
Lagi-lagi malam ini David tidak tidur di kamarnya. Cherry gelisah semalaman, ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Berbagai prasangka memenuhi otaknya, "apa yang sedang mereka lakukan?"
Hingga pagi menjelang, David belum menampakkan diri.
"Di mana David?" tanya Nyonya besar Chuay saat akan menyantap sarapannya.
"Mungkin masih ada pekerjaan." Cherry mencoba mencari alasan untuk suaminya, sesungguhnya ia pun tak tahu keberadaan David.
Tiba-tiba David muncul dari pintu depan.
"David, dari mana saja kamu?"
"Ma, aku harus mengganti pakaian dan pergi ke kantor. Kita bicara nanti." ucap David sambil berlalu menuju lantai atas.
"David!" Nyonya besar Chuay nampak kesal.
"Maaf mengganggu Nyonya." Mia datang membawa telepon, "Tuan besar ingin bicara dengan Nyonya."
Kemudian Nyonya besar Chuay mengambil telepon dan membawanya ke kamar. Sedangkan Cherry, ia hanya memainkan sarapannya, perasaannya begitu kacau.
"Cherry, kenapa kamu melamun?" suara Nyonya besar Chuay mengagetkannya.
"Ah, tidak." jawab Cherry gugup.
Nyonya besar Chuay duduk di sampingnya, kemudian digenggamnya tangan Cherry, "sayang, aku tahu kamu anak yang baik. Bertahanlah." kemudian ia menghela nafas panjang, "papa David memintaku untuk segera pulang. Apakah kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Ma."
"Mama mau pulang?" David tiba-tiba saja sudah berada di ruang makan.
"Ya."
"Biar Johan antar ke bandara." ucap David.
"Tidak perlu, mama bisa atur sendiri. Biarkan Johan mengantar Cherry ke kampus."
"Hati-hati di jalan, Ma. Aku harus segera ke kantor. Sampai jumpa." David pergi begitu saja, padahal Cherry ingin sekali menanyakan banyak hal padanya.
"Baiklah, sayang. Mama harus bersiap-siap." Ucap Nyonya besar pada Cherry.
"Hati-hati di jalan, Ma. Cherry juga harus berangkat." Cherry pamit dan mereka saling berpelukan. Cherry begitu nyaman memeluknya, ia merindukan pelukan hangat dari seorang ibu yang tak pernah ia dapatkan.
Johan telah menunggu Cherry di halaman. Sepanjang perjalanan Cherry terlihat murung, ia tak mengucapkan sepatah kata pun hingga mobil berhenti di depan kampus.
"Nyonya, kita telah sampai." ucap Johan.
"Ya." Cherry keluar dari mobil dan berjalan masuk ke pintu gerbang kampus.
***
David tengah sibuk di kantornya, beberapa hari bersama Megan membuat banyak pekerjaannya menjadi tertunda.
"Kling." Sebuah pesan dari Megan masuk ke ponselnya.
[Kak, kenapa tiba-tiba pergi saat aku masih tidur? Aku takut sendirian di sini.]
[Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Kita akan makan bersama.]
__ADS_1
[Baik, Kak.]
Saat jam makan siang tiba, David menumpuk lagi berkas-berkas yang belum selesai ia periksa, kemudian pergi menuju hotel tempat Megan menginap.
"Kakak." Megan berhambur memeluk David yang baru saja datang ke kamarnya. Lalu Megan menggandengnya menuju sofa di tengah ruangan.
David menatap Megan yang mengenakan pakaian tidur tipis sehingga membuat lekuk tubuhnya terlihat.
"Kak, di sini ada minuman. Apakah kakak mau mencobanya?" Megan telah menuangkannya di gelas.
David mengambil gelas minuman dan menggoyangkannya pelan. Ia teringat saat Cherry mabuk hanya dengan seteguk minuman dari bibirnya di kamar ini. Ya, ini adalah kamar yang sama saat ia bercinta dengan Cherry.
"Kenapa Cherry tak pernah menghubungiku?" batinnya.
Dikeluarkan ponsel dari saku jasnya, lalu David mengirimkan pesan pada Cherry,
[Cherry, sedang apa?]
"Kakak mengirim pesan pada siapa?"
"Cherry."
Megan tak suka mendengarnya, "kak, aku lapar." ucapnya manja.
"Baiklah, ayo kita makan."
"Kita makan di kamar saja boleh?"
"Boleh. Pesanlah yang kamu mau."
"Kakak memang yang terbaik." Megan mengecup pipi David, kemudian ia memesan makanan memakai layanan telepon.
"Kak, jangan bekerja terus. Aku akan meletakkan ponselmu jauh-jauh." ucap Megan dengan wajah ceria dan manja, ia meletakkan ponselnya di atas nakas, diam-diam Megan mematikan ponsel itu.
"Megan ..."
"Ayolah Kak, hanya sampai kita selesai makan siang." bujuk Megan.
