Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 27 Menuruti Keinginanmu


__ADS_3

"Cherryku harum sekali," ucap David sambil membenamkan wajahnya di leher Cherry.


Saat ini Cherry berada di kantor David. Penjaga pintu masuk telah mengenalinya, ia diantarkan menaiki lift khusus direktur. Jadi Cherry dapat masuk ke ruangan David tanpa hambatan seperti sebelumnya.


"Sayang." Cherry menahan tangan David yang mulai bergerilya.


"Aku ingin memeriksa apakah perawatannya dilakukan dengan benar atau tidak."


"Sayang, ini di kantor. Kita lakukan di rumah saja." Cherry mencoba membujuk ulah David.


David menghentikan gerakannya, "baiklah, kita pulang sekarang."


"Sekarang? Ini masih siang."


"Apa kamu ingin suamimu ini terus bekerja lembur meskipun weekend?"


"Baiklah, mari kita pulang. Aku juga sudah lapar."


"Kita makan di luar. Apa yang kamu inginkan?"


"Ini pertama kalinya sayang mengajakku makan di luar."


"Benarkah?" David tak menyadarinya, "kalau begitu, kamu yang memilih tempatnya."


"Sungguh?"


"Ya."


"Sayang tidak boleh ingkar janji. Ayo!" Cherry nampak bersemangat, ia menggandeng tangan David sampai masuk di dalam mobil.


***


"Kita makan di sini?" tanya David tak percaya.


Saat ini mereka sedang berdiri di depan sebuah kedai mi. Kedai itu nampak sedikit kotor dan berisik oleh ramainya pengunjung.


"Bila kamu menginginkan mi, Mia bisa membuatkannya." David mengamati isi kedai yang nampak dari luar.


"Sayang telah berjanji."


David menghela nafas panjang, "baik-baik."


David melangkahkan kakinya dengan terpaksa, Cherry menatapnya dengan perasaan puas karena sukses membuat David menurutinya.


"Selamat datang," teriak kasir yang berada di ujung kedai.


Cherry duduk di kursi kosong yang terdekat dengan pintu masuk. David hanya berdiri menatap meja dan kursi yang akan ditempatinya.


"Duduklah," pinta Cherry.


David melirik Cherry lalu kembali menatap kursi, kursi itu terlihat kotor di mata David. Cherry mengambil tisu di tasnya, lalu mengelap kursi yang akan diduduki David.


"Sudah," ucap Cherry sambil tersenyum. Ia paham bahwa David memiliki standar yang tinggi untuk kebersihan.


David masih ragu, tapi pada akhirnya dia mulai duduk karena pelayan kedai telah menghampirinya.


"Sayang mau makan apa?" tanya Cherry pada David yang duduk dengan kaku.

__ADS_1


"Sama."


Pelayan kedai menatap David dengan takjub dari atas ke bawah. Seorang lelaki berdasi yang gagah tengah duduk di hadapannya, sepatu kerjanya begitu hitam dan mengilat, menunjukkan ia tak pernah melangkah di tempat berdebu. "Orang kaya yang tampan," batinnya.


"Baiklah. Dua porsi mi pedas istimewa dan dua gelas teh dingin," pesan Cherry.


Pelayan kedai itu menulisnya dan berlalu pergi.


David masih duduk dengan kaku. Punggungnya tegak tak mau bersender pada sandaran kursi. Tangannya terlipat di dadanya.


Cherry tersenyum geli melihat kelakuan David, kemudian dilapnya meja dengan tisu basah hingga tak ada minyak yang tertinggal, "sudah bersih."


"Apa tidak ada tempat lain?" gerutu David.


"Sayang, di sini adalah mi terenak yang pernah kumakan selama hidupku. Sayang harus mencobanya."


Pelayan kedai datang membawakan dua mangkuk besar mi dengan asap masih mengebul di atasnya.


"Terima kasih," ucap Cherry.


"Sama-sama, tampan." Pelayan kedai mengerling pada David dan membuatnya bergidik ngeri.


"Baunya enak dan ini panas sekali," Cherry meniup mi yang telah dijepit dengan sumpitnya, "sluuuurp," satu suapan memanjakan lidahnya.



"Sayang, ayo makan. Ini enak sekali," ucap Cherry dengan mulut penuh mi.


David hanya memandanginya lalu beralih ke mangkuknya. Ia sedang menanyakan pada dirinya apakah mangkuk yang digunakan telah benar-benar bersih saat dicuci.


