kamu baik-baik saja?"


"Tentu, aku baik-baik saja." Cherry tak mengerti kenapa David jadi melankolis.


"Kamu tidak terluka?"


Cherry melepaskan pelukan David, "lihatlah sayang, aku baik-baik saja."


David mengamati tubuh Cherry, "ya, aku melihatnya."


"Kupikir sayang akan pulang terlambat hari ini."


"Tidak, urusannya sudah selesai."


"Aku akan siapkan air untuk mandi."


"Tidak, aku masih ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Bila kamu ikut ke kamar mandi, semuanya akan tertunda."


"Benarkah? Mengapa?"


"Karena aku ingin menghabiskan waktu bersamamu."


Wajah Cherry bersemu merah mendengarnya, "sayang hanya ingin menindasku."

__ADS_1


David tiba-tiba saja mencium leher Cherry, "aku akan memperlakukanmu dengan lembut. Apakah kamu ingin mandi bersamaku?"


Cherry mendorong lembut tubuh David, "sayang ... pergilah."


"Aku akan turun saat makan malam."


"Aku menunggu."


David melangkahkan kakinya ke lantai atas. Ia segera mandi dan berganti pakaian, kemudian menuju ke ruang kerjanya.


Johan menemui David di ruang kerjanya. Ia telah mendapatkan informasi yang diminta David. Sebetulnya tanpa menunggu perintah pun, Johan telah berinisiatif untuk mencari tahu tentang Alex. Ia tak terima dengan sikapnya yang telah menghina Cherry di depan umum.


"Alex adalah teman sekolah Nyonya, ia juga menjalin kekasih dengan sahabat Nyonya yang bernama Sandra. Orang tua Alex bekerja di Eagle Textile. Saya telah menulisnya lengkap di sini." Johan menyerahkan selembar kertas yang memuat informasi lengkap tentang Alex, bahkan keluarganya.


"Laporkan pada Billy. Katakan padanya untuk kemari besok pagi."


"Baik, Tuan."


"Johan, jaga Cherry baik-baik. Jangan sampai dia terluka."


"Baik, Tuan."


"Kamu bisa pergi."


"Saya permisi."


Alex telah mempermalukan Cherry. Dia merendahkan martabatnya sebagai wanita. David geram dibuatnya.


"Bagaimana bisa dia menyebut istriku sebagai simpan om-om? Apakah aku terlihat begitu tua?"


*Sketsa wajah David Chuay



Cherry masih duduk di ruang makan. Jarinya terus menggeser layar ponselnya, dia menjadi trending topic kampus hari ini. Fotonya yang tengah berjalan dengan Johan menyebar dengan cepat di sosial media. Begitu banyak komen negatif menghakimi fotonya. Bahkan Cherry tak mengenal mereka, bagaimana bisa mereka menuliskan sesuatu yang buruk tentangnya.


"Mia, aku ingin makan mie instan yang pedas." ucap Cherry, Mia sedang menyiapkan makan malam di dekatnya. Ia ingin meluapkan kekesalannya dengan makan mi pedas.


"Makan malam sudah hampir siap, Nyonya. Lagi pula, di sini tak ada mie instan."


"Benarkah? Ah, aku harus membelinya sendiri."


"Apa yang mau kamu beli?" tanya David yang telah menuruni tangga.


"Mie."


"Mia bisa membuatkan berbagai macam mie."


"Aku hanya ingin mie instan, tidak perlu repot."


"Untuk apa makan makanan seperti itu? Itu tidak sehat."


"Dulu aku sering memakannya, bahkan hampir tiap hari."


"Baiklah Mie, buat mie sekarang." Perintah David pada Mia.


"Makan malam sudah siap sayang. Besok saja, Mia." Cherry berkata dengan cepat. Ia tak mau merepotkan Mia.


"Kita bisa menunggu sebentar." Ucap David.


"Tidak-tidak. Mari kita makan. Aku sudah lapar." bujuk Cherry.


"Makan dulu, lalu kita pergi ke mini market untuk membeli mie instan."


"Ah, benarkah?" Cherry tertawa riang, "terima kasih, sayang."


David tersenyum. Ia sedang mencoba menghibur hati Cherry. Ia tahu Cherry sedang bersedih. Sekarang David melihatnya kembali riang hanya karena mie instan.


Sesederhana itu membuatmu bahagia.

__ADS_1


__ADS_2