Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 18 Cemburu


__ADS_3

Cherry memandang wajah Sandra yang sembab, sepertinya ia baru saja menangis. Saat ini mereka sedang berada di kelas kosong, hanya berdua.


"Cherry, maafkan aku." Sandra mencoba memeluk Cherry, tapi Cherry menghindar, "tolong, maafkan aku."


"Kenapa?" Cherry tak mengerti kenapa Sandra bisa berbuat seperti itu, padahal ia sangat mempercayainya. Sandra merupakan satu-satunya teman dekat baginya.


"Kenapa?" Sandra tersenyum sinis, "apa yang aku inginkan, kamu yang mendapatkan."


"Apa maksudmu?"


"Cherry, siang malam aku belajar dengan keras. Tapi kamu yang mendapatkan nilai terbaik di kelas. Kamu tahu? Ibuku selalu membanding-bandingkanku denganmu!" Sandra begitu emosi, "lalu Alex, dia tak pernah peduli padaku. Dia hanya ingin tahu tentangmu!"


"Sandra, apakah kamu tak tahu? Kamu begitu beruntung. Kamu memiliki kedua orang tua yang menyayangimu. Kamu tak perlu bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupmu." Cherry menarik nafas panjang, "lalu Alex, sungguh kamu beruntung tak terjerat dalam cintanya karena dia bukan laki-laki yang baik. Dia mencoba melecehkanku."


Sandra merasa tertampar mendengar perkataan Cherry, kemudian ia menangis.


"Sandra, aku memaafkanmu. Tapi sepertinya kita tak bisa sedekat dulu." Cherry meninggalkan Sandra. Hatinya perih mengingat persahabatannya telah hancur.


***


[Tuan, bisakah kita bertemu? Aku ingin mengembalikan uang yang telah kupinjam.] Billy membaca pesan dari Sandra.


"Ada apa?" tanya David, kebetulan saat ini Billy tengah berada di ruangan David.


"Perempuan yang bernama Sandra ingin bertemu Tuan, ia mengatakan ingin mengembalikan uang."


"Suruh dia kemari sekarang."


"Baik, Tuan."


[Datanglah ke kantor, sekarang.]


Sandra sangat senang membaca pesan itu. Ia masih belum puas bila tidak bisa menaklukkan kekasih Cherry. Perkataan maafnya hanyalah di mulut saja. Hatinya masih penuh dengan rasa iri dan dengki.


Dengan bersemangat dia merapikan dandanannya dan menuju perusahaan Eagle Group. Sesampai di sana ia disambut security dan langsung diantar menuju ruang CEO.


"Aku diperlakukan dengan sangat baik. Aku pasti bisa mendapatkannya." batin Sandra.


"Tok tok tok." Security mengetuk pintu.


"Masuk." Suara seorang laki-laki dari dalam ruangan.


"Silakan masuk, Nona. Saya harus kembali." Security meninggalkannya.


Sandra masuk ke dalam ruangan dengan bangga. Dilihatnya dua orang laki-laki tampan di dalam ruangan dan ia telah mengenal salah satunya, "selamat siang." Sandra mengucapkannya dengan ramah dan riang.


"Apa maumu?" tanya David datar.


Tak menyangka mendapat sambutan sedingin itu membuat Sandra kehilangan kepercayaan diri, "ah iya, saya ingin mengembalikan uang."


"Bukankan Billy telah mengatakan bahwa aku tak memerlukan uang itu. Ambil saja."


Otak Sandra mulai berpikir, ia bertanya-tanya dalam hati, "Billy? Kenapa dia menyebut namanya sendiri? Kenapa pula meja kerjanya memilik papan nama bertuliskan David Chuay. Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Nona Sandra, aku minta kamu jauhi Cherry mulai sekarang. Hukuman dari kampus terlalu ringan untukmu." ucap David.


Seperti mendapatkan sengatan listrik, Sandra benar-benar terkejut mendengarnya. Bibirnya begitu kelu hingga ia tak mampu berkata-kata.


"Billy, suruh dia pergi." ucap David.


"Tidak, tunggu. Saya--"

__ADS_1


Billy mendekati Sandra, "Nona, silakan keluar. Jangan sampai Anda bernasib sama dengan Alex."


Mendengar nama Alex disebut, membuat tubuh Sandra lemas. Kakinya bergetar. Rasa takut menjalari ke seluruh tubuhnya. Kemudian ia memaksakan diri untuk berjalan dan keluar dari ruangan. Ia tak mengira kasus dikeluarkannya Alex dari kampus berhubungan dengan kekasih Cherry.


Sandra berjalan dengan gontai, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba saja seorang gadis berambut panjang menabraknya dan membuatnya terjatuh.


"Kamu melamun? Ini tempat kerja, bukan tempat melamun!" Hardik perempuan itu dengan tatapan dingin.


Sandra sudah tak memiliki daya untuk merespon ucapannya, dia hanya diam terduduk di lantai.


Kemudian perempuan itu melanjutkan langkahnya, ia mendorong sebuah koper besar di tangan kirinya.


Sherly, Sekretaris David hendak menghentikan perempuan itu untuk masuk ruangan. Tapi perempuan itu begitu memaksa dan mendorong Sherly hingga terjatuh. Lalu ia membuka pintu ruangan dan masuk ke dalam.


"Kakak David." panggilnya.


Sherly segera ikut masuk ke ruangan, "Tuan David, maafkan saya. Dia memaksa menerobos masuk."


"Tidak apa-apa, Sherly. Kamu bisa keluar."


"Permisi, Tuan." Sherly keluar dan menutup pintu.


"Aku merindukanmu." Perempuan itu lari dan memeluk David yang masih terduduk di kursinya.


