Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 29 Mengaduk Pasta


__ADS_3

Tribun arena balap kuda telah dipenuhi para penonton. Riuh teriakan penonton memberi semangat kuda andalannya masing-masing.


"Kamu ingin ikut taruhan?" tanya David.


"Aku kurang paham mengenai kuda," jawab Cherry.


"Kalau kamu ingin, kamu bisa pilih nomor sesukamu."


"Sayang ikut bertaruh?"


"Ya."


"Aku akan membeli nomor yang sama."


"Tidak perlu, bila aku menang semua uangnya untukmu."


Cherry tersenyum gembira, "benarkah?"


"Ya. Sudah yakin tak ingin memilih nomor sendiri? Beberapa menit pacuan akan dimulai."


"Ya. Sayang menjagokan nomor berapa?"


"Nomor lima."


Balapan kuda akan segera dimulai. Semua kuda dan joki telah siap di belakang pintu start.


"Dor!" Peluru ditembakkan. Semua kuda berlari dengan kencang memutari arena balap. Kuda andalan David tertinggal di belakang, namun saat mendekati putaran terakhir kaki kuda berlari lebih kencang.


"Nomor lima memimpin." Cherry memekik girang.


"Goooooool!" teriak Cherry saat kuda nomor lima berhasil menginjakkan kakinya di garis finish sebagai sang juara.


"Hahaha ..." David tertawa melihat tingkah lucu Cherry, bagaimana bisa ia mengucapkan goal untuk pacuan kuda.


"Cherry, rupanya kamu menang taruhan." Sarah tiba-tiba saja menghampiri tempat duduk mereka.


"Ya." Cherry menjawabnya dengan riang.


"Berapa yang kamu beli?"


Cherry memandang David, karena ia tak tahu menahu masalah itu.


"Sedikit saja," jawab David.


"Sedikit banyak tak masalah, ini hanyalah ajang senang-senang," Cherry menambahkan.


"Baiklah, kita pulang," ajak David.


"Ah, Cherry! Maukah kamu makan siang bersamaku?" ajak Sarah.


"Maaf, mama menunggu di rumah. Kita tak bisa makan sendiri di luar," jawab Cherry.


"Baiklah, lain kali kamu tidak boleh menolak."


Cherry menjawabnya dengan senyuman.


Kemudian David dan Cherry beranjak meninggalkan tribun dan menuju mobil.


"Cherry, kamu ingin hadiahnya cash atau masuk rekening?" tanya David setelah berada di dalam mobil.


"Cash saja, aku tak bisa memakai kartu saat berbelanja di pasar."


David mengeluarkan ponselnya, ia membuat sebuah panggilan telepon, "Billy, aku mau cash. Kutunggu di mobil sekarang." Kemudian ia menutup teleponnya.


"Pasar?" David kembali berbicara pada Cherry, "apa yang kamu beli di sana?"


"Belum tahu. Aku berencana ke pasar bila senggang."


"Jangan ke pasar. Mama akan mengira aku pelit padamu," ucap David mencari alasan. Ia hanya tak ingin Cherry berdesakan di tempat ramai yang biasanya kotor dan bau.


"Sungguh?"


"Menurutlah."


"Baik, sayang."


"Aku suka kamu yang penurut."


"Aku tahu."


"Sampai di rumah kita mengaduk pasta."


Cherry mengerutkan alisnya, tanda tak mengerti. Butuh waktu beberapa detik bagi otak Cherry untuk memprosesnya, "sayaaaang."


"Hahaha ..."

__ADS_1


Terlihat di kejauhan Billy berjalan menghampiri mobil. David menurunkan kaca mobilnya.


"Tuan, ini yang Anda inginkan." Billy menyerahkan sebuah koper lewat jendela mobil.


"Terima kasih. Aku akan pulang."


"Baik, Tuan. Selamat jalan."


David menutup kembali kaca mobilnya, lalu ia memberikan koper tersebut pada Cherry.


"Berat sekali," ucap Cherry.


"Itu uangmu."


"Bolehkah aku membukanya?”


"Bukalah."


Cherry membuka koper dengan hati-hati. Matanya terbelalak melihat tumpukan uang yang penuh di dalam koper, "ini berapa? Banyak sekali."


"Lima ratus juta."


Cherry menutup mulutnya antara terkejut dan senang, "apa sayang memenangkan sebanyak ini?"


"Ya, semuanya untukmu."


"Aku bisa membeli sebuah apartemen kecil dengan uang ini," ucap Cherry gembira.


"Untuk apa?" tanya David heran.


Cherry terdiam, dia tak mungkin mengatakan bila apartemen itu untuk dirinya bila suatu saat David tiba-tiba mencampakkannya.


"Ada apa? Kamu ingin sebuah rumah? Apa rumahku kurang besar?" David memberondong Cherry dengan pertanyaan.


"Tidak, sayang, tidak."


"Lalu kenapa?" David terus saja bertanya.


"Aku ingin membelikan apartemen untuk ayahku," ujar Cherry bohong.


"Hmmm ..." David berpikir, "apa kamu ingin menemuinya?"


"Untuk saat ini, tidak."


"Baik."


Lalu mobil melaju ke kediaman keluarga Chuay. Nyonya besar Chuay telah menunggu kedatangan mereka.


"Kalian sudah makan siang?" tanya mama.


"Belum, Ma," jawab David.


"Makanlah, Mia telah memasak menu istimewa untuk hari ini."