Beberapa saat kemudian pegawai hotel datang mengantarkan makanan. Megan tak berniat membiarkan David pergi kali ini, ia akan membuat David minum banyak karena semalam ia telah gagal membuat David tergoda oleh rayuannya.
"Mari kita bersulang." ucap Megan sambil mengacungkan gelas minumannya yang penuh, lalu ia meneguknya sampai habis.
"Megan, jangan terlalu banyak minum."
"Selama ini aku selalu jadi anak baik, Kak. Biarkan aku menikmatinya sekarang. Ayo kak David habiskan minumanmu."
David meneguk habis isi gelasnya. Kemudian Megan menuang penuh kedua gelas yang telah kosong.
"Kenapa tiba-tiba panas sekali." Megan melepas jubah tipisnya, membuat lingerie yang ia kenakan makin menantang.
"Apa kakak tak kegerahan?" Megan mencoba melepaskan jas yang dipakai David.
"Megan, kamu mabuk." David menepis lembut tangan Megan.
"Ini hanya dua gelas saja, bagaimana mungkin aku mabuk." Megan meraih pipi David dengan tangannya lalu mendekatkan wajahnya begitu dekat hingga bibirnya menyentuh bibir David.
"Megan." David menghindari bibir Megan, tangannya menahan tubuh Megan yang menindihnya.
__ADS_1
"Kakak, aku tak mau sendiri. Aku takut." rengek Megan, ditempelkan kepalanya di dada David. Tubuhnya telah berada di atas tubuh David. Dalam posisi seperti ini, pria mana yang tak akan tergoda.
"Megan, jaga sikapmu." Suara David berubah dingin, ia tahu Megan hanya berpura-pura mabuk.
David mendorong tubuh Megan dengan pelan, kemudian ia berdiri membetulkan jasnya, "makanlah, aku harus kembali ke kantor."
David mengambil ponselnya di nakas dekat ranjang kemudian meninggalkan keluar dari kamar hotel, meninggalkan Megan sendiri.
"Sial!!!" teriak Megan, "tubuh ini sudah kubuat semirip mungkin dengan Rachel, bahkan aku harus melakukan beberapa operasi plastik. Kenapa kamu terus menolakku?" Megan marah dan melempar gelas yang ada di tengannya.
***
David berpikir bahwa Megan adalah pengganti Rachel, ia bisa mengobati kerinduannya pada mendiang istrinya. Namun sifat mereka berbeda, Meskipun secara fisik Megan dan Rachel terlihat sama.
David pun merasa heran dengan dirinya, ia pikir dirinya begitu menginginkan Megan hingga Cherry tak ia hiraukan beberapa hari ini. Tapi kenapa tubuhnya tak merespon saat Megan mencoba menggodanya? Ada apa dengan dirinya?
David menyembunyikan kegundahan hatinya dengan melanjutkan pekerjaan yang tertunda di kantornya. Ia tak menyadari ponselnya yang tidak aktif hingga sore hari.
"Tok-tok-tok." Pintu diketuk.
"Masuk."
Billy masuk ke dalam ruangan, nampak wajahnya yang sedang gelisah.
"Ada apa?" tanya David.
"Johan berkali-kali mencoba menghubungi Tuan, sepertinya ponsel Anda tidak aktif."
David menatap ponselnya yang tergeletak di meja, ia baru menyadari kalau Megan mematikannya tadi.
Billy melanjutkan, "Johan tidak dapat menemukan Nyonya."
"Apa maksudmu?"
"Nyonya tidak ada di kampus. Ponselnya tidak aktif. Johan telah berkeliling kampus untuk mencarinya karena sudah waktunya pulang."
David mengambil ponselnya dan beranjak dari kursi, "kita ke kampus."
"Baik, Tuan." Billy mengikutinya dari belakang.
Billy mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Selama di perjalanan, David mencoba menghubungi ponsel Cherry, tapi ponsel itu tidak aktif, "Cherry, di mana kamu?"
Saat sampai di depan kampus, Johan telah menunggu kedatangan tuannya, "maafkan saya Tuan David, Nyonya belum saya temukan."
"Apa kamu sudah memeriksa CCTV?" tanya David.
"Sudah, Tuan. Pagi ini CCTV merekam kedatangan Nyonya, beberapa menit kemudian Nyonya keluar dari gerbang kampus kemudian tak masuk lagi hingga sore hari."
"Johan, cari keberadaannya di sekitar jalan ini. Billy, pergilah ke rumah ayahnya. Dapatkan informasi di sana."
"Baik, Tuan." Billy segera pergi, begitu juga dengan Johan.
David menghela nafas panjang, "Cherry, aku akan menghukummu nanti."
Ternyata tak ada yang bisa menemukan Cherry, hingga seminggu telah berlalu.
David berubah menjadi mudah marah pada pegawainya di kantor. Ia pun sering melamun di tengah kesibukannya bekerja.
__ADS_1
"Cherryku, kamu di mana? Apakah kamu marah karena aku telah menyia-nyiakanmu? Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu, atau aku tak akan bisa memaafkan diriku."