
Seperti biasa, Cherry duduk di kursi belakang dan Johan mengemudi di depan.
"Johan, antarkan aku ke rumah sakit milik Alexander." ucap Cherry.
"Apakah Nyonya sedang sakit?" Johan nampak khawatir.
"Tidak, ada yang harus kulakukan."
"Apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu, Nyonya?"
Selain Mia, Johan adalah pegawai David yang akrab dengan Cherry, tentu saja karena Johan yang paling sering bertemu dengan Cherry karena dia yang mengantar jemput ke mana pun Cherry pergi.
Johan melihat wajah gundah Cherry lewat kaca spion, ia tahu sesuatu telah terjadi karena tiba-tiba saja Cherry menghilang selama seminggu lebih dan sukses membuat tuannya putus asa sebab tak bisa menemukannya, "Nyonya bisa memberi perintah pada saya. Nyonya tak perlu melakukannya sendiri."
Cherry nampak berpikir, "kamu adalah pegawai David, mana bisa aku mempercayaimu."
Johan berkata dengan hati-hati, "maafkan kelancangan saya, Nyonya. Saya yang mengantar Tuan dan Nona Megan ke rumah sakit semalam. Apa ada hubungannya dengan hal ini?"
"Ya."
Kemudian Johan menepikan mobil dan berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Cherry.
"Maafkan saya yang lancang, Nyonya. Dokter Alexander datang pagi ini, sepertinya ada hal penting yang perlu dibicarakan dengan Tuan David. Apa tidak sebaiknya Nyonya menunda untuk ke rumah sakit? Nyonya bisa ke sana bila dalam beberapa hari ini Nyonya tidak mendapatkan sesuatu yang baik."
Cherry mencoba mencerna perkataan Johan, ucapannya terlihat begitu hati-hati. Cherry tahu Johan orang yang bisa dipercaya dan dia bukan sekedar sopir bagi David.
"Baiklah, kita ke kampus saja." Akhirnya Cherry memutuskan mendengarkan perkataan Johan. Dia mengira-ngira kenapa Alexander datang pagi ini.
"Baik, Nyonya." Johan melajukan mobil ke arah kampus.
***
Alexander telah meninggalkan rumah keluarga Chuay. David pun bersiap untuk ke kantor pagi ini. Saat melintas di lantai bawah, David melihat Megan yang tengah duduk di ruang makan. David tak berniat untuk menyantap sarapan pagi ini, nafsu makannya sudah hilang. Tetapi ia melangkah menuju ruang makan.
"Kak David." Megan memanggilnya dengan gembira, wajahnya masih terlihat pucat.
"Megan, kemasi barangmu. Pulanglah ke rumah orang tuamu."
Ucapan David bagai petir di siang bolong, membuat Megan sangat terkejut.
__ADS_1
"Tapi --"
David tak membiarkan Megan berdebat dengannya, "aku harus berangkat ke kantor." Kemudian David melangkah ke arah pintu.
"Kak!" Megan berlari mengejarnya, lalu dia terjatuh, "ah!" Megan memekik dengan kencang.
David menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang, "Mia, tolong Megan dan bantu dia mengemasi barangnya." Lalu David berlalu pergi.
Mia membungkuk dan mencoba membantu Megan.
"Pergi kamu!" usir Megan.
Mia hanya mengelus dadanya dan meninggalkan Megan sendiri.
Megan tak mengerti dengan apa yang terjadi, mengapa sikap David berubah dingin padanya. Harusnya David memperlakukannya dengan lembut, apalagi setelah tragedi keguguran itu.
Beberapa kali Megan mencoba menelepon ponsel David, tapi selalu ditolak. Megan benar-benar tak diberi kesempatan untuk berbicara. Pesan yang ia kirim tak satu pun yang dibalas oleh David.
Megan tak mau mengemasi pakaiannya. Ia menunggu David kembali dari kantor untuk berbicara dengannya. Dengan berbagai pertimbangan ia memilih menunggu David di rumah daripada harus menemuinya di kantor. Ia yakin bisa meluluhkan hati David seperti yang telah ia lakukan sebelumnya.
Bagi Megan hari ini waktu berjalan begitu lambat.
"Kak David." sambut Megan saat David telah kembali dari kantor.
"Kakak, apa salahku? Kenapa kakak begitu jahat." Megan menangis tersedu, "kakakku telah meninggalkan dunia ini untuk selamanya, lalu huhuhu ..." Tangis Megan makin kencang.
"Megan, pulanglah ke rumah orang tuamu. Hiduplah dengan baik."
"Bagaimana bisa kakak berkata begitu setelah apa yang kak David lakukan padaku." Megan berusaha memojokkan David.
