Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 5 Sekretaris


__ADS_3

"Atas nama Cherry."


Resepsionis hotel menyerahkan sebuah chip card pada Cherry, "semoga hari Anda menyenangkan."


"Terima kasih."


Cherry berjalan menuju lift, tujuannya adalah presiden suite room di lantai lima. Dengan rok mini dipadankan dengan sepatu high heels, Cherry nampak sedikit tidak nyaman saat berjalan.


Sampai di ruang yang dimaksud, Cherry menggesek chip yang ia pegang. Betapa terkejutnya saat pintu dibuka, ia membayangkan ruangan itu adalah sebuah tempat rapat. Dengan pakaian yang lebih mirip tampilan seorang sekretaris ini, Cherry berpikir suaminya akan mengenalkannya dengan rekan kerjanya. Tapi ternyata ruangan ini adalah sebuah kamar tidur yang super besar dan mewah, dilengkapi dengan jacuzzi di dekat jendela.


"Untuk apa semua ini?" Cherry menutup pintu dan memasuki kamar. Rasa khawatir mulai muncul, ia tak tahu apa yang direncanakan suaminya.


"Apakah aku akan ada lelaki jahat datang ke sini?" Memikirkannya saja membuat merinding. Bahkan ia tak sempat mengagumi keindahan interior kamar.


"Tit tit tit." tanda bahwa pintu kamar dibuka. Dengan cepat Cherry berdiri dan menyiagakan diri, ia tak tahu siapa yang datang.


"Huuh..." Cherry menghembuskan nafas lega karena melihat David yang datang.


"Ada apa?" tanya David.


"Kupikir orang lain yang datang."


David memandangi penampilan istrinya dari ujung kaki ke kepala. Rambut lurusnya diikat ekor kuda, kaca mata dengan bingkai lebar terlihat pas di wajahnya, kemeja putih dengan aksen ruffle di leher, jas warna hitam, rok mini dengan warna senada, dan sepatu high heels. Semua orang mungkin akan berpikir kalau dia seorang sekretaris.


"Tuangkan aku minuman." ucap David setelah duduk di sofa.


Cherry mengambil sebotol minuman yang ada di meja dan menuangkannya di gelas, kemudian diserahkannya pada David.


"Kamu tak minum?"


"Aku belum pernah minum."


"Mau mencoba?" tanya David sambil menggoyang-goyangkan gelasnya.


"Tidak. Katakan kenapa kita di sini?"


"Kemarilah, duduk di dekatku."


Dengan ragu, Cherry duduk di sofa yang sama dengan David.


"Mendekatlah, apa aku menakutkan?"


Cherry menggeser duduknya sedikit, masih cukup jauh menurut pemikiran David.


"Katakan, untuk apa kita di sini?" tanya Cherry lagi sambil memutar badannya menghadap David. Rok mininya menjadi tertarik ke atas.


Melihat kulit putih dan halus itu membuat David menelan ludah. Cepat-cepat ia meneguk minuman di tangannya untuk menutupinya.


"Kita akan bersenang-senang di sini."


"Maksudnya?"


"Ayolah sayang, kita sudah menikah." David mulai menggoda. Diraihnya tangan Cherry, "kamu seperti seorang sekretaris yang cantik."

__ADS_1


Cherry salah tingkah mendapatkan rayuan David. Wajahnya bersemu merah.


"Maukah kamu jadi sekretarisku?"


"Aku? Apakah aku mampu?" tanya Cherry ragu.


"Tentu saja. Aku akan membimbingmu. Bagaimana?"


"Iya, terserah padamu." Cherry menerima tawaran itu karena merasa memiliki kesempatan untuk menghasilkan uang sendiri. Ia tak mau selamanya bergantung pada David.


Di sisi lain, ucapan David tidak serius. Dia hanya ingin istrinya memerankan dirinya sebagai seorang sekretaris dan memuaskannya.


"Kalau begitu, panggil aku Bos." pinta David.


"Bos." ucap Cherry malu-malu sambil menunduk.


David mencium bibir Cherry lembut. Cherry yang merasa tak siap dibuat gelagapan.


"Rileks sayang." ucap David lalu meneguk minuman yang masih ia pegang kemudian kembali mencium Cherry.


Cherry kaget ketika merasakan benda cair masuk ke mulutnya. David memberinya minuman. Cherry tak sempat menghindar karena David menekannya.


Tak menunggu lama, kepala Cherry terasa pusing. Ia belum pernah sekali pun meneguk minuman beralkohol. Kepalanya terasa berat.


David yang merasakan perubahan pada tubuh istrinya, dengan cekatan membopongnya ke ranjang.


"Kepalaku pusing." ucap Cherry.


"Apakah Bosmu harus merawatmu?"


"Panggil Bos lagi." pinta David, ia begitu senang ketika Cherry seolah-olah benar-benar menjadi sekretarisnya.