"Megan." David menyambut pelukannya.


"Tuan David, saya permisi." Billy pamit keluar ruangan.


"Ya."


"Kakak, kenapa tak pernah meneleponku?" Megan bermanja-manja di pangkuan David.


"Hei, bagaimana kamu ke mari?"


"Aku telah menyelesaikan studyku di Paris. Aku ingin bertemu denganmu."


"Bagaimana kabar orang tuamu?"


"Ya, mereka baik."


David menatap Megan, adik kandung istri David yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Kini Megan telah dewasa, wajah dan penampilannya begitu mirip dengan mendiang istrinya, bagai pinang dibelah dua.


"Ini sudah hampir malam. Bagaimana kalau aku tidak ada di kantor?"


"Maka aku akan langsung menuju rumah Kakak. Aku lapar sekali." Megan bergelayut di leher David.


"Mari kita makan." ajak David.


"Bagaimana koperku?"


"Biar mereka kirim ke rumah."


Kemudian mereka makan malam di sebuah restoran mewah. Megan adalah gadis yang cantik dan ceria. Ia terus saja bercerita dan membuat David tertawa hingga membuatnya lupa untuk menjemput Cherry.


***


Cherry berdiri di depan gerbang. Malam ini angin bertiup dengan kencang, membuat suasana semakin dingin.


"Mungkin David sedang sibuk, aku akan menunggunya sebentar lagi."


Malam semakin gelap. Kampus nampak makin sepi. Akhirnya Cherry mengeluarkan ponselnya dan menelepon David.

__ADS_1


"Hallo." Seorang wanita terdengar di ujung telepon, suara alunan musik jazz terdengar di belakangnya.


"Di mana David?" tanya Cherry.


"Dia sedang ke toilet."


Cherry menutup panggilan teleponnya begitu saja. Lalu ia menghentikan taxi yang melintas di depannya dan pulang menaiki taxi.


"Rupanya dia sedang bersama perempuan lain. Dia sampai lupa untuk menjemputku. Laki-laki begitu cepat berubah pikiran. " Selama perjalanan pulang, Cherry terus saja berpikir yang bukan-bukan. Hatinya terluka.


Mia menyambut kedatangan Cherry, "Nyonya, apakah Anda ingin makan?"


"Ya, tolong siapkan. Aku mandi dulu."


Cherry segera mandi dan kembali turun ke bawah untuk makan malam. Dia sudah lapar sekali.


"Nyonya, sepertinya kita akan kedatangan tamu. Seseorang dari kantor Tuan mengirimkan sebuah koper besar ke sini, sekarang kopernya ada di kamar tamu." ucap Mia yang sedang menemani Cherry makan.


"Benarkah? David belum mengatakan apa pun padaku." Selama Cherry tinggal di sini, ia belum pernah mendapati tamu masuk, kecuali Billy.


Suara tawa riang seorang perempuan terdengar dari luar, Cherry melihat perempuan itu sedang menggamit mesra lengan David. Mata mereka bertemu pandang.


"Cherry, kamu sudah di rumah?" David nampak terkejut melihat Cherry.


"Sayangnya iya, apa kamu akan membiarkanku membeku menunggu di luar sana?" Cherry tak dapat menahan emosinya, apalagi setelah melihat David pulang dengan seorang wanita, mereka begitu mesra.


Cherry tak melanjutkan makan malamnya. Ia segera berdiri dan beranjak ke kamarnya.


"Mia, antar Megan ke kamar tamu." Ucap David pada Mia.


"Megan, istirahatlah dulu. Kamu pasti lelah." ucap David lembut lalu berjalan mengejar Cherry yang sudah tak terlihat lagi dari pandangannya.


David mendapati Cherry tengah tidur di ranjang, ia menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Cherryku ... maafkan aku." David duduk di sebelah Cherry, "aku benar-benar lupa menjemputmu. Tiba-tiba Megan datang dan--" David tak melanjutkan perkataannya, dia mencium rambut Cherry yang tergerai lembut.


"Aku akan mandi dulu. Jangan marah lagi ya." David meninggalkan Cherry yang masih marah.


Beberapa menit kemudian David keluar menggunakan bath robe. Cherry masih menutupi tubuhnya dengan selimut, "Cherryku ..." bisik David di telinga Cherry.


"Pergi."


"Kamu cemburu? Dia adalah adikku." Bisik David di telinga Cherry.


Cherry membuka selimut yang menutupi wajahnya.


"Maaf telah membuatmu menunggu." David menatap wajah Cherry yang sembab, "kamu menangis?" David mengusap pipi Cherry yang basah.


"Cherry ..." David mencium bibir Cherry dengan lembut, Cherry tak kuasa untuk menolaknya. Amarahnya telah runtuh oleh buaian David.


"Tok tok tok." Pintu kamar diketuk, "Kak David, bisa tolong aku?" Megan berdiri di luar kamar.


David menghentikan ciumannya. Ia segera berdiri dan merapikan bath robenya yang sedikit berantakan.


"Ada apa, Megan?" tanya David setelah membuka pintu.


"Kak, bisakah kamu ikut ke kamarku? Aku tak bisa membuka koper." ucap Megan sambil mencoba melihat ke dalam kamar.


"Baiklah, ayo." Tanpa memedulikan Cherry, David keluar dan menutup kamar.


Cherry merasa diabaikan lagi. Tapi ia mencoba untuk berdamai dengan dirinya, "dia adalah adiknya, bagaimana mungkin aku cemburu."

__ADS_1


Beberapa jam telah berlalu dan David belum juga kembali ke kamarnya. Cherry mulai gelisah.


Apa yang sedang mereka lakukan?


__ADS_2