Menikahi Duda Kaya

Menikahi Duda Kaya
Bab 19 Galau


__ADS_3

Karena gelisah dan tidak bisa tidur, Cherry memutuskan untuk mencari tahu apa yang sedang David lakukan. Ia keluar dari kamar lalu membuka pintu ruang kerja David, kosong, tak ada siapa pun di sana.


Kemudian ia berjalan menuruni tangga. Lampu sudah dipadamkan, ia berjalan dalam gelap menuju deretan kamar kosong. Terlihat seberkas cahaya di bawah pintu sebuah kamar, Cherry yakin kamar itu yang sedang ditempati adik David. Cherry mendekatinya, menempelkan telinganya di pintu. Ia mencoba mendengarkan sayup-sayup suara percakapan.


"Peluk aku." Terdengar suara perempuan itu begitu manja.


"Tidurlah." kata David.


Cherry berjalan menjauh, tak sanggup lagi untuk mendengarkan. Ia berlari kembali menuju kamarnya, hatinya begitu sakit.


"Adik? Apakah bisa semesra itu dengan seorang adik? Kamu benar-benar telah mempermainkanku." Cherry berbicara pada dirinya sendiri di cermin kamar mandi, "inikah rasanya diduakan?"


Cherry begitu marah, sedih, dan kecewa. Air matanya telah meluncur begitu deras.


"Aku tahu suatu saat kamu akan mencampakkanku. Aku tak mengira secepat ini."


Cherry mengunci diri di dalam kamar mandi hingga beberapa jam lamanya. Ia terus menangis hingga kelelahan dan tertidur di dalam bath tub (tak ada air di dalamnya).


"Tok tok tok." Pintu kamar mandi diketuk, "Cherry, kamu di dalam?" Suara David membangunkan Cherry.


"Ya." Cherry melihat cahaya di yang menandakan hari telah pagi, "aku masih mandi." ucap Cherry membuat alasan, ia tak mau David melihatnya tidur di kamar mandi.


Setelah mandi, Cherry mengenakan bath robesnya dan keluar. David tengah menatapnya, begitu pula Cherry. Dilihatnya David masih mengenakan bath robesnya semalam. Hati Cherry sakit teriris-iris membayangkan apa yang telah mereka lakukan semalam.


Cherry tak memedulikan David, ia mengganti pakaiannya.


"Cherryku ..." David memeluknya dari belakang.


"Aku buru-buru. Ada kuliah pagi hari ini." Cherry menepis tangan David.


David memutar badan Cherry, "kamu marah?"


"Tidak."


"Lalu kenapa mengacuhkanku?"


"Sayang, lepaskan. Aku ada kuliah pagi ini." Cherry memutar badannya, matanya begitu panas, ia tak kuasa menahan air mata yang meluncur tanpa permisi.


"Kamu menangis?" David mengusap air mata Cherry, "ada apa?"


Cherry menghela nafas, ia berusaha menenangkan dirinya, "benarkah dia adikmu?"


"Megan? Kemari, duduklah." David membimbing Cherry duduk di pinggir ranjang, "Megan adalah adik dari mendiang istriku yang telah meninggal beberapa tahun lalu."


"Oh."


"Cherry ... aku tak bisa mengabaikannya. Dia kehilangan kakaknya. Saat ini akulah satu-satunya orang yang bisa ia andalkan."


"Apa orang tuanya sudah meninggal?"

__ADS_1


"Tidak, mereka masih sehat."


"Oh."


"Aku tak suka kamu berkata oh."


"Lalu aku harus berkata apa?" Cherry beranjak dari duduknya, "aku harus segera pergi."


Cherry melanjutkan menyiapkan keperluannya tanpa memedulikan David.


"Cherry, kamu sedang cemburu. Dia hanya kuanggap sebagai adikku sendiri."


"Baiklah, aku berangkat." Cherry pergi meninggalkan David yang masih duduk di ranjang.


***


Kampus masih sepi. Ini masih terlalu pagi. Cherry hanya mencari alasan untuk pergi, ia tak mau melihat mereka berdua bermesraan.


Cherry berjalan keluar kampus. Ia menyusuri trotoar jalan. Dilihatnya di ujung sana sebuah cafe telah buka. Ia ingat jika pagi ini ia belum makan apa pun.


"Aku mau segelas cappucino hangat dan pancake." Cherry memesan makanannya lalu duduk di balkon yang dihiasi berbagai macam tanaman. Dari sini dia bisa mengamati lalu lalang kendaraan di jalan raya.


Ini pertama kalinya ia merasakan duduk di sebuah cafe. Dulu tempat seperti ini tak terjangkau baginya. Uangnya tak akan cukup untuk makan di tempat seperti ini. Tapi sekarang, ia tinggal menggesek kartu yang diberikan oleh David.


"Baiklah, akan kugunakan kartu ini dengan baik sebelum kamu mencampakkanku." gumamnya.


Cherry menikmati sarapannya. Ia berlama-lama duduk di cafe. Memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Benarkan perempuan itu hanya dianggapnya sebagai adik?