"Bos bos ... bos ..." Cherry mulai meracau, dia benar-benar tak bisa minum.


"Kubantu kamu melepas bajumu. Di sini terlalu panas." David mulai melepas jas Cherry.


"Bos, jangan macam-macam, ya!" protes Cherry dengan lemah.


"Tidak, sayangku ... kamu sungguh mempesona."


David mengusap tengkuk Cherry dengan hidungnya dan membuatnya kegelian. Ia memperlakukan Cherry dengan lembut karena tak ada perlawanan. Kepala Cherry terlalu berat untuk tetap sadar. Tubuh Cherry pun memberikan respon ketika tiap lekuknya disentuh David.


Kancing kemejanya terlepas dengan sembarangan dan rok mininya yang tersingkap sampai pinggang dibiarkan menempel di badannya. David hanya melepaskan benda berbentuk segitiga dari tubuh Cherry.


"Sekretarisku sayang ..." bisik David.


"Bos, bos ... kamu mau apa?" Cherry merespon setengah sadar.


Tanpa memberikan jawaban dalam kata-kata, David memberikannya lewat tindakan.


"Bos ... bos ..." Cherry meracau.


Suara Cherry yang memanggilnya bos makin membuat David melayang dan mereka bersatu.

__ADS_1


David berbaring di sisi Cherry. Dilihatnya Cherry telah terlelap, dia kelelahan ditambah dengan kondisinya yang mabuk. David ikut memejamkan mata sejenak sambil memeluk pinggul istrinya.


Ia harus segera kembali ke kantor, namun istrinya masih tertidur di bawah selimut. Beberpa menit kemudian, David telah berpakaian rapi dan sedang menunggu seseorang.


"Tok tok tok." Pintu kamar diketuk.


David membukakan pintu dan mengambil sebuah papper bag dari tangan Billy.


"Tunggu aku di lobi." David menutup kembali pintu kamar dan bawaannya di meja. Ia mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu. Kemudian ia pergi meninggalkan Cherry yang masih tertidur.


"Ah, di mana ini." Cherry memegangi kepalanya yang masih menyisakan rasa tidak nyaman.


Cherry mengamati sekelilingnya dan kesadarannya mulai terkumpul. Ia samar-samar mengingat apa yang telah ia lakukan beberapa jam yang lalu. Ia beranjak menuju kamar mandi dan mendapati pakaiannya yang berantakan dan kancing kemeja telah hilang semua.


"Ah, bagaimana aku bisa pulang? Laki-laki itu pasti sudah pergi, seenaknya saja meninggalkanku di sini."


Cherry segera mandi dan membungkus dirinya dengan bath robes. Ia menyusuri ruangan mencari sesuatu untuk mengisi perutnya, tapi tak ada apa-apa. Dilihatnya sebuah papper bag dan secarik kertas.


"Pakailah baju ini. Di lantai bawah ada restoran enak, makanlah lalu pulang. Aku ada rapat sampai malam."


"Padahal aku belum pernah menikmati rasanya jacuzzi. Sepertinya menyenangkan. Sayang sekali aku tak bisa menikmatinya, kamar ini pasti mahal sekali." ucapnya sambil memakai baju.


Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Pantas saja perutnya sudah memberikan kode untuk makan. Lalu Cherry bergegas meninggalkan kamar hendak makan di restoran hotel.


Melihat restoran yang begitu mewah, membuat Cherry merasa canggung. Apalagi dia sedang sendirian. Akhirnya dia memilih untuk tidak makan dan mencari Johan yang dengan setia menunggunya.


Sesampainya di kediaman Chuay, Cherry langsung menuju dapur. Mencari sesuatu untuk dimakan. Ia membuka seluruh kabinet, barangkali bisa menemukan mie instan.


"Nyonya, apa yang kamu cari?" tanya Mia yang muncul dari ruangan sebelah.


"Mie instan, kamu punya?"


"Tidak ada, Nyonya."


"Ah, tahu begini aku akan mampir mini market terlebih dahulu." ucap Cherry terduduk lemas di kursi makan.


"Apakah Anda ingin makan, Nyonya?"


"Ya, aku lapar."


"Tunggu sebentar, aku akan membuatkannya untukmu. Apa yang ingin Anda makan?"


"Apa pun, yang tidak merepotkanmu."


"Saya akan memasak sesuatu yang bisa segera Anda makan."


Mia begitu cekatan memasak. Dikeluarkannya beberapa bahan makanan dari lemari es. Ia mulai memanggang daging dan beberapa sayuran. Aromanya membuat Cherry menelan air ludah.


"Silahkan, Nyonya." Mia menghidangkan sepiring stik tenderloin, kentang goreng, dan sayuran.


"Wah, serasa di restoran. Cepat sekali kamu memasak." puji Cherry.


"Terima kasih, Nyonya.”

__ADS_1


Karena perutnya yang lapar, ia sampai lupa menanyakan keberadaan David saat ini.


__ADS_2