
David Chuay berdiri di atas podium. Setelan jas hitam dengan sebuah dasi bergaris yang Cherry pilihkan tadi pagi nampak elegan dipakainya. David mulai memberi salam dengan senyum yang menawan, membuat gadis-gadis berteriak histeris.
Ia berbicara di atas podium selama lima belas menit, kemudian memberikan kesempatan tanya jawab. Dalam lima menit telah banyak pertanyaan yang dikumpulkan secara tertulis di lembar kertas. Moderator membacakan dan David menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan jawaban yang memuaskan.
Cherry begitu terpesona dengan kecerdasan yang ditunjukkan David, dengan lancarnya ia menjawab semua pertanyaan yang para mahasiswa ajukan. Ia merasa hanya mengetahui sebagian kecil saja dari kehidupan suaminya.
Moderator mulai berbicara, "Sudah hampir satu jam Tuan David Chuay membagi ilmunya untuk kita semua yang berada di sini. Baiklah, ini adalah pertanyaan terakhir, saya harap Anda tidak keberatan menjawabnya karena ini juga mewakili pertanyaan saya."
"Tentu saja." David menjawab ramah.
Moderator tersenyum malu-malu, "do you have girlfriend?" Entah kenapa moderator menanyakannya dalam bahasa inggris, mungkin dia malu.
"Kyaaaa ..." Suasana aula menjadi riuh, para gadis menjerit kecil, begitu juga Sandra.
"Pertanyaan apa itu, dasar kecentilan." gumam Cherry.
Moderator memberi tanda supaya para gadis diam, lalu David mulai berkata, "girlfriend? Tidak punya."
"Kyaaaa ..." Para gadis menjadi kembali histeris, seakan siapa pun sedang berkesempatan untuk menjadi kekasihnya.
"Ehem ..." David berdehem, seperti tersihir para gadis mulai tenang, "tapi saya memiliki seorang istri. Dia ada di antara kalian."
Sontak para gadis menengok kanan-kiri mencoba mencari istri David.
"Maksud Anda, istri Anda sekarang berada di sini? Apakah dia mahasiswi di sini atau memang Anda mengajaknya ke mari?" Moderator mulai mencari tahu.
David tersenyum, pandangannya dengan Cherry sedang bertemu, "Dia mahasiswi di sini."
Mata Cherry mengisyaratkan dan memohon pada David supaya ia tak mengumumkan hubungan mereka sekarang. Ia merasa malu untuk dilihat begitu banyak orang di aula.
Sementara para gadis begitu penasaran dan mencoba menebak-nebak siapa istri David yang begitu mereka kagumi.
Moderator mulai berbicara lagi, mencoba mengendalikan situasi, "bisakah Anda mengatakan siapa wanita yang sangat beruntung itu?"
"Sayangnya, dia tak mengizinkanku mengatakannya di sini." jawab David, "tapi aku sering mengantar dan menjemputnya ke kampus ini, suatu saat kalian pasti tahu."
Cherry bernafas lega karena David tak mengumumkannya di sini, ia hanya tak terbiasa menjadi pusat perhatian. Meskipun lambat laun akhirnya semua akan mengetahuinya.
Kemudian moderator menutup acara dan membuat semua pengagumnya kecewa. Kekecewaan yang berlipat.
"Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya." kata Sandra.
"Ya, tentu saja." ucap Cherry penuh arti.
"Kamu tahu? Aku putus." Sandra tiba-tiba menceritakannya.
"Kamu dan Alex? Kenapa?"
"Pagi ini dia dipanggil ke ruang rektor, dia dikeluarkan dari kampus. Untunglah aku sudah putus dengannya kemarin. Malas sekali berurusan dengan pecundang."
"Kenapa dia dikeluarkan dari kampus?"
"Entahlah, aku tak tahu."
Cherry terdiam, dia merasa lega karena terhindar dari Alex. Ia pun berpikir harusnya mereka berpisah sejak lama, Alex bukan laki-laki yang baik. Tapi hati kecilnya merasa kasihan dengan nasib Alex yang dikeluarkan dari kampus.
“Kling.” Sebuah pesan masuk ke ponsel Cherry.
__ADS_1
[Cherryku datanglah ke ruang rektor.]
[Ada apa?] Cherry membalasnya dengan cepat.
[Kutunggu.]
"Aku harus pergi." Cherry berpamitan pada Sandra.
"Ke mana?"
"Ke ruang admin." Cherry berbohong.
Cherry berjalan menuju ruang rektor, ia tak berani mengira-ngira apa yang akan terjadi di sana karena David selalu di luar dugaannya.
"Tok-tok-tok." Cherry mengetuk pintu rektor.
"Masuklah."
Cherry membuka pintu dan memasuki ruangan, di sana sudah terlihat David dan Kepala Rektor sedang berbincang di sofa.
"Hallo, Nyonya Chuay." sambut Kepala Rektor.
Cherry tersenyum.
"Kemarilah." ucap David.
Cherry duduk di samping David, ia memandang David penuh tanya.
"Jadi, yang kemarin sempat ramai hanyalah gosip. Bagaimana bisa mereka membicarakan hal-hal buruk. Saya akan mengusutnya sampai tuntas." ucap Kepala Rektor.
"Terima kasih Kepala Rektor. Istriku sangat senang belajar di sini. Dia menolak untuk kuliah di luar negeri."
"Baiklah, saya harus pergi."
"Terima kasih telah bersedia hadir."
