
David menepis berkas-berkas di mejanya, kemudian menenggak habis minuman yang tersisa di gelas. Hari sudah malam, tapi ia asih berada di ruang kerjanya. Matanya merah karena kurang tidur.
Tiba-tiba saja Megan masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu, "Kak, ini sudah malam. Tidurlah." ucapnya penuh perhatian.
"Mari kubantu." Megan meraih pinggang David dan mencoba membimbingnya untuk berdiri. Tentu saja itu tak berarti apa-apa, tubuh Megan yang kecil tak mungkin mampu menopang tubuh David. Itu hanya tipu dayanya untuk terus menempel pada David.
"Aku bisa sendiri." ucap David sambil berdiri. Tapi Megan masih saja bergelayut di lengan David, mengikutinya menuju kamar.
"Aku akan menjaga Kak David sampai Kak Cherry kembali." ucap Megan lemah lembut, "aku tak akan membiarkanmu sendiri."
"Aku akan tidur. Kembalilah ke kamarmu." David duduk di tepi ranjang. Mulai hari ini Megan kembali tidur di rumah David, ia terus memaksa dengan alasan takut sendirian.
"Kak, biarkan aku menemanimu di sini." Megan mendekatkan tubuhnya ke dada David, dengan menggunakan trik terpeleset, ia menjatuhkan tubuhnya ke David.
David menangkap Megan dan membuat tak ada jarak lagi di antara mereka. Di saat itulah pintu kamar dibuka, Cherry begitu terkejut melihat kejadian itu.
"Kalian--" Cherry menutup mulutnya.
David melihat Cherry yang berdiri di ambang pintu. Dia beranjak dari duduknya kemudian menyambut Cherry, "dari mana saja kamu?" David hendak memeluknya.
Cherry mendorong tubuh David, menghindari pelukannya, "ternyata keputusanku untuk pergi memang benar. Aku tak akan mengganggu kalian. Aku hanya perlu mengambil sesuatu."
"Kak Cherry dari mana? Bagaimana bisa kakak pergi begitu saja? Kak David adalah suamimu, kamu tidak bisa berbuat seenaknya." ucap Megan.
Cherry tak menghiraukan ucapan Megan yang menyudutkannya, ia tahu dalam hatinya Megan tengah bersorak. Ia memandang pakaian tipis yang dikenakan Megan, begitu menggoda mata laki-laki.
"Cherry, katakan dari mana saja kamu?" Merasa diabaikan, David menjadi emosi.
"Tak penting. Aku hanya memberi jalan pada hubungan kalian berdua." Cherry berkata sambil berjalan menuju meja riasnya. Ia mengambil beberapa lembar kertas untuk keperluan kuliahnya. Ia menatap kotak yang berada di laci, itu adalah sepasang cincin yang telah ia beli. Dibiarkannya cincin itu dan ditutupnya kembali laci dengan kasar.
"Aku tak mengambil uangmu, aku hanya perlu ini." Cherry menunjukkan kertas di tangannya dan bermaksud pergi.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi?" ucap David dingin.
"Aku akan pergi sebelum kamu mencampakkanku."
"Aku akan mencampakkanmu bila ingin. Sekarang kamu harus tinggal di sini." David tak akan mau dipojokkan.
Megan tidak senang bila melihat Cherry tetap di sini, "Kak David, mungkin dia telah berselingkuh." Megan berusaha membuat David makin marah dengan harapan David akan mengusirnya.
"Selingkuh? Aku akan menghancurkan laki-laki itu."
"Apa tidak salah? Siapa yang selingkuh?" protes Cherry, "terserah saja, aku mau pergi." Cherry melangkahkan kakinya ke arah pintu.
David dengan cepat meraih tangan Cherry, "aku tak suka berkata dua kali. Tetap tinggal di sini."
Cherry menatap mata dingin David, mereka sama-sama terbakar emosi.
"Kakak, bi--" Megan belum menyelesaikan perkataannya, David justru memintanya untuk pergi.
"Megan, pergilah."
"Tapi--" Megan luar kamar dengan kesal.
__ADS_1
"Sakit." Cherry mencoba melepaskan genggaman tangan David yang begitu kuat.
"Katakan, dari mana saja kamu?" David menatapnya tajam.
Cherry merasa tak nyaman dengan tatapan David yang seakan menusuknya, ia memalingkan wajahnya, "aku ke rumah mama."
"Mama? Mamaku?" David tak percaya.
"Aku harus pergi."
"Kamu tetap di sini." David keluar kamarnya menuju ruang kerjanya untuk mengambil ponselnya. Kemudian ia segera kembali ke kamarnya.
Cherry dan David membuka pintu dalam waktu yang bersamaan, "masuk!" perintah David.
Cherry kembali masuk, ia tak menyangka David akan kembali ke kamar secepat itu.