Cherry memesan sebuah taxi online untuk mengantarkannya ke pusat perbelanjaan. Ia tak berharap David mengetahui apa yang ia lakukan sekarang. Tapi Cherry tak tahu, semua transaksi yang ia lakukan dengan kartunya, secara otomatis notifikasi pemberitahuan pemakaian kartu akan masuk ke ponsel David. Dan David dengan mudah mengetahui apa yang sedang dilakukan Cherry sekarang.


Cherry berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Ia tak berminat membeli pakaian, David sudah membelikannya cukup banyak. Ia melewati sebuah konter perhiasan, netranya tertarik pada sepasang cincin yang indah.


"Silakan." sambut pramuniaga dengan ramah.


Cherry mengamati sepasang cincin itu.


"Anda bisa mendapatkan ukiran nama Anda di dalamnya."


"Benarkah?" Cherry nampak tertarik, ia melihat harga yang tergantung di sampingnya.


"Harganya lumayan mahal, aku bisa menjualnya untuk makan selama setahun bila suatu saat David mencampakkanku." batin Cherry.


"Baiklah saya beli."


"Anda menginginkan ukiran nama?"


"Ya, Cherry dan David."


"Baik, Nona. Mohon tunggu sebentar."

__ADS_1


Cherry belum memiliki cincin kawin. Saat pernikahannya dulu, David tak memberikannya. Sekarang tiba-tiba saja ia ingin membelinya, dia berpikir mungkin suatu saat ia membutuhkannya.


Suasana hati Cherry sudah membaik. Ia berencana untuk memberikan cincin itu pada David sesampai di rumah. Tapi sekarang ia masih ingin berkeliling di pusat perbelanjaan. Sambil menenteng papper bag yang berisikan sepasang cincin, Cherry mencari sebuah tempat makan. Ia ingin beristirahat.


Tiba-tiba saja ia melihat seseorang yang tak asing lagi di matanya, itu David. Ia sedang bersama Megan di sebuah butik di seberang restoran tempat ia duduk. Dilihatnya Megan yang terus saja menempel di tubuh David. Ia bergelayut manja di lengannya.


Rasa sedih dan kecewa yang dengan susah payah ia hapus, kini kembali menghancurkan pertahanan Cherry. Tapi ia memutuskan untuk tetap duduk dan memperhatikan mereka dari jauh.


"Megan begitu istimewa. Pasti mendiang istrimu sangatlah berharga." Cherry bergumam sendiri sambil memainkan makanan yang terhidang di meja. Nafsu makannya telah hilang.


Beberapa saat kemudian David dan Megan keluar dari butik dengan menenteng banyak kantong belanja. Setelah mereka tak nampak lagi, Cherry membayar semua tagihan lalu pergi. Ia tak tahu lagi harus ke mana, perasaannya kacau.


Kemudian Cherry memutuskan untuk pulang dengan menaiki taxi online. Saat ia sampai di rumah, ia melihat ada seorang tamu yang tengah duduk di sofa.


Cherry berencana menemuinya untuk memberi salam saja, lalu bergegas menuju kamarnya. Tapi ternyata tamu tersebut mengajaknya berbincang-bincang.


"Duduklah, katakan siapa namamu." ucap wanita yang ia taksir berumur sekitar 60 tahunan tapi masih terlihat cantik.


"Saya Cherry." Cherry duduk di sebelahnya.


"Apakah kamu istri David?"


Cherry terkejut mendengar pertanyaan itu karena tak banyak yang tahu tentang siapa dirinya, "iya, Nyonya."


"Dasar, David. Berani-beraninya dia menikah tanpa memberitahuku." ucapnya kesal, tapi kemudian wajahnya melunak, "jangan panggil aku nyonya, panggil mama."


"Apakah Anda? Ah, maafkan saya." Cherry nampak salah tingkah.


"Tidak, jangan minta maaf. Aku tahu kamu anak yang baik." ucapnya ramah.


Sebelum datang kemari, Nyonya besar Chuay telah mendapatkan informasi tentang Cherry. Ia merasa kesal karena David tak kunjung membawanya ke rumah besar keluarga Chuay di kota M. Maka dari itu ia memutuskan kemari tanpa sepengetahuan David.


"Nyonya besar, makan siang sudah siap." Mia telah mempersiapkan makan siang yang sedikit terlambat untuk mama David.


"Cherry, kamu sudah makan?"


Saat ini Cherry merasa lapar karena ia tak menyentuh makan siangnya tadi, "belum."


"Kita makan bersama."


"Baik, Ma."


Kemudian mereka berdua makan siang bersama dan berbincang-bincang banyak hal. Mama David adalah orang yang ramah dan lemah lembut, kepribadiannya benar-benar jauh dari David. Cherry menemani mama David hingga tiba lagi waktu makan malam.


"Kenapa David belum pulang juga?" Mama David nampak kesal.


"Mungkin masih ada pekerjaan di kantor, Ma." Cherry mencoba menenangkan, tak mungkin ia mengatakan bila David sedang bersenang-senang dengan gadis lain.


Suara tawa riang seorang gadis terdengar di luar, kemudian nampak Megan sedang bergelayut mesra di lengan David.

__ADS_1


"Mama, kapan mama tiba?"


Mama David tak menghiraukannya, ia justru terkejut melihat gadis di sebelah David, "Rachel?"


__ADS_2