David tergolong sangat sulit untuk menjadi seorang pembicara, pasalnya dia tak cukup punya banyak waktu. Maka dari itu, Kepala Rektor merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan emas itu. Selain itu, David juga bersedia memberikan sejumlah bantuan untuk pengembangan kampus.
David menggenggam tangan Cherry dan keluar bersama.
"Sayang, nanti ada yang lihat." Cherry berbisik.
"Kenapa? Takut?"
"Iya, gadis-gadis itu sungguh menakutkan. Tadi mereka berteriak histeris."
David menghentikan langkahnya dan menatap mata Cherry, "jaga dirimu baik-baik. Aku tak mau kamu terluka."
"Iya sayang, terima kasih. Terima kasih untuk semuanya."
Cherry melirik ke kiri dan kanan, Billy terlihat berdiri beberapa meter berjaga di depan. Merasa aman tak ada yang melihat, dengan cepat Cherry mengecup bibir David.
Merasa mendapatkan angin segar, dengan gerakan lebih cepat dari Cherry, ia menahan kepala Cherry dan mencium bibirnya. Merasa tak bisa menghindar, Cherry pasrah menerimanya.
"Kita lanjutkan nanti di rumah." goda David.
Cherry tersipu malu.
"Aku harus kembali ke kantor."
__ADS_1
"Baiklah, sayang."
David melangkah makin menjauh. Cherry mengamati keadaan sekitar, tak ada orang yang nampak. Dia bernafas lega dan melenggang pergi.
Gosip tentang istri dari CEO Eagle Grup yang ada di kampus menyebar dengan cepat. Hal itu membuat gosip sebelumnya telah dilupakan, gosip Cherry sebagai wanita simpanan. Mereka tak tahu bila yang sedang dibicarakan adalah wanita yang sama.
Meskipun gosip buruk tentang Cherry tak lagi dibicarakan, namun sikap teman-teman Cherry tak menjadi lebih baik. Mereka menjauhi Cherry. Saat ini hanya Sandra temannya satu-satunya.
***
Kemudian mata kuliah selanjutnya dilanjutkan dengan normal di kelas masing-masing.
Saat waktunya untuk pulang, Sandra berjalan tertatih-tatih menghampiri Cherry.
"Ada dengan kakimu?" tanya Cherry.
"Aku terjatuh, sakit sekali."
"Apa perlu ke rumah sakit?"
"Tidak, aku tak memiliki uang untuk berobat." ucap Sandra memelas, "lagi pula ini hanya luka kecil. Sebentar saja pasti sembuh."
"Semoga segera sembuh. Ada apa denganmu? Kamu sudah beberapa kali terjatuh. Apa kamu baik-baik saja?" Cherry ingat ini kali keduanya Sandra terjatuh dalam beberapa hari.
"Aku tak melihat jalan dengan baik," Sandra mencari alasan, "Cherry, bolehkah aku minta tolong?"
"Tentu saja Sandra, aku akan membantumu."
"Bisakah kamu mengantarku pulang? Sepertinya aku tak sanggup berjalan. Aku hanya butuh istirahat."
"Maaf Sandra, aku sedang buru-buru." ucap Cherry menolaknya dengan halus, ia tak bisa membiarkan Sandra bertemu Johan saat ia menjemputnya nanti. Ia takut akan terlalu banyak pertanyaan yang muncul dari Sandra.
"Tapi aku akan memesankan taxi untukmu. Sebentar." Cherry memesan sebuah taxi online dengan cepat.
"Tidak-tidak. Aku tak ada uang." tolak Sandra.
"Aku yang akan membayarnya. Mari kita jalan pelan-pelan ke pintu gerbang. Aku akan membantumu."
Sandra terus berjalan tertatih, dibantu Cherry di sisinya hingga mencapai gerbang kampus. Rupanya mobil jemputan Cherry sudah menunggu, dengan cepat ia mengambil ponselnya di saku dan mengirim pesan pada Johan untuk tetap menunggunya di dalam mobil.
"Sepertinya itu mobil yang menjemputmu." ucap Sandra.
"Ah, iya." Cherry tak mengira Sandra mengetahui mobil itu, "apa kamu pernah melihatku naik mobil?"
"Eh itu, ya kapan hari aku berjalan di belakangmu. Aku memanggilmu tapi kamu tak mendengar." ucap Sandra mengarang cerita, "apa kekasihmu tak melihatmu sekarang? Kenapa dia tak turun?" Sandra mengalihkan pembicaraan.
"Ya, mungkin dia tak melihatku."
"Ayo Cherry, suruh dia turun dan kenalkan padaku."
"Mungkin lain kali, Sandra. Lihat taxinya sudah tiba. Hati-hati melangkah." Cherry memapah Sandra dengan hati-hati menuju taxi yang berhenti tepat di depan mereka.
Setelah Sandra duduk di jok belakang mobil, Cherry membayar taxi dengan uang cash.
"Hati-hati di jalan, Sandra. Bye ..."
"Terima kasih, Cherry. Bye ..."
Taxi melaju. Senyum Sandra hilang, wajahnya terlihat kesal. Sia-sia ia berakting kakinya terluka, Cherry menolak mengantarnya menggunakan mobil yang menjemputnya.
__ADS_1
"Cherry, awas saja ya. Kenapa kamu begitu pelit untuk mengenalkanku dengan Billy?! Lihat saja, aku akan segera merebutnya darimu." Sepanjang jalan Sandra terus menggerutu, sopir taxi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah penumpangnya dari spion mobil.