David menutup pintu, kemudian melakukan sebuah panggilan telepon menggunakan ponselnya.
"Mama, kenapa Cherry bisa berada di sana?"
"Dasar anak nakal! Bila kamu tak menginginkannya lagi, biarkan dia kembali ke sini."
"Dia tidak akan ke mana-mana." David menutup ponselnya dengan kesal.
Cherry yang mencoba mendengarkan percakapan mereka begitu gugup melihat tatapan David yang sedingin es.
David mendekati Cherry, "Beraninya kamu pergi."
"Apa maksudmu?"
"Aku hanyalah alat penebus hutang ayahku. Bila kamu telah bosan, kapan pun kamu bisa mencampakkanku." Cherry tak kuasa menahan air matanya.
David mendekati Cherry, dipeluknya gadis yang terlihat rapuh itu, "siapa yang mengatakan itu padamu? Kamu akan terus berada di sampingku. Maafkan aku."
Cherry menangis lebih kencang, ia begitu mudah luluh dengan kata-kata David hingga membuatnya lupa akan rasa sakitnya beberapa hari ini.
"Cherryku ... jangan pernah pergi lagi, aku tak bisa hidup tanpamu."
"Benarkah?"
"Apa aku pernah berbohong?"
"Lalu Megan?" Cherry menatap mata David untuk menyelami kejujuran di dalamnya.
David menghela nafas panjang, "Megan hanyalah adik bagiku."
"Tapi dia terus menempel padamu seperti prangko."
"Hahaha ... kamu benar-benar pencemburu." David mengusap pipi Cherry yang basah, "berjanjilah, kamu tak akan pergi lagi."
Cherry memalingkan wajahnya.
"Aku akan menyuruh Megan pergi." David kembali memeluk Cherry.
__ADS_1
Hari sudah semakin larut. Cherry tidur dalam pelukan David. Tak ada yang tahu apa yang telah menantinya esok pagi.
***
Megan begitu gelisah di lantai bawah. Ia terus saja mengamati pintu kamar David yang tak kunjung terbuka. Ia berharap Cherry keluar dari kamar itu dan meninggalkan rumah ini selamanya.
"Bagaimana nasibku selanjutnya bila aku tak mendapatkannya. Selama ini David lah yang membiayai hidup dan kuliahku, meski aku tak pernah menggunakan uang itu untuk kuliah. Bagaimana pun juga, akulah yang berhak menjadi nyonya di rumah ini."
***
David dan Cherry berjalan bersama menuruni tangga. Nampaknya Megan telah menunggu di ruang makan.
"Kak Cherry, mari kita sarapan bersama." sambut Megan dengan ceria.
"Selamat pagi, Nyonya. Saya senang sekali melihat Anda." ucap Mia.
"Hallo, Mia." Cherry duduk di kursinya tepat di seberang Megan.
"Kak, Cherry maukah kamu menemaniku periksa ke rumah sakit? Aku merasakan mual-mual pagi ini." ucap Megan.
"Apa kamu sakit?" tanya David.
"Mungkin masuk angin, Kak." Tiba-tiba Megan berdiri dan menutup mulutnya yang sepertinya ingin muntah, kemudian ia berlari menuju kamar mandi.
"Aku harus ke kampus." Cherry menolak mengantar Megan ke rumah sakit.
"Tidak apa-apa, aku yang mengantarnya."
Alis Cherry berkerut, ia tak mau Megan menempel pada David, "biar aku yang mengantar, aku tidak ada jam kuliah pagi ini."
Cherry dan David telah menghabiskan sarapannya, tapi Megan tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Aku akan melihat Megan dulu." David beranjak dari kursinya, ia menuju kamar Megan.
Pintu kamar Megan tidak tertutup, David masuk dan mendapati Megan tengah menangis, "Megan, ada apa?"
"Kakak, huhuhu ..." Megan menangis tersedu.
"Katakan."
Megan memeluk David, "Kak, bagaimana ini?" Tangisnya makin keras.
David melepaskan pelukannya dan menunggu Megan untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Kak David mabuk malam itu dan ... dan ... melakukannya padaku." Disela-sela kalimatnya Megan masih terisak, "aku baru saja melakukan tes, hasilnya positif." Megan menunjukkan tes hasil kehamilan di meja yang menunjukkan dua garis biru.
David mendekati meja dan melihat benda itu. Tapi dia tidak pernah merasa menyentuh Megan, bahkan miliknya tak bereaksi sama sekali padanya.
David memutar badannya untuk berbicara pada Megan. Tapi belum sampai ia mengatakan sesuatu, dilihatnya Cherry telah berdiri di ambang pintu. Raut wajahnya mengatakan bahwa Cherry telah mendengar semuanya.
"Cherry --"
Cherry berlari meninggalkan David dan Megan. Dadanya begitu sakit, berkali-kali merasakan dicampakkan. Tapi ini terlalu sakit.
__ADS_1