"Ini pedas sekali," ucap David sambil mengunyah.


Cherry mengulurkan segelas teh dingin, lalu David buru-buru meminumnya.


"Enak?" tanya Cherry.


"Tak buruk," jawab David sambil menyantap semangkuk mi di hadapannya. Keraguan tentang kebersihan terhapus sudah oleh nikmatnya mi pedas yang tengah disantapnya.


"Aku tak boleh sering-sering kemari, kalau tidak aku bisa berubah menjadi gendut," ucap Cherry setelah mangkuknya bersih tanpa sisa.


"Tenang saja, kamu akan berolah raga setelah kita sampai di rumah."


Cherry tak dapat langsung memahami perkataan David, baru beberapa detik kemudian mukanya memerah karena malu, "tak ingin jalan-jalan dulu?" Cherry mencoba mengulur waktu supaya tak segera sampai ke rumah.


"Ke mana kamu ingin pergi?"


"Aku ingin ke taman hiburan."


"Cherry, kamu bukan anak kecil lagi."


"Aku belum pernah ke sana." Semasa kecilnya, Cherry tak pernah merasakan bermain seperti anak-anak pada umumnya. Ia hanya mengKhabiskan waktunya di rumah.


"Baiklah."


David mengeluarkan dompetnya, "kamu yang bayar, kutunggu di mobil." David memandang kasir yang sedari tadi memperhatikannya kemudian ia beranjak keluar kedai.


Cherry hanya cekikikan melihat tingkah David, lalu ia segera membayar ke kasir dan menjumpai David di dalam mobil.

__ADS_1


"Kalau sayang sudah lelah, besok saja kita ke taman bermainnya."


"Besok aku akan mengajakmu ke pacuan kuda," David mulai melajukan mobilnya.


"Ah iya, seorang kenalanku di klinik kecantikan tadi mengajakku untuk pergi ke pacuan kuda bersamanya."


"Siapa?"


"Namanya Sarah An."


David mengerutkan alisnya, "kamu akan pergi denganku."


"Baiklah. Wow, kita jadi ke taman bermain!" sorak Cherry ketika mobil membelok ke arah taman.


David tersenyum melihat Cherry yang begitu gembira dan bersemangat. Entah kepahitan hidup apa saja yang telah ia lalui, saat ini David bertekad ingin membahagiakannya.


***


Cherry melepaskan jas dan dasi yang David kenakan, lalu melipat lengan bajunya hingga ke siku, "oke, kita siap naik roller coster." Cherry menarik tangan David untuk menaiki wahana di taman bermain.


"Roller coster?" David tak percaya Cherry akan mengajaknya menaiki monster panjang yang berputar-putar dengan kecepatan tinggi itu, "kamu berani?"


"Aku belum pernah," Cherry nyengir.


Mereka menghabiskan waktu hingga sore menjelang. Semua wahana ekstrim di tempat bermain telah mereka naiki.


"Mau lagi?" tanya David


"Sayang, sudah. Kepalaku pusing sekali," ucap Cherry setelah merasakan berputar jungkir balik hingga beberapa kali di wahana tornado.


"Baiklah, sudah sore. Kita pulang?"


"Iya. Belikan aku ice cream dulu," ucap Cherry manja.


"Tunggulah di sini." David beranjak dari duduknya di kursi taman. Beberapa saat dia kembali membawakan sebuah ice cream membentuk bunga mawar.


Cherry kagum melihatnya, "indah sekali. Aku tak tega memakannya."



"Makanlah, aku akan memberikan bunga untukmu setiap hari."


Cherry serasa meleleh mendengar kata-kata David yang semanis ice cream di tangannya.


Setelah menghabiskannya, mereka kembali berkendara pulang. Sesampai di rumah, Cherry melemparkan dirinya di ranjangnya yang empuk.


"Gadis jorok, mandi dulu!" perintah David.


"Mmm ..."


"Atau aku akan memandikanmu."


Cherry bergegas berdiri, "baiiiik."


Cherry sudah merasakan kelelahan, saat ini ia hanya ingin segera merebahkan diri. Dengan cepat ia mandi lalu kembali ke ranjangnya yang empuk.


David mendekati Cherry, disisirnya rambut Cherry dengan jarinya, "kamu memberiku harapan palsu." David yang sejak siang menahan keinginannya, kini pun tak mendapat sekedar pelukan dari Cherry yang telah terbuai ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2