David dan Cherry duduk di ruang makan. Mia memasak berbagai macam olahan daging.


"Apa ini, Ma?" tanya Cherry. Ia melihat segelas minuman di meja yang berwarna keruh.


"Itu gingseng untuk David. Ayo kalian makan yang banyak." Mama menemani Cherry makan, bukan-- lebih tepatnya memantau Cherry, apakah dia makan semua hidangan atau tidak.


"Mama, sudah cukup," ucap Cherry. Mama terus saja menambahkan irisan daging di mangkuknya.


"Ma, Cherry bisa gemuk bila makan sebanyak itu," ujar David.


Mama memicingkan matanya pada David, "baguslah kalau Cherry gemuk, dia akan segera memberi mama cucu. David, kamu harus habiskan minuman ginseng itu. Mama khusus membawanya dari Tibet."


"Tibet? Jauh sekali," gumam Cherry.


David menuruti perkataan mamanya, ia meneguk habis minuman gingseng itu.


"Baik, sekarang kalian masuk ke kamar," perintah mama, "panggil Mia bila membutuhkan sesuatu, makan malam akan diantar ke kamar. Kalian tidak boleh keluar sampai besok pagi."


Cherry terbengong mendengar perintah mama. David hanya tersenyum lalu menggandeng Cherry, "kamu dengar perintah mama? Ayo ke kamar."


Cherry beranjak dari duduknya, "mama kami ke atas."


"Ya, kalian harus mengaduk pasta dengan baik," ucap mama.


Telinga Cherry memerah, sepertinya wajahnya juga tapi tak begitu nampak karena ia menyembunyikannya di lengan David yang kokoh.


"Apa yang akan kita lakukan sepanjang hari di dalam sini?" tanya Cherry setelah berada di dalam kamarnya.


"Tentu saja mengaduk pasta."


Cherry tak bisa menghindar lagi dari David. Ia mendekati David yang telah berbaring di ranjang.

__ADS_1


"Aku mau kamu yang berinisiatif," ucap David


"Aku tidak bisa," jawab Cherry cepat.


"Aku akan mengajarimu, kemari naik di atasku."


Cherry dengan malu-malu melakukan perintah David.


"Cherry, kamu membuatku tak sabar." David membalikkan posisi dan mencium Cherry. Lalu keduanya mengaduk adonan pasta.


Menghabiskan waktu di kamar membuat David senang, ginseng pemberian mamanya benar-benar membuat vitalitas tubuhnya meningkat. Cherry pun diberikan kepuasan yang bertubi-tubi hingga dia kelelahan.


"Tok-tok-tok." Pintu diketuk, "makan malamnya, Tuan-Nyonya." Mia menunggu di depan pintu.


"Tinggalkan di sana, Mia. Aku akan mengambilnya," ucap David.


"Baik, Tuan."


Cherry menutupi tubuhnya dengan selimut. David memakai celana boxernya lalu membuka pintu kamarnya. Ia mendorong troli makanan yang ditinggalkan di depan pintu, isinya penuh dengan berbagai macam makanan.


"Sayang, kamu ingin mandi dulu atau makan?" tanya David.


"Aku lapar sekali."


"Baiklah, aku akan menyuapimu." David begitu memanjakan Cherry.


"Sayang kelihatan senang sekali."


"Hahaha ... aku tak akan keberatan bila kita mengunci diri di kamar lebih lama lagi," ucap David.


Cherry mengerucutkan bibirnya.


"Aaa ..." David menyuapkan makanan ke mulut Cherry, "makanlah yang banyak, kamu harus kuat."


Mulut Cherry penuh dengan makanan, ia tak bisa memprotes David.


"Sayang, boleh menyalakan televisi?" tanya Cherry setelah ia menghabiskan sepiring nasi beserta lauk pauknya.


"Ya."


Cherry mengambil remote control dan menyalakan benda pipih yang lebarnya sekitar dua meter, "baru kali ini aku menyalakan televisi ini," ucapnya.


"Sungguh?" tanya David sambil menjatuhkan dirinya di atas sofa.


"Ya." Cherry duduk di sebelah David.


David menatap Cherry dari atas ke bawah, lalu tersenyum.


Cherry baru menyadari kalau dirinya masih memakai selimut untuk menutup tubuhnya, "sebentar lagi aku akan mandi dan berganti pakaian."


"Tidak perlu, aku suka begini." David menarik selimut hingga ikatannya terbuka.


"Sayang." Cherry menahan selimut yang melorot dari dadanya.


"Nanti saja mandinya, kita baru saja makan. Mendekatlah," David mengangkat lengannya, meminta Cherry supaya bersandar di dadanya.


"Sayang," panggil Cherry.


"Hmm ..."


"Sayang mencintaiku?"


"Tentu," jawab David cepat.


"Tidak akan meninggalkanku?"


David mengubah posisi duduknya, ditatapnya Cherry, "apa kamu masih meragukanku?"


Cherry tak menjawab.


"Kita akan umumkan pernikahan kita," lanjut David.


"Bukan begitu maksudku."


"Lalu?"


"Berjanjilah sayang tak akan meninggalkanku."


"Tidak akan pernah, aku berjanji." David memberikan Cherry pelukan hangat.


Cherry merasa trauma pada orang-orang yang disayanginya, pada akhirnya mereka pergi meninggalkannya dengan kekecewaan.


"Ayo kita mandi. Pekerjaan mengaduk pasta belum selesai."


"Sayaaaaaaang."

__ADS_1


__ADS_2