Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 24 Beban Dari Masa Lalu


__ADS_3

Cherry terpaku, melihat David meninggalkannya untuk kesekian kali demi Megan. Dia masih ingat bagaimana pagi tadi David meminta maaf dan membujuknya untuk tetap tinggal. David mengatakan tak pernah melakukan apa pun pada Megan, tapi ia juga tak mengatakan suatu hal untuk menolak keberadaan bayi dalam perut Megan.


Pagi tadi Cherry masih meragukan David, tapi setelah melihat tipu daya Megan, Cherry mulai berpikir bahwa tidak menutup kemungkinan bila kehamilan itu palsu. Cherry merasa harus menyelidikinya, ia tak mau Megan menipu David.


Malam semakin larut, David dan Megan belum juga kembali. Cherry gelisah menantinya di kamar. Saat mendengar mobil masuk ke halaman, Cherry segera menuju lantai bawah. Ia tak akan membiarkan Megan menahan David di kamarnya malam ini.


Megan menggandeng lengan David saat memasuki rumah. Riasannya terlihat kacau, sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Megan kehilangan bayinya." ucap David pada Cherry.


"Bagaimana bisa?" tanya Cherry tak percaya.


"Dokter tak menemukan apa pun di perutnya."


"Aku kehilangan bayiku karena kamu! Tega-teganya kamu!" Megan berteriak pada Cherry.


Cherry mundur beberapa langkah, ia tak mau Megan mencakar wajahnya.


"Tenanglah, Megan. Kamu butuh istirahat." David membimbingnya masuk ke kamar.


Cherry duduk di sofa di ruang santai, menunggu David. Ia tak berminat mendengarkan atau melihat apa yang terjadi di kamar itu. Setelah dua jam berlalu, David baru nampak keluar dari ruangan Megan.


David terkejut melihat Cherry yang masih terjaga, "kamu menungguku?"


"Ya."


"Aku lelah." David berjalan menuju kamar di lantai atas tanpa menunggu Cherry. Cherry mengikutinya dari belakang.


Keduanya terdiam beberapa saat ketika berada di kamar, membiarkan ruangan begitu sunyi.


"Bagaimana Megan kehilangan bayinya?" Cherry mulai bertanya.


"Kamu masih bisa bertanya?" David mengerutkan alisnya.


"Aku tak melakukan apa pun pada Megan, apalagi mendorongnya. Terserah kamu percaya atau tidak. Dia tidak sepolos itu." Cherry sudah tak tahan melihat kelakuan David yang menganggap Megan adalah seorang anak-anak yang tak tahu apa-apa, "apa kata dokter?"


David tak merespon ucapan Cherry.


"Apa benar Megan positif hamil lalu terjadi keguguran? Kenapa dia diperbolehkan pulang? Apa pendarahannya parah?" Cherry bertanya layaknya seorang detektif.


"Cherry! Dia sedang berduka." David terlihat marah.


"Ah, dan kamu menutup mata atas semua yang terjadi! Ke mana kalian memeriksakannya? Aku akan bertanya pada dokter yang memeriksanya secara langsung."


"Kamu hanya cemburu!" David masih terbawa emosi.


Cherry menghela nafas panjang, menahan dirinya, "ya, aku cemburu. Bagaimana mungkin aku rela melihat suamiku digoda perempuan lain."


"Cherry --"


"Sudahlah, tak ada gunanya. Di matamu dia adalah gadis baik yang belum melihat kejamnya dunia." Cherry merasa percuma berdebat dengan David yang selalu menang, "aku lelah. Aku ingin tidur."


Kemudian Cherry berbaring di ranjang dan menarik selimut menutupi tubuhnya, "tadi pagi aku telah berjanji untuk tetap di sini. Tenang saja, aku tak akan ke mana-mana."


Cherry memejamkan matanya, berpura-pura untuk tidur. Namun hatinya sakit. Apa yang ia takutkan selama ini terjadi, David mencampakkannya, begitu cepat. Ia sendiri tak mempercayainya.


David memandangi Cherry yang telah berbaring, ia begitu dekat tapi terasa jauh. Ingin dipeluknya tapi seperti ada sesuatu yang menahannya.


Setelah beberapa lama terpaku di tempatnya, David keluar dari kamar dan menuju ruang kerjanya. Kemudian ia melakukan panggilan telepon dari ponselnya.


"Alexander."


"Ada apa, David?"

__ADS_1


"Aku ingin kamu memeriksa sesuatu."


***


Pagi ini Cherry bangun lebih awal. Ia menyiapkan seluruh keperluan David sebelum dia bangun. Telah lebih dari seminggu ia tak pernah melakukannya lagi. Sebenarnya ia merindukan sikap hangat dan romantis David, tapi ja tak berani melepaskan rasa rindunya, "aku tak mau lebih tersakiti lagi." gumamnya.


"Siapa yang menyakitimu?" David telah bersandar di pintu walk in closet.


Cherry terkejut mendengarnya, ia tak mendengar langkah kaki mendekat.


"Katakan, siapa yang berani menyakitimu?"


Cherry tak mungkin menjawabnya, karena yang ia maksud adalah dirinya sendiri.


"Aku akan membantu Mia menyiapkan sarapan."


"Siapa yang mengizinkan?"


Cherry menghela nafas panjang tanpa berkata-kata.


"Lagi pula aku belum menghukummu." ucap David.


"Menghukumku? Kenapa?" Pikiran Cherry langsung tertuju pada Megan. Apakah David benar-benar mengira dirinyalah yang mendorong Megan?


"Semalam, entah sudah berapa kali kata 'kamu' terucap dari bibirmu."


Cherry mengerutkan alisnya, ia tak percaya David akan membahasnya. Semalam ia memang emosi, mana mungkin ia memanggil David dengan sebutan sayang.


"Silakan dihukum." kata Cherry pasrah, ia tahu David tak akan mengalah.


"Ayo, mandikan aku." Tanpa menunggu persetujuan dari Cherry, David melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Cherry mengekor di belakangnya.


"Buk!" Cherry menabrak punggung David yang berhenti tiba-tiba.


Cherry mendengus kesal.


David merentangkan kedua tangannya di dalam kamar mandi. Cherry bergegas mendekatinya dan melepaskan piamanya, masih dengan rasa kesal.


"Tersenyumlah." perintah David.


Cherry memaksakan senyumnya dengan kaku.


David tertawa, "jelek sekali." ucapnya.


"Cherryku ... apa kamu tak merindukanku?" Tiba-tiba saja David bertanya dengan lembut.


Cherry serba salah mendengar pertanyaan itu, ia masih berusaha melepaskan piama David.


"Aku merindukanmu." David memeluk Cherry.


Cherry hanya diam di dalam pelukan hangat David, dia takut untuk melepaskan rindunya, takut akan merasakan sakit yang lebih dalam.


"Jangan marah lagi. Maafkan aku." David memeluknya lebih erat.


"Sakit." Cherry mendorong tubuh David.


David menarik tubuh Cherry dan menciumnya lembut. Dinding pertahanan Cherry hancur seketika, dirinya tak bisa lagi membendung rasa rindu. Ia pun hanyut dalam buaian David.


Satu jam kemudian David telah berpakaian rapi, Cherry membantunya memasangkan dasi.


"Kenapa bibirmu terus saja mengerucut?" tanya David.


Cherry masih memasang wajah masam setelah apa baru saja mereka lalui di kamar mandi.

__ADS_1


"Tersenyumlah, atau kita akan melakukannya ronde kedua." goda David.


Seketika Cherry mengubah mimik wajahnya, ia memaksakan dirinya tersenyum. Sungguh, Cherry sedang merutuki dirinya yang semudah itu jatuh lagi dalam pelukan David.


"Selesai." ucap Cherry setelah menyelesaikan simpul dasi yang terakhir.


"Kemarilah." David menggandeng tangan Cherry, mengajaknya duduk di tepi ranjang.


David menatap Cherry yang tak banyak bicara, "saat itu Rachel adalah tulang punggung bagi keluarganya, kedua orang tuanya sudah tak sanggup untuk bekerja, sedangkan Megan juga masih sekolah." David menghela nafas panjang, "beberapa bulan setelah kami menikah, Rachel mengalami kecelakaan. Dia .."


Cherry melihat David yang begitu rapuh saat menceritakan tentang mendiang istrinya. Ia belum pernah bercerita tentang istri pertamanya. Digenggamnya tangan David yang masih menggantungkan kata-katanya.


"Dia meninggal. Itu semua karena aku." David menghentikan kalimatnya sejenak, mengingat kembali kejadian di masa lalu, "kita sedang ada rapat di luar kantor. Karena ada berkas yang tertinggal, Rachel mengemudi sendiri untuk kembali ke kantor. Lalu kecelakaan itu terjadi. Andai saja waktu itu aku tak mengizinkannya kembali ke kantor, dia ..." David menutup wajahnya, kalimatnya tergantung tak dapat ia selesaikan.


Cherry berdiri dari duduknya, lalu dengan lembut membenamkan kepala David di dadanya. Sepertinya ia menangis, Cherry baru saja melihat sisi lain dari David.


Setelah beberapa saat tenggelam dalam kesedihan, David mengangkat kepalanya. David memegang tangan Cherry, "akulah penyebab kecelakaan Rachel. Sejak saat itu aku bertanggung jawab menjaga keluarganya. Aku harap kamu bisa menerima Megan."


Menerima? Cherry tidak begitu mengerti dengan maksud David. Apakah Megan akan menjadi madunya?


Baru kali ini David berbicara begitu panjang. Biasanya ia hanya berbicara seperlunya.


"Sayang, kecelakaan itu tak dapat dihindarkan, itu bukan salah sayang. Saat ini pasti Rachel sudah tenang di sana." Cherry tak menyinggung tentang Megan, bagaimana pun ia tak rela andai Megan benar-benar sedang menipu David. Cherry akan melakukan penyelidikan hari ini.


"Tok-tok-tok." Pintu diketuk, "Tuan David, Dokter Alexander datang." ucap Mia di balik pintu.


"Antarkan dia ke ruang kerja." kata David tanpa berpindah posisi.


"Baik, Tuan." Jawab Mia.


"Dokter Alexander? Apa sayang sakit?" tanya Cherry.


"Tidak. Ada keperluan lain."


"Baiklah, temui dia. Aku harus berangkat ke kampus."


"Tidak menungguku?"


"Aku akan kesiangan, biar Johan yang mengantar." ucap Cherry membuat alasan. Sesungguhnya pagi ini ia berencana pergi ke tempat lain.


"Baiklah, pergilah." David mengecup kening Cherry, kemudian mereka berjalan bersama ke luar kamar.


***


"Megan Xia, apakah dia kerabat Rachel Xia?" tanya Alexander yang telah berada di ruang kerja David.


"Adik kandungnya." jawab David.


"Lalu kenapa kamu mengantarnya memeriksakan diri di dokter kandungan?"


"Perutnya sakit, sepertinya keguguran."


Alexander menyerahkan beberapa lembar surat keterangan dokter hasil pemeriksaan Megan dari rumah sakitnya kemarin, "dia tidak hamil. Tes urine menyatakan negatif, dinding rahimnya pun tak mengalami penebalan."


"Mana mungkin Megan berbohong." Meskipun David meminta salinan lengkap hasil pemeriksaan pada Alexander, bukan berarti ia tak mempercayai Megan.


"Tak ada pendarahan. Hasil pemeriksaan menyatakan dia tidak hamil, bukan keguguran." Alexander menegaskan isi lembar kertas yang tengah dipegang David.


David hanya diam.


"Apa kamu meragukan dokter di rumah sakitku? Kita lakukan pemeriksaan ulang. Akan kupecat mereka yang salah mendiagnosis."


David masih membaca hasil pemeriksaan itu, ia seperti tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2