"Aku sudah tahu semua, berhentilah Megan." David mengatakannya dengan nada yang datar.
Megan begitu terkejut mendengar perkataan David, "apa yang ia ketahui?" batin Megan.
David melangkahkan kaki masuk ke rumah, saat ini mereka masih berada di ambang pintu.
"Apa maksud Kakak?" Megan mengikuti David masuk.
David duduk di sofa di ruang santai, "duduklah."
Megan duduk di sebelah David.
__ADS_1
"Bagaimana kuliahmu?" tanya David tiba-tiba. Sebenarnya David tak pernah memantau apa yang dikerjakan Megan selama ini, ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Yang David tahu bahwa ia telah mengirimkan uang yang cukup setiap bulannya untuk Megan dan kedua orang tuanya.
"Ya, aku sudah lulus, Kak." ucap Megan.
"Billy telah memeriksa, kamu sudah dikeluarkan dari kampus."
Megan tak mengira David melakukannya. Karena selama ini yang ia tahu, David adalah seorang yang selalu mempercayainya. Megan berpikir bahwa David adalah laki-laki bodoh yang begitu penurut karena memang ia tak pernah mempertanyakan apa yang dilakukan Megan dan semua uang yang dikirimkannya.
"Kakak mengawasiku selama ini?"
"Tidak pernah."
"Lalu, bagaimana kak--" Megan tak melanjutkannya, karena itu akan membuatnya semakin terpojok.
"Itu tidak seperti yang kakak bayangkan, aku bekerja paruh waktu sehingga tidak bisa fokus pada kuliahku." Megan masih berusaha membela diri, "orang tuaku tak bisa lagi untuk bekerja. Aku tak bisa selamanya menggantungkan diri pada Kakak." Megan terisak, "lihat saja sekarang, Kakak ingin mengusirku."
"Hentikan, Megan. Aku tak mau menyakitimu."
"Menyakitiku?" Megan tak percaya David mengucapkan kata itu, "Kak Rachel akan kecewa padamu. Kak David yang menyebabkan kematian kakakku." Megan merasa terpojok, jalan terakhir untuk meluluhkan hati David adalah mengungkit kematian Rachel.
"Kamu keterlaluan, Megan!" Cherry yang sedari tadi berdiri di balik pintu telah mendengar semuanya, "itu semua adalah kecelakaan, bisa-bisanya kamu berkata seperti itu."
"Jangan ikut campur!" ucap Megan marah, "kamu bukanlah siapa-siapa!"
"Aku adalah istri David. Dan kamu adalah perusak rumah tangga kami." Hingga keadaan sudah seperti ini pun, David tak pernah mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakiti Megan, maka Cherry dengan senang hati mewakilinya mengeluarkan segala kalimat pedas untuk Megan.
"Apa katamu?! Kamulah wanita murahan!" pekik Megan.
"Megan!" David tak bisa menerima Megan menghina Cherry, "aku sudah tahu bahwa kamu tak pernah hamil." David mengeluarkan laporan yang diberikan Alexander pagi tadi dari dalam tas kerjanya, kemudian dilemparkannya begitu saja di meja.
Megan melihat kertas laporan medis itu, ia tak bisa membela dirinya lagi, semua kebohongannya telah terbongkar, "Kakakku tak akan memaafkanmu karena telah menyakitiku, kalian menjebakku." Megan berlari menuju kamarnya. Ia berharap David segera menyusul untuk menghiburnya seperti yang sudah-sudah, tapi tidak kali ini, David tak menampakkan diri di hadapannya.
Beberapa saat kemudian Mia datang ke kamar Megan, "Tuan David meminta saya untuk mengemasi barang-barang Anda. Tuan menunggu di depan."
"Keluar! Aku bisa sendiri." teriak Megan penuh amarah. Megan masih tak habis pikir, bagaimana bisa David yang dia pikir bodoh dan begitu memanjakannya, kini bisa mengusirnya.
Megan mengemasi semua barangnya, meskipun semua yang ia beli merupakan uang pemberian David. Ia mendorong kopernya yang besar menuju ruang utama. Cherry dan David masih duduk di sana.
"Megan, setelah semua ini, kita tak ada hubungan lagi." ucap David.
"Kak David, teganya kakak." Megan harus memperjuangkan uang bulanannya, bagaimana ia bisa hidup ke depannya.
__ADS_1
"Pergilah, aku tak ingin petugas keamanan menarikmu keluar."
Megan terpaku di tempatnya, ia benar-benar baru mengetahui sosok David yang bisa begitu dingin dan kejam. Ia menyeret kopernya ke luar, sudah pupus harapannya untuk mempertahankan David. Megan menyesali perbuatannya yang ceroboh, ia salah menilai David